
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun dalam kenyataannya aktivitas ini tidak selalu sesederhana yang terlihat. Ada kalanya seseorang memutuskan untuk memotong rambut bukan hanya karena alasan praktis, melainkan karena dorongan batin yang sulit dijelaskan.
Dalam proses yang singkat itu, terjadi perubahan yang tidak hanya tampak pada penampilan, tetapi juga pada perasaan dan cara seseorang memaknai dirinya sendiri. Di beberapa kesempatan, saya juga berada dalam keadaan yang serupa, di antara keinginan untuk membiarkan semuanya tetap seperti biasa dan dorongan halus untuk melakukan perubahan. Keputusan untuk memotong rambut tidak pernah benar benar datang dengan keyakinan penuh, melainkan melalui kebimbangan yang perlahan menguat.
Di sisi lain, ada kalanya saya datang ke tempat pangkas rambut tanpa niat yang benar-benar kuat untuk memotong rambut. Alasan yang lebih jujur justru sederhana, yakni keinginan untuk merasakan pijatan di kepala dan bahu yang ditawarkan sebagai bagian dari layanan. Sensasi pijatan itu sering kali menjadi bagian yang paling saya tunggu, karena mampu meredakan lelah yang diam diam menumpuk.
Dalam keadaan seperti itu, potong rambut hanya menjadi pelengkap agar saya memiliki alasan untuk duduk lebih lama. Bahkan terkadang saya lebih memilih pijatnya saja sementara rambut tetap seperti semula. Namun pada akhirnya gunting tetap bekerja dan saya pulang dengan potongan baru yang tidak selalu direncanakan.
Di sisi lain, potong rambut juga menghadirkan pengalaman sosial yang hangat dan bermakna. Percakapan ringan, candaan sederhana, atau bahkan suasana diam yang nyaman menjadi bagian dari proses yang berlangsung alami. Dalam momen tersebut, tukang cukur hadir tidak hanya sebagai profesional yang terampil, tetapi juga sebagai pendengar yang memberi ruang bagi cerita cerita singkat.
Yang jarang disadari, potong rambut menyimpan paradoks tentang kendali dan kepercayaan. Kita terbiasa mengatur banyak hal, tetapi di kursi tukang cukur kita justru menyerahkan sebagian kendali. Kita hanya memberi gambaran singkat, lalu membiarkan hasilnya terbentuk. Dari situ muncul pelajaran sederhana bahwa tidak semua hal harus dipastikan sejak awal. Perubahan sering hadir dari keputusan yang setengah ragu. Dan justru di situlah makna kecil itu ditemukan.
Pada akhirnya, potong rambut tetap menjadi hal sederhana yang menyenangkan. Kita datang dengan berbagai alasan, kadang karena perlu, kadang karena ingin, dan kadang hanya untuk duduk santai sejenak. Kita pulang dengan rambut lebih rapi dan kepala terasa ringan. Ada juga cerita kecil yang ikut terbawa. Dan meskipun awalnya hanya ingin pijat, hasil potongannya tetap kita terima dengan senyum.



