Senin, 31/8/26 | 08:31 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Harmoni dalam Barisan

Minggu, 19/1/25 | 16:58 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Bayangkan jika antre bukan sekadar menunggu giliran, tetapi menjadi simbol kesadaran, penghormatan, dan kemajuan bersama. Sebuah pemandangan yang begitu menenangkan dengan barisan yang tertib, penuh senyum saling menghargai, dan setiap orang merasa dihormati. Bukan lagi sekadar rutinitas, antre menjadi cerminan harmoni yang menghubungkan manusia dalam simpul kebersamaan yang indah.

Di tengah riuhnya era digital yang serba cepat, sikap antre adalah napas santun yang kian langka. Ironisnya, kita kerap mengabaikan keindahan sederhana dari barisan rapi yang menyuarakan keadilan dalam setiap langkahnya. Antre bukan hanya tentang berdiri dalam baris, melainkan tentang melatih kesabaran, menghargai hak orang lain, dan merangkai harmoni dalam keseharian.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

Pengalaman mengajarkan saya betapa pentingnya budaya antre dalam kehidupan sehari-hari. Pernah suatu kali, di depan mesin ATM, seseorang dengan santainya menyerobot antrean, padahal masih ada tiga orang lain yang menunggu giliran. Aksinya sontak memicu keributan kecil. Wajah-wajah yang semula tenang berubah kesal, dan suasana menjadi tidak nyaman.

Hal serupa juga pernah saya alami saat mengisi BBM di SPBU. Ada saja pengendara yang tak sabar, menerobos barisan, hingga akhirnya membuat suasana tegang. Di jalan raya, kondisi ini bahkan lebih parah. Saat proyek perbaikan jalan menyebabkan sistem buka-tutup, beberapa pengendara justru nekat menyerobot jalur yang bukan miliknya.

Bukannya mempercepat perjalanan, tindakan seperti ini justru memperparah kemacetan dan menciptakan kekacauan yang sebenarnya bisa dihindari. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, terlihat jelas bahwa ketidaksediaan ikut antre tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga memperumit situasi bagi semua pihak. Tentu saja hal itu dapat memperburuk keadaan.

Bagi saya, antre menjadi pembelajaran yang berdampak besar dalam kehidupan. Dengan antre saya dapat menundukkan ego, menghormati hak orang lain, dan menyadari bahwa dunia ini tidak hanya tentang diri sendiri. Sikap sederhana ini mengajarkan saya bahwa keadilan dan ketertiban dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.

Pada akhirnya, budaya antre menunjukkan sikap disiplin, tetapi juga menciptakan lingkungan yang penuh harmoni, di mana setiap orang merasa dihargai dan diberi tempat yang layak. Ketika kita mampu bersabar dan saling menghormati dalam antrean, kita sejatinya sedang membangun fondasi untuk kehidupan yang lebih damai dan tertib.

Dengan antre, kita tidak hanya Jika perubahan besar bermula dari hal kecil, mungkin budaya antre adalah kunci tersembunyi menuju masyarakat yang lebih beradab. Dengan begitu, tentu tidak akan muncul keributan-keributan kecil yang mungkin berpotensi besar dari sikap-sikap yang tidak mengindahkan budaya antre.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Adat “Naiak Anak Mudo” Manifestasi Berdemokrasi Anak muda Minangkabau

Berita Sesudah

Puisi-puisi Kyenan Rasya dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Berita Sesudah
Puisi-puisi Kyenan Rasya dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

Puisi-puisi Kyenan Rasya dan Ulasannya oleh Ragdi F Daye

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ibu Kota Nusantara (IKN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026