Jumat, 17/4/26 | 08:47 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

Minggu, 25/5/25 | 13:50 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

Seorang teman pernah berujar tentang urgensi dari jam tangan. Ia menjelaskan tentang benda kecil yang melingkar di pergelangan itu, bisa mengindetifikasi siapa, dari mana, dan hendak kemana si yang punya pergi. Tentu saja itu bagian dari kemajuan teknologi informasi. Tidak dapat dipungkiri, saat ini jam tangan bukan semata fungsinya sebagai penunjuk waktu, tapi karena ia menyimpan identitas, prestise, dan kadang, makna adat yang tak terucap.

Dalam lanskap gaya hidup modern yang serba cepat dan visual, jam tangan telah bertransformasi menjadi pernyataan personal. Ia tak lagi sekadar alat bantu, melainkan aksesoris yang dipilih dengan pertimbangan estetika, fungsionalitas, dan citra diri. Generasi kini yang akrab dengan ritme multitasking, menjadikan jam tangan sebagai penanda profesionalisme sekaligus selera.

Tidak salah juga sekiranya ada pendapat yang menyatakan bahwa mengenakan smartwatch dengan desain minimalis sering diasosiasikan dengan produktivitas dan efisiensi, sementara mereka yang setia pada jam analog biasanya diasosiasikan dengan ketenangan, keanggunan, dan kecermatan. Bahkan pilihan untuk tidak memakai jam tangan pun bisa dibaca sebagai simbol kebebasan dari tekanan waktu, atau gaya hidup yang lebih santai dan lepas.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Sebagian kita fokus untuk menyakan waktu, sebagian justru memakai jam tangan untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendalam, “Saya sedang menjadi siapa hari ini?”. Bayangkan seorang pelajar yang setiap hari memakai smartwatch, bukan hanya untuk melihat waktu, tapi juga untuk melacak aktivitas harian seperti jumlah langkah, kualitas tidur, bahkan notifikasi tugas yang harus segera diselesaikan.

Jam tangan itu menjadi semacam asisten pribadi yang membantunya tetap fokus dan teratur di tengah tumpukan tugas dan deadline. Sementara itu, ada anak muda lain yang memilih jam tangan analog, sebagai cara mengekspresikan gaya dan kecintaannya pada hal-hal klasik di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Jam tangan bagi mereka bukan sekadar penunjuk waktu, tapi juga cara menunjukkan siapa mereka, apakah si pecinta teknologi yang dinamis, atau si penggemar gaya retro yang santai.

Ironisnya, di balik segala kecanggihan dan simbolisme yang melekat, jam tangan justru mengajarkan kita satu hal sederhana tapi sering terlupa: waktu itu bukan hanya soal angka atau detik yang terus berdetak. Jam tangan, dalam keheningan kecilnya, menantang kita untuk berhenti sejenak, untuk bertanya bukan “berapa lama lagi?”, tapi “apa yang benar-benar berarti?”. Pada akhirnya, bukan jam di pergelangan yang mengatur hidup, melainkan bagaimana kita memilih untuk mengisi setiap detik yang berjalan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kekacauan dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

Berita Sesudah

Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

POPULER

  • Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah! Dharmasraya Gelar CFD dan Bazaar UMKM 18–19 April

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 65 Kandidat Ketua DPC PKB se-Sumbar Bakal Ikuti UKK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026