Kamis, 23/7/26 | 01:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kekacauan dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

Minggu, 25/5/25 | 13:01 WIB

Oleh:  Queendi Kumala
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)

GILA! Bukan karena film ini adalah suatu masterpiece, tetapi semua adegan kegilaan yang berlimpah dalam setiap adegan film “Pengepungan di Bukit Duri”. Film yang disutradai oleh Joko Anwar (Jokan) dan diproduksi Amazon MGM Studio, serta Come and See Pictures ini dirilis tanggal 17 April 2025. Pada hari pertama rilis, film ini tembus 71 ribu penonton dan dalam 10 hari sudah tembus 1 juta penonton. Hal tersebut menjadi bukti kesuksesan dalam dunia perfilman Joko Anwar sebesar 42,8% dibanding dengan film Jokan lainnya. Film ini juga menjadi dobrakan segar saat perfilman Indonesia hanya berputar di genre horor.

Film “Pengepungan di Bukit Duri” dibuka dengan latar pada tahun 2009 yang memperlihatkan suasana ceria anak sekolah menengah pertama yang kala itu sedang jam istirahat. Berlatar musik Guruku Tersayang semakin menambah kesan hangat anak sekolahan pada adegan tersebut. Suasana film kemudian berganti menjadi menegangkan kala bel sekolah berbunyi. Jam sekolah terpaksa diberhentikan karena terdapat kericuhan antara pribumi melawan etnis Tionghoa yang sedang berlangsung yang membuat Edwin remaja (Theo Camillo) dan kakaknya, Silvi (Sheila Kusnadi) segera bergegas untuk pulang. Akan tetapi, naas keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Silvi diperkosa oleh segerombolan pribumi, sedangkan Edwin dipukul habis-habisan hingga tak sadarkan diri. Tidak sampai di situ, orang tua mereka juga dibakar hidup-hidup di dalam toko.

Layar menghitam menunjukkan judul “Pengepungan di Bukit Duri”, dilanjutkan penggambaran suram tahun 2027 setelah 18 tahun terlewat sejak kejadian itu. Keadaan Indonesia semakin memburuk. Kerusuhan rasial terhadap etmis Tionghoa semakin menjadi di mana-mana. Edwin dewasa (Morgan Oey) melamar pekerjaan menjadi seorang guru di sekolah menengah atas bernama SMA Duri. Pelamaran kerja tersebut Edwin lakukan demi sebuah janji yang ia terima dari Silvi sebelum meninggal, yaitu mencari anak hasil pemerkosaan Silvi yang diambil oleh pribumi. Mulai dari sinilah, jalan cerita film “Pengepungan di Bukit Duri” benar-benar ‘berjalan’. Di SMA Duri Edwin bertemu dengan Diana (Hana Malasan) seorang guru bimbingan konseling, Khristo (Endy Arfian) siswa paling baik dalam kelas, dan Jefri (Omara Esteghlal) si berandal di sekolah.

Selama menonton film “Pengepungan di Bukit Duri”, penulis merasa dejavu dengan suasana film “Elysium” ketika Edwin berjalan di antara siswa-siswi berandalan di lorong sekolah. Suasana ramai serta intimidasi terhadap pemeran utama semakin menambah kesan kebencian terhadap etnis Tionghoa. Penggunaan latar musik yang juga rata-rata bergenre hardcore metalik memperkuat kenakalan remaja pada setiap adegan di kelas, Jefri dan rombongan disorot. Penulis sedari dulu selalu kagum dengan pemilihan pemain film yang dilakukan Jokan walaupun pemainnya itu-itu saja yang membuat jenuh. Akan tetapi, ikatan antarpemain membangun suasana yang natural dalam film. Ciri khas film Jokan yang langsung dapat dikenali dari point of view penonton adalah bumbu teka-teki, dalam pertengahan film“Pengepungan di Bukit Duri” yaitu sengaja mengecoh penonton dengan salah menargetkan orang yang dicari oleh Edwin. Elemen kebajikan tidak luput dihadirkan Jokan pada karakter Diana, Panca (Emir Mahira), dan anak kecil yang membantu etnis Tionghoa terkurung dalam ruang sempit diperlihatkan saat menuju ending film.

BACAJUGA

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB
Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Namun, terdapat banyak kekurangan yang diperlihatkan dalam film “Pengepungan di Bukit Duri” di mana selama durasi 1 jam 58 menit tersebut banyak kekosongan tanpa penjelasan rinci tiap adegan dan pemotongan mendadak adegan kembali ke masa lalu. Hal ini apakah menjadi sebuah gebrakan baru Jokan ataupun kesengajaan Jokan yang malas untuk menjelaskan sebab-akibat dari beberapa cuplikan. Pergantian adegan yang tiba-tiba sedikit membingungkan. Tidak seperti beberapa film yang disutradarai Jokan sebelumnya. Saat adegan Edwin tengah menyendiri di bar, tiba-tiba langsung beralih ketika Edwin menghampiri kakaknya di rumah sakit. Penulis kira adegan tersebut merupakan lanjutan dari apa yang akan Edwin lakukan, tetapi potongan itu ternyata kilas balik alasan Edwin menjadi guru di SMA Duri.

Penonjolan pemain perempuan di bar Pecinan, Vera (Shindy Huang) dan Diana memang sempat menunjukkan gesekan keromantisan terhadap pemain utama. Penulis sempat berharap terhadap Vera, ia akan membantu Edwin kala pengepungam oleh rombongan Jefri. Sayangnya, harapan tersebut lupus karena tidak ada lagi kemunculan Vera mendampingi Edwin. Padahal, karakter Vera tersebut bisa dijadikan potensi sebagai sesama etnis Tionghoa untuk saling membantu. Malah, Diana yang notabene seorang pribumi selalu berada di samping Edwin dan membantu Edwin keluar dari kejaran rombongan Jefri.

Berlangsungnya film “Pengepungan di Bukit Duri” dengan penceritaan yang berani mengambil sejarah Tragedi 98 membuat potensi film untuk mencuri perhatian warga Indonesia sangat besar, tetapi kopong akibat kurangnya penghalusan alur film yang disajikan Jokan. Sebuah plotwist  yang ingin disajikan Jokan kepada penonton sudah bisa tertebak pada pertengahan film “Pengepungan di Bukit Duri”. Awal-awal Jokan mengarahkan Krishto sehingga penonton beranggapan bahwa ia adalah anak dari Silvi dan setelah diikuti hingga ke tengah alur film, Krishto bukanlah anak yang dicari-cari Silvi dan Edwin. Penyerangan yang selalu Jefri lakukan tidak ada penjelasan alasan yang kuat sehingga hanya terlihat seperti orang gila yang hanya mengisi film aksi pembunuhan dengan darah muncrat di mana-mana agar film tersebut tidak sepi dibuat.

Jika dibandingkan dengan karya film yang sudah Jokan buat sebelum-sebelumnya, film “Pengepungan di Bukit Duri” memang bisa dikatakan cukup bagus mengangkat hal sensitif terlebih di Indonesia, tetapi sangat kurang untuk bagian pengaluran dan pemunculan karakter-karakter. Untuk pemunculan karakter, alangkah bagusnya Jokan kalau diirinya bisa menempatkan karakter-karakter film “Pengepungan di Bukit Duri” di posisi yang berkaitan dan berkesinambungan dalam film.

Tags: #Queendi Kumala
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Anggota DPRD Kota Padang, Yosrizal Minta Solusi Humanis Usai Bentrokan Satpol PP dan PKL di Permindo

Berita Sesudah

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

Berita Terkait

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial...

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB

Oleh: Minas Salihin Iskandar (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB Universitas Andalas) Bayangkan toko kelontong kecil di sudut jalan. Dulu, toko itu...

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Oleh : Hazizah Jafitra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Penggunaan bahasa bukan hanya sebatas berfungsi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Mantra Dunia Bocah, Analisis Stilistika Cerita “Ciku Si Penyihir Cilik”

Senin, 13/7/26 | 07:19 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti (Mahasiswa Sastra Indonesia  FIB Universitas Andalas)   Apa jadinya kalau matematika yang rumit harus bertarung melawan...

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Berita Sesudah
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Suluh Jo Siampa” Karya Linda Tanjung dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hierarki Satuan Kebahasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Resmi Lantik Pengurus DPC se-Indonesia, Ribuan Kader Ucapkan Sumpah Jabatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026