Sabtu, 24/10/26 | 23:44 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kekacauan dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

Minggu, 25/5/25 | 13:01 WIB

Oleh:  Queendi Kumala
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)

GILA! Bukan karena film ini adalah suatu masterpiece, tetapi semua adegan kegilaan yang berlimpah dalam setiap adegan film “Pengepungan di Bukit Duri”. Film yang disutradai oleh Joko Anwar (Jokan) dan diproduksi Amazon MGM Studio, serta Come and See Pictures ini dirilis tanggal 17 April 2025. Pada hari pertama rilis, film ini tembus 71 ribu penonton dan dalam 10 hari sudah tembus 1 juta penonton. Hal tersebut menjadi bukti kesuksesan dalam dunia perfilman Joko Anwar sebesar 42,8% dibanding dengan film Jokan lainnya. Film ini juga menjadi dobrakan segar saat perfilman Indonesia hanya berputar di genre horor.

Film “Pengepungan di Bukit Duri” dibuka dengan latar pada tahun 2009 yang memperlihatkan suasana ceria anak sekolah menengah pertama yang kala itu sedang jam istirahat. Berlatar musik Guruku Tersayang semakin menambah kesan hangat anak sekolahan pada adegan tersebut. Suasana film kemudian berganti menjadi menegangkan kala bel sekolah berbunyi. Jam sekolah terpaksa diberhentikan karena terdapat kericuhan antara pribumi melawan etnis Tionghoa yang sedang berlangsung yang membuat Edwin remaja (Theo Camillo) dan kakaknya, Silvi (Sheila Kusnadi) segera bergegas untuk pulang. Akan tetapi, naas keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Silvi diperkosa oleh segerombolan pribumi, sedangkan Edwin dipukul habis-habisan hingga tak sadarkan diri. Tidak sampai di situ, orang tua mereka juga dibakar hidup-hidup di dalam toko.

Layar menghitam menunjukkan judul “Pengepungan di Bukit Duri”, dilanjutkan penggambaran suram tahun 2027 setelah 18 tahun terlewat sejak kejadian itu. Keadaan Indonesia semakin memburuk. Kerusuhan rasial terhadap etmis Tionghoa semakin menjadi di mana-mana. Edwin dewasa (Morgan Oey) melamar pekerjaan menjadi seorang guru di sekolah menengah atas bernama SMA Duri. Pelamaran kerja tersebut Edwin lakukan demi sebuah janji yang ia terima dari Silvi sebelum meninggal, yaitu mencari anak hasil pemerkosaan Silvi yang diambil oleh pribumi. Mulai dari sinilah, jalan cerita film “Pengepungan di Bukit Duri” benar-benar ‘berjalan’. Di SMA Duri Edwin bertemu dengan Diana (Hana Malasan) seorang guru bimbingan konseling, Khristo (Endy Arfian) siswa paling baik dalam kelas, dan Jefri (Omara Esteghlal) si berandal di sekolah.

Selama menonton film “Pengepungan di Bukit Duri”, penulis merasa dejavu dengan suasana film “Elysium” ketika Edwin berjalan di antara siswa-siswi berandalan di lorong sekolah. Suasana ramai serta intimidasi terhadap pemeran utama semakin menambah kesan kebencian terhadap etnis Tionghoa. Penggunaan latar musik yang juga rata-rata bergenre hardcore metalik memperkuat kenakalan remaja pada setiap adegan di kelas, Jefri dan rombongan disorot. Penulis sedari dulu selalu kagum dengan pemilihan pemain film yang dilakukan Jokan walaupun pemainnya itu-itu saja yang membuat jenuh. Akan tetapi, ikatan antarpemain membangun suasana yang natural dalam film. Ciri khas film Jokan yang langsung dapat dikenali dari point of view penonton adalah bumbu teka-teki, dalam pertengahan film“Pengepungan di Bukit Duri” yaitu sengaja mengecoh penonton dengan salah menargetkan orang yang dicari oleh Edwin. Elemen kebajikan tidak luput dihadirkan Jokan pada karakter Diana, Panca (Emir Mahira), dan anak kecil yang membantu etnis Tionghoa terkurung dalam ruang sempit diperlihatkan saat menuju ending film.

BACAJUGA

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB
Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Namun, terdapat banyak kekurangan yang diperlihatkan dalam film “Pengepungan di Bukit Duri” di mana selama durasi 1 jam 58 menit tersebut banyak kekosongan tanpa penjelasan rinci tiap adegan dan pemotongan mendadak adegan kembali ke masa lalu. Hal ini apakah menjadi sebuah gebrakan baru Jokan ataupun kesengajaan Jokan yang malas untuk menjelaskan sebab-akibat dari beberapa cuplikan. Pergantian adegan yang tiba-tiba sedikit membingungkan. Tidak seperti beberapa film yang disutradarai Jokan sebelumnya. Saat adegan Edwin tengah menyendiri di bar, tiba-tiba langsung beralih ketika Edwin menghampiri kakaknya di rumah sakit. Penulis kira adegan tersebut merupakan lanjutan dari apa yang akan Edwin lakukan, tetapi potongan itu ternyata kilas balik alasan Edwin menjadi guru di SMA Duri.

Penonjolan pemain perempuan di bar Pecinan, Vera (Shindy Huang) dan Diana memang sempat menunjukkan gesekan keromantisan terhadap pemain utama. Penulis sempat berharap terhadap Vera, ia akan membantu Edwin kala pengepungam oleh rombongan Jefri. Sayangnya, harapan tersebut lupus karena tidak ada lagi kemunculan Vera mendampingi Edwin. Padahal, karakter Vera tersebut bisa dijadikan potensi sebagai sesama etnis Tionghoa untuk saling membantu. Malah, Diana yang notabene seorang pribumi selalu berada di samping Edwin dan membantu Edwin keluar dari kejaran rombongan Jefri.

Berlangsungnya film “Pengepungan di Bukit Duri” dengan penceritaan yang berani mengambil sejarah Tragedi 98 membuat potensi film untuk mencuri perhatian warga Indonesia sangat besar, tetapi kopong akibat kurangnya penghalusan alur film yang disajikan Jokan. Sebuah plotwist  yang ingin disajikan Jokan kepada penonton sudah bisa tertebak pada pertengahan film “Pengepungan di Bukit Duri”. Awal-awal Jokan mengarahkan Krishto sehingga penonton beranggapan bahwa ia adalah anak dari Silvi dan setelah diikuti hingga ke tengah alur film, Krishto bukanlah anak yang dicari-cari Silvi dan Edwin. Penyerangan yang selalu Jefri lakukan tidak ada penjelasan alasan yang kuat sehingga hanya terlihat seperti orang gila yang hanya mengisi film aksi pembunuhan dengan darah muncrat di mana-mana agar film tersebut tidak sepi dibuat.

Jika dibandingkan dengan karya film yang sudah Jokan buat sebelum-sebelumnya, film “Pengepungan di Bukit Duri” memang bisa dikatakan cukup bagus mengangkat hal sensitif terlebih di Indonesia, tetapi sangat kurang untuk bagian pengaluran dan pemunculan karakter-karakter. Untuk pemunculan karakter, alangkah bagusnya Jokan kalau diirinya bisa menempatkan karakter-karakter film “Pengepungan di Bukit Duri” di posisi yang berkaitan dan berkesinambungan dalam film.

Tags: #Queendi Kumala
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Anggota DPRD Kota Padang, Yosrizal Minta Solusi Humanis Usai Bentrokan Satpol PP dan PKL di Permindo

Berita Sesudah

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

Berita Terkait

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Membedah Luka Anak Rantau dalam Lagu “Sesi Potret”

Minggu, 18/10/26 | 15:52 WIB

Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu...

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Kabut Regulasi: UU ITE Berubah, Tetapi Apakah Publik Benar-Benar Memahaminya?

Selasa, 13/10/26 | 18:50 WIB

Taufiq Muhammad Akbar ‎Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas (UNAND) Undang-undang berubah, Pasal diperbaiki, Ancaman pidana disesuaikan, Istilah hukum diperbarui. Tetapi...

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Berita Sesudah
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

POPULER

  • Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Apresiasi Kontribusi Alumni IKIP Padang/UNP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Kongres XX IPPNU, Ketum PP IPPNU Sumbar Tri Ramadhani Siap Maju Caketum PP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026