Minggu, 12/4/26 | 21:07 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun dalam kenyataannya aktivitas ini tidak selalu sesederhana yang terlihat. Ada kalanya seseorang memutuskan untuk memotong rambut bukan hanya karena alasan praktis, melainkan karena dorongan batin yang sulit dijelaskan.

Dalam proses yang singkat itu, terjadi perubahan yang tidak hanya tampak pada penampilan, tetapi juga pada perasaan dan cara seseorang memaknai dirinya sendiri. Di beberapa kesempatan, saya juga berada dalam keadaan yang serupa, di antara keinginan untuk membiarkan semuanya tetap seperti biasa dan dorongan halus untuk melakukan perubahan. Keputusan untuk memotong rambut tidak pernah benar benar datang dengan keyakinan penuh, melainkan melalui kebimbangan yang perlahan menguat.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Di sisi lain, ada kalanya saya datang ke tempat pangkas rambut tanpa niat yang benar-benar kuat untuk memotong rambut. Alasan yang lebih jujur justru sederhana, yakni keinginan untuk merasakan pijatan di kepala dan bahu yang ditawarkan sebagai bagian dari layanan. Sensasi pijatan itu sering kali menjadi bagian yang paling saya tunggu, karena mampu meredakan lelah yang diam diam menumpuk.

Dalam keadaan seperti itu, potong rambut hanya menjadi pelengkap agar saya memiliki alasan untuk duduk lebih lama. Bahkan terkadang saya lebih memilih pijatnya saja sementara rambut tetap seperti semula. Namun pada akhirnya gunting tetap bekerja dan saya pulang dengan potongan baru yang tidak selalu direncanakan.

Di sisi lain, potong rambut juga menghadirkan pengalaman sosial yang hangat dan bermakna. Percakapan ringan, candaan sederhana, atau bahkan suasana diam yang nyaman menjadi bagian dari proses yang berlangsung alami. Dalam momen tersebut, tukang cukur hadir tidak hanya sebagai profesional yang terampil, tetapi juga sebagai pendengar yang memberi ruang bagi cerita cerita singkat.

Yang jarang disadari, potong rambut menyimpan paradoks tentang kendali dan kepercayaan. Kita terbiasa mengatur banyak hal, tetapi di kursi tukang cukur kita justru menyerahkan sebagian kendali. Kita hanya memberi gambaran singkat, lalu membiarkan hasilnya terbentuk. Dari situ muncul pelajaran sederhana bahwa tidak semua hal harus dipastikan sejak awal. Perubahan sering hadir dari keputusan yang setengah ragu. Dan justru di situlah makna kecil itu ditemukan.

Pada akhirnya, potong rambut tetap menjadi hal sederhana yang menyenangkan. Kita datang dengan berbagai alasan, kadang karena perlu, kadang karena ingin, dan kadang hanya untuk duduk santai sejenak. Kita pulang dengan rambut lebih rapi dan kepala terasa ringan. Ada juga cerita kecil yang ikut terbawa. Dan meskipun awalnya hanya ingin pijat, hasil potongannya tetap kita terima dengan senyum.

ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

POPULER

  • Pemerintah Perkuat Diplomasi Terkait Travel Warning Korea Selatan untuk Bali

    Pemerintah Perkuat Diplomasi Terkait Travel Warning Korea Selatan untuk Bali

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BK DPRD Sumbar Perkuat Disiplin Anggota, Kehadiran dan Etika Berpakaian Jadi Sorotan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Maigus Nasir Resmi Lepas Peserta Grand Launching BOM Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Sumbar Minta Kepala Daerah Inovatif di Tengah Tekanan Fiskal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026