Sabtu, 24/10/26 | 05:15 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

Minggu, 25/5/25 | 13:50 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

Seorang teman pernah berujar tentang urgensi dari jam tangan. Ia menjelaskan tentang benda kecil yang melingkar di pergelangan itu, bisa mengindetifikasi siapa, dari mana, dan hendak kemana si yang punya pergi. Tentu saja itu bagian dari kemajuan teknologi informasi. Tidak dapat dipungkiri, saat ini jam tangan bukan semata fungsinya sebagai penunjuk waktu, tapi karena ia menyimpan identitas, prestise, dan kadang, makna adat yang tak terucap.

Dalam lanskap gaya hidup modern yang serba cepat dan visual, jam tangan telah bertransformasi menjadi pernyataan personal. Ia tak lagi sekadar alat bantu, melainkan aksesoris yang dipilih dengan pertimbangan estetika, fungsionalitas, dan citra diri. Generasi kini yang akrab dengan ritme multitasking, menjadikan jam tangan sebagai penanda profesionalisme sekaligus selera.

Tidak salah juga sekiranya ada pendapat yang menyatakan bahwa mengenakan smartwatch dengan desain minimalis sering diasosiasikan dengan produktivitas dan efisiensi, sementara mereka yang setia pada jam analog biasanya diasosiasikan dengan ketenangan, keanggunan, dan kecermatan. Bahkan pilihan untuk tidak memakai jam tangan pun bisa dibaca sebagai simbol kebebasan dari tekanan waktu, atau gaya hidup yang lebih santai dan lepas.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Sebagian kita fokus untuk menyakan waktu, sebagian justru memakai jam tangan untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendalam, “Saya sedang menjadi siapa hari ini?”. Bayangkan seorang pelajar yang setiap hari memakai smartwatch, bukan hanya untuk melihat waktu, tapi juga untuk melacak aktivitas harian seperti jumlah langkah, kualitas tidur, bahkan notifikasi tugas yang harus segera diselesaikan.

Jam tangan itu menjadi semacam asisten pribadi yang membantunya tetap fokus dan teratur di tengah tumpukan tugas dan deadline. Sementara itu, ada anak muda lain yang memilih jam tangan analog, sebagai cara mengekspresikan gaya dan kecintaannya pada hal-hal klasik di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Jam tangan bagi mereka bukan sekadar penunjuk waktu, tapi juga cara menunjukkan siapa mereka, apakah si pecinta teknologi yang dinamis, atau si penggemar gaya retro yang santai.

Ironisnya, di balik segala kecanggihan dan simbolisme yang melekat, jam tangan justru mengajarkan kita satu hal sederhana tapi sering terlupa: waktu itu bukan hanya soal angka atau detik yang terus berdetak. Jam tangan, dalam keheningan kecilnya, menantang kita untuk berhenti sejenak, untuk bertanya bukan “berapa lama lagi?”, tapi “apa yang benar-benar berarti?”. Pada akhirnya, bukan jam di pergelangan yang mengatur hidup, melainkan bagaimana kita memilih untuk mengisi setiap detik yang berjalan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kekacauan dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

Berita Sesudah

Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Berita Sesudah
Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

POPULER

  • Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbaiki Akses Warga, Pemkab Dharmasraya Ganti Lantai Dua Jembatan Bailey dengan Baja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026