Selasa, 16/6/26 | 03:06 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Minggu, 24/5/26 | 18:09 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra
(Guru SMA 1 Ranah Pesisir, Pesisir Selatan)

 

Pesisir Selatan merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Barat. Kabupaten ini dikenal dengan keindahan alam dan wisatanya. Wilayahnya membentang di sepanjang pantai barat yang memiliki kekayaan laut melimpah. Kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan bibir pantai sehingga menjadikan laut dan muara sebagai sumber penghidupan, budaya, dan kreativitas lahirnya makanan khas.

BACAJUGA

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB
Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Di Pesisir Selatan, sejak dahulu, sumber daya laut dan muara dimanfaatkan oleh masyarakat. Salah satu hewan di muara yang sering diburu dan dijadikan sebagai makanan khas Pesisir Selatan adalah lokan. Lokan sangat mudah ditemukan di daerah pesisir, yaitu ketika air laut sedang surut.  Bagi masyarakat pesisir, lokan menjadi bahan pangan yang telah lama dimanfaatkan secara turun-temurun oleh masyarakat.

Sebagai warisan budaya yang menyimpan kisah perjuangan, kreativitas, dan cinta masyarakat pesisir terhadap tanah kelahirannya, konon, eksitensi rendang lokan di Pesisir Selatan bermula sejak berabad yang lalu ketika para laki-laki di Pesisir Selatan pergi melaut dan merantau hingga berbulan-bulan lamanya. Para perempuan yang ditinggalkan di rumah harus memikirkan cara menyediakan makanan yang bergizi untuk keluarga dengan bahan yang ada di sekitar mereka. Dari sinilah bermula kreativitas para bundo kanduang dan ibu-ibu bijak di Pesisir Selatan. Mereka mulai bereksperimen mengolah lokan dengan menggunakan bumbu-bumbu khas Minangkabau. Percobaan demi percobaan terus dilakukan hingga para bundo kanduang menemukan resep dan teknik memasak yang tepat digunakan—yang kemudian diterima luas oleh masyarakat Pesisir Selatan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) VI, lokan diartikan ‘kerang yang memiliki panjang mencapai 10 cm, berwarna abu kehitaman, hidup di air payau dan rawa bakau hampir tawar, biasa dikosumsi di Asia, tersebar di Indo-Pasifik Barat’.  Dengan demikian, lokan merupakan sejenis kerang yang hidup di muara, terutama di perairan dangkal dan berlumpur. Lokan memiliki daging yang tebal, kenyal, dan rasa yang gurih alami. Nama latin dari lokan adalah geloina expansa.

Lokan dipercaya oleh masyarakat Pesisir Selatan kaya manfaat. Lokan menjadi bahan makanan khas masyarakat Pesisir Selatan karena mudah didapat dan diolah. Selain itu, lokan dipercaya sebagai sumber protein sekaligus mencegah anemia dan meningkatkan kesuburan  pria. Umumnya, rendang diidentik dengan daging, seperti daging sapi, ayam, atau paru.  Akan tetapi, masyarakat Pesisir Selatan memiliki inovasi tersendiri dengan menggunakan lokan sebagai bahan utama dalam pembuatan rendang.

Penggunaan lokan dalam rendang menciptakan cita rasa yang khas dan unik. Dalam pembuatan rendang lokan, bahan utama yang digunakan, yaitu lokan, pakis, daun mangkok, daun salam, daun jeruk, daun kunyit, santan kelapa, dan asam kandis. Sementara itu, bumbu-bumbu yang digunakan, yaitu cabai merah, bawang merah, bawang putih, lengkuas, kunyit, jahe, serai, ketumbar, pala, kelapa sangrai, dan garam. Perpaduan bumbu inilah yang menghasilkan rasa rendang yang kaya, pedas, dan harum khas Minangkabau.

Proses pembuatan rendang lokan dimulai dengan membersihkan lokan dan mencucinya hingga benar-benar bersih. Selanjutnya, santan dimasak bersama bumbu halus hingga mendidih. Setelah itu, pakis dimasukkan ke dalam masakan. Proses memasak rendang lokan dilakukan dengan menggunakan api yang sedang. Memasak rendang biasanya membutuhkan waktu sekitar 3—5 jam hingga santan mengering dan bumbu meresep sempurna ke dalam daging. Bentuk rendang lokan yang sudah matang ditandai dengan perubahan warna menjadi coklat kehitaman. Selain itu ditandai dengan tekstur yang kering dan aroma rempah yang kuat.

Rendang lokan biasanya disajikan dalam berbagai kesempatan penting di tengah masyarakat Pesisir Selatan. Di rumah makan, rendang lokan menjadi menu khas yang siap disajikan bersama nasi hangat, sedangkan sambal dan lauk hanya sebagai pelengkap hidangan untuk mengunggah selera. Dalam acara komunal, seperti baralek atau pesta pernikahan dan turun mandi bayi, rendang lokan disajikan sebagai bagian dari hidangan istimewa untuk tamu. Kehadiran rendang lokan melambangkan penghormatan kepada tamu serta kekayaan kuliner daerah. Kemudian, rendang lokan juga sebagai simbol keramahan dan kehangatan masyarakat Pesisir Selatan.

Selain itu, dalam acara tradisi dan kegiatan adat, rendang lokan juga menjadi sajian penting yang mencerminkan kebersamaan dan nilai gotong royong masyarakat. Penyajian dilakukan dalam jumlah besar menggunakan wadah tradisional dan menikmati kebersamaan yang memperkuat rasa kekeluargaan. Hingga kini, rendang lokan telah menjadi salah satu usaha andalan masyarakat Pesisir Selatan. Usaha ini tidak hanya dijalankan dalam industri rumahan, tetapi telah berkembang menjadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penjualan kini tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga dilakukan dengan sistem daring. Bahkan, pesanan yang datang tidak hanya dari dalam negeri, melainkan juga dari luar negeri. Oleh karena itu, rendang lokan tidak hanya sekadar makanan, tetapi merupakan hasil dari kearifan lokal masyarakat Pesisir Selatan dalam memanfaatkan sumber daya alam. Penggunaan lokan sebagai bahan utama menunjukkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan pesisir serta kemampuan mereka dalam mengolah hasil alam menjadi hidangan bernilai tinggi.

Di balik kelezatannya, rendang lokan mengandung makna kebersamaan, kesabaran, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, melestarikan rendang lokan berarti menjaga identitas budaya Minangkabau agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Tags: #Yori Leo Saputra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Roni Aprianto Terpilih Aklamasi Jadi Ketua PWI Dharmasraya Periode 2026-2029

Berita Sesudah

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Berita Terkait

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Batu dan Zaman

Memakanai Ulang Kata “Kecubung” dalam Dongeng

Minggu, 14/6/26 | 21:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kecubung (Datura metel) merupakan sejenis tumbuhan dengan bunga...

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Masyarakat Punya Peran Besar Majukan Olahraga di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Cahaya Cinta di Tanah Palestina” Karya Muttaqin Kholis Ali dan Ulasannya oleh Azwar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Annisa Harapkan Sinergi Baru di Pelantikan PC PMII Dharmasraya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026