Jumat, 17/4/26 | 23:11 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Sejengkal Ruang, Segenggam Kebersamaan

Minggu, 23/2/25 | 17:14 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Dua minggu lalu, tepatnya 9 Februari 2025, saya mengulas pepatah Minangkabau “duduak samo randah, tagak samo tinggi” di kolom “Renyah” ini. Dalam tulisan itu, saya membagikan pengalaman menarik saat menumpangi bus dari kampung menuju Kota Padang—sebuah perjalanan yang menguji makna kebersamaan dalam ruang sempit. Kali ini, saya ingin berbagi kisah lain yang berkaitan dengan pepatah tersebut.

Dalam keseharian, tanpa disadari, kita sering dihadapkan pada situasi yang menguji makna kebersamaan dan berbagi ruang. Jika dalam perjalanan sebelumnya pepatah ini terasa sulit diterapkan, bagaimana dengan kehidupan di sekitar kita? Apakah kebersamaan hanya berlaku dalam teori, atau masih ada ruang untuk mewujudkannya dalam realitas sehari-hari?

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak situasi yang menguji makna kebersamaan, salah satunya di warung makan atau kafetaria saat jam makan siang. Saat itu, saya melihat meja-meja penuh sesak, sementara beberapa pelanggan terpaksa berdiri, menunggu dengan sabar hingga ada tempat kosong. Di momen seperti ini, terlihat jelas bagaimana orang-orang merespons keterbatasan ruang.

Beberapa orang dengan ringan hati memilih duduk bersama orang asing, berbagi meja dengan senyum canggung yang perlahan mencair menjadi obrolan hangat. Ada yang sigap menawarkan kursi kosong di mejanya, seolah memahami bahwa berbagi bukan sekadar soal tempat duduk, tapi juga soal kebersamaan. Namun, tak sedikit pula yang memilih tetap tenggelam dalam dunianya sendiri, sibuk dengan piring dan layar ponsel.

Pemandangan ini mengingatkan saya bahwa kebersamaan bukan soal seberapa luas tempat yang kita miliki, tetapi seberapa besar hati kita untuk berbagi. Seperti di dalam bus yang penuh sesak, di warung makan pun kita dihadapkan pada pilihan: tetap nyaman dengan diri sendiri atau membuka ruang untuk berbagi dengan orang lain.

Sering kali, kita berpikir bahwa berbagi ruang berarti mengorbankan kenyamanan pribadi. Padahal, justru di situlah letak kehangatan sebuah kebersamaan. Seorang pelanggan yang awalnya duduk sendiri mungkin akan menemukan teman ngobrol baru ketika berbagi meja.

Seseorang yang menawarkan kursi bisa saja mendapatkan senyum tulus sebagai balasan. Hal-hal kecil seperti ini, meski tampak sepele, sebenarnya adalah wujud nyata dari semangat “duduak samo randah, tagak samo tinggi”. Kebersamaan tidak selalu harus dalam bentuk besar atau momen-momen istimewa; ia hadir dalam kesederhanaan, dalam keikhlasan berbagi ruang dan waktu dengan orang lain.

Pada akhirnya, kebersamaan bukan sekadar soal duduk berdampingan atau berbagi ruang fisik, tetapi tentang bagaimana kita memandang dan memperlakukan orang lain. Dalam dunia yang semakin individualistis, memberi ruang bagi sesama, sekecil apa pun, adalah cara sederhana untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan tetap hidup. Seperti pepatah “duduak samo randah, tagak samo tinggi” yang mengajarkan kesejajaran dan kebersamaan, mungkin sudah saatnya kita lebih sadar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Makna Denotatif dan Konotatif Kenangan Seseorang pada Lagu “Monokrom” Karya Tulus

Berita Sesudah

Menyoal Dosa Bahasa

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Menyoal Dosa Bahasa

Menyoal Dosa Bahasa

POPULER

  • Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

    Perbedaan Bahasa Indonesia Formal dan Informal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 65 Kandidat Ketua DPC PKB se-Sumbar Bakal Ikuti UKK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Jenis-jenis Pola Pikir Manusia, Begini Penjelasan Para Ahli Psikologi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026