PADANG — Potensi pasar ikan kerapu di Sumatera Barat (Sumbar) belum tergarap maksimal. Tingginya tingkat kematian ikan sebelum panen yang mencapai 50 persen menjadi salah satu persoalan yang perlu dibenahi, terutama melalui penguatan kapasitas kelompok pembudidaya.
Ketua kelompok pembudidaya, Dasril, mengatakannya saat Ketua DPRD Sumbar Muhidi menyerahkan bantuan 2.565 benih ikan kerapu beserta pakan kepada kelompok nelayan di Teluk Buo, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Sabtu (13/9).
Diketahui bahwa peluang pasar kerapu telah terlihat dari permintaan ekspor. Pada 2023, permintaan pengiriman kerapu dari Sumbar ke Hong Kong mencapai sekitar 25 ton. Namun, pembudidaya lokal saat itu baru mampu memenuhi sekitar 15 persen
Muhidi mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong penguatan ekonomi masyarakat, khususnya kelompok nelayan dan pembudidaya ikan.
Menurutnya, penyerahan bantuan tidak hanya ditujukan untuk menambah jumlah benih yang dibudidayakan. DPRD Sumbar juga ingin melihat secara langsung kondisi serta kebutuhan kelompok nelayan sehingga dukungan yang diberikan dapat lebih sesuai dengan persoalan yang mereka hadapi.
“Bantuan ini diharapkan tidak hanya membuat usaha budidaya kerapu semakin berkembang, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat,” kata Muhidi.
Ia berharap kelompok penerima dapat memanfaatkan benih dan pakan tersebut secara optimal sehingga menghasilkan produksi yang berkelanjutan.
Dengan produksi yang semakin baik, peluang pasar kerapu di dalam maupun luar daerah diharapkan dapat dimanfaatkan lebih maksimal.
Sementara itu Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatera Barat Resi Suriati mengatakan, target kita tentu bagaimana budidaya ini bisa berhasil sampai panen dengan tingkat kematian ikan seminimal mungkin.
Memang, dalam budidaya kerapu tingkat mortalitas biasanya berada di kisaran 30 hingga 50 persen, sehingga diperlukan perawatan dan pengelolaan yang cukup intensif.
Budidaya kerapu membutuhkan kesabaran karena karakteristiknya berbeda dengan ikan lain seperti lele atau nila. Kerapu lebih sensitif sehingga membutuhkan perhatian dan penjagaan yang lebih intensif. Namun, di sisi lain, ikan kerapu memiliki nilai jual yang cukup tinggi sehingga sangat potensial untuk dikembangkan. Kita berharap kegiatan ini memberikan hasil yang baik bagi kelompok dan ke depan dapat dilanjutkan secara mandiri.










Discussion about this post