Senin, 07/9/26 | 00:36 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

Minggu, 25/5/25 | 13:50 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

Seorang teman pernah berujar tentang urgensi dari jam tangan. Ia menjelaskan tentang benda kecil yang melingkar di pergelangan itu, bisa mengindetifikasi siapa, dari mana, dan hendak kemana si yang punya pergi. Tentu saja itu bagian dari kemajuan teknologi informasi. Tidak dapat dipungkiri, saat ini jam tangan bukan semata fungsinya sebagai penunjuk waktu, tapi karena ia menyimpan identitas, prestise, dan kadang, makna adat yang tak terucap.

Dalam lanskap gaya hidup modern yang serba cepat dan visual, jam tangan telah bertransformasi menjadi pernyataan personal. Ia tak lagi sekadar alat bantu, melainkan aksesoris yang dipilih dengan pertimbangan estetika, fungsionalitas, dan citra diri. Generasi kini yang akrab dengan ritme multitasking, menjadikan jam tangan sebagai penanda profesionalisme sekaligus selera.

Tidak salah juga sekiranya ada pendapat yang menyatakan bahwa mengenakan smartwatch dengan desain minimalis sering diasosiasikan dengan produktivitas dan efisiensi, sementara mereka yang setia pada jam analog biasanya diasosiasikan dengan ketenangan, keanggunan, dan kecermatan. Bahkan pilihan untuk tidak memakai jam tangan pun bisa dibaca sebagai simbol kebebasan dari tekanan waktu, atau gaya hidup yang lebih santai dan lepas.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

Sebagian kita fokus untuk menyakan waktu, sebagian justru memakai jam tangan untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendalam, “Saya sedang menjadi siapa hari ini?”. Bayangkan seorang pelajar yang setiap hari memakai smartwatch, bukan hanya untuk melihat waktu, tapi juga untuk melacak aktivitas harian seperti jumlah langkah, kualitas tidur, bahkan notifikasi tugas yang harus segera diselesaikan.

Jam tangan itu menjadi semacam asisten pribadi yang membantunya tetap fokus dan teratur di tengah tumpukan tugas dan deadline. Sementara itu, ada anak muda lain yang memilih jam tangan analog, sebagai cara mengekspresikan gaya dan kecintaannya pada hal-hal klasik di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Jam tangan bagi mereka bukan sekadar penunjuk waktu, tapi juga cara menunjukkan siapa mereka, apakah si pecinta teknologi yang dinamis, atau si penggemar gaya retro yang santai.

Ironisnya, di balik segala kecanggihan dan simbolisme yang melekat, jam tangan justru mengajarkan kita satu hal sederhana tapi sering terlupa: waktu itu bukan hanya soal angka atau detik yang terus berdetak. Jam tangan, dalam keheningan kecilnya, menantang kita untuk berhenti sejenak, untuk bertanya bukan “berapa lama lagi?”, tapi “apa yang benar-benar berarti?”. Pada akhirnya, bukan jam di pergelangan yang mengatur hidup, melainkan bagaimana kita memilih untuk mengisi setiap detik yang berjalan.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kekacauan dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

Berita Sesudah

Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Berita Sesudah
Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

Literature Review Artikel “Power in the Discourse of West Sumatra Regional Regulation Number 7 of 2018 concerning Nagari”

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yusri Latif Makan Bajamba di Luar Dapil, Sebut Dirinya Wakil Seluruh Warga Kota Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Hierarki Satuan Kebahasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wawako Padang Apresiasi Pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) ke-VII Tingkat Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Tahun 2026.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026