Sabtu, 21/2/26 | 15:55 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Hadapi Ancaman Nyata Megathrust dengan Tujuh Mitigasi

Selasa, 12/11/24 | 07:25 WIB

BACAJUGA

781 Gempa Guncang Sumbar 2024, Kekuatan Megathrust Mentawai Berkurang?

781 Gempa Guncang Sumbar 2024, Kekuatan Megathrust Mentawai Berkurang?

Minggu, 19/1/25 | 19:46 WIB
Sumbar Samakan Persepsi Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami

Sumbar Samakan Persepsi Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami

Senin, 18/11/24 | 23:15 WIB
Peta zona Megathrust Indonesia. (SCIENTIA/Istimewa)

INDONESIA selaku negara kepulauan tak hanya menyuguhkan keindahan alamnya, namun juga terdapat tantangan dan ancaman yang nyata. Berada di bumi pertiwi ini bisa diibaratkan bunga di tepi jurang, dan diharapkan tak seperti petani mati di lumbung padi.

Pasalnya, negara dengan 283 juta penduduk ini berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, sebuah wilayah dengan aktivitas seismik dan vulkanik yang sangat tinggi. Ancaman besar negara ke-4 populasi terbanyak di dunia ini, ialah bencana megathrust, salah satunya di wilayah Sumatera Barat (Sumbar).

Secara sederhana, megathrust yang juga disebut gempa bumi besar ini terjadi di zona subduksi. Fenomena alam ini sering terjadi di bawah laut ketika satu lempeng tektonik menyusup di bawah lempeng lainnya. Jika tekanan yang terbentuk di zona subduksi itu menumpuk, dan ketika dilepaskan, sehingga menimbulkan goncangan atau gempa besar di daratan.

Kerawanan megathrust yang dimiliki Indonesia ini karena terletak di antara tiga lempeng tektonik, Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Khususnya di Sumbar, gempa besar di kedalaman dangkal terjadi akibat pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia yakni zona Megathrust Mentawai-Siberut dan Megathrust Mentawai-Pagai yang berpotensi besar terjadinya tsunami.

Salah satu contoh megathrust yang terkenal sekaligus duka yang mendalam bagi Tanah Air, adalah gempa dan tsunami di Samudra Hindia yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Peristiwa ini menewaskan 230.000 jiwa lebih, dan Indonesia penyumbang angka terbesar selain Thailand, Sri Lanka, India bahkan Afrika Timur.

Selain itu, daerah Sumbar memiliki sejarah panjang gempa bumi yang diakibatkan megathrust. Apalagi wilayah ini berada di dekat zona subduksi Kepulauan Mentawai, yang dikenal sangat rawan gempa besar. Pada tahun 2023, terjadi 765 kali gempa di Sumbar, meski hanya 32 gempa yang dirasakan masyarakat.

Dalam catatan sejarah 15 tahun terakhir, pada 2009 silam Sumbar dihoyak gempa berkekuatan 7,6 skala richter (SR) yang menewaskan 1.117 jiwa, 1.214 luka berat, 1.688 luka ringan, dan 1 orang hilang. Tahun 2010 Mentawai diguncang gempa 7,2 SR serta tsunami, menewaskan 509 jiwa, 45 luka-luka. Lalu tahun 2022, gempa terjadi di Pasaman Barat dengan 27 orang tewas, dan 457 orang luka-luka.

 

Upaya Mitigasi Bencana Megathrust 

Berdasarkan penelitian seismik, lempeng Indo-Australia terus bergerak menuju Eurasia dengan kecepatan beberapa sentimeter per tahun. Pertemuan kedua lempeng tektonik ini menyimpan gempa kekuatan lebih dari 8,5 SR. Menurut catatan ahli, gempa besar wilayah Sumbar memiliki siklus 200 tahunan yang pada awal abad ke-21 telah memasuki masa berulangnya siklus.

Jika terjadi, ancaman nyata megathrust ini bisa menyebabkan kerusakan besar pada bangunan, infrastruktur, dan berisiko memicu tsunami yang mengancam wilayah pesisir Sumatera. Penduduk di sepanjang pantai barat Sumatera dinyatakan kelompok yang paling terancam, terutama 7 kabupaten dan kota di Sumbar, yakni Kota Padang, Agam, Mentawai, Pariaman, Padang Pariaman, Pasaman Barat, dan Pesisir Selatan, serta Kepulauan Nias, hingga Mukomuko, Bengkulu.

Kendati tidak bisa diprediksi waktu terjadinya megathrust secara tepat, namun upaya mitigasi sangat penting dilakukan secara berkala untuk mengurangi dampak dan risiko. Pemerintah Indonesia melalui BNPB, BMKG, dan BPBD Sumbar serta stake holder lainnya terus beragam upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terutama bagi daerah yang berisiko.

Setidaknya, ada tujuh langkah mitigasi yang bisa dilakukan masyarakat dalam menghadapi potensi megathrust sebelum benar-benar terjadi. Jika kelimanya diikuti dengan baik, kemungkinan-kemungkinan risiko yang ditimbulkan bisa dikurangi.

Pertama, membangun infrastruktur memadai. Jika berada di wilayah yang rawan gempa dan tsunami, masyarakat serta pemerintah harus mendirikan bangunan yang sesuai standar tahan goncangan gempa. Tujuannya untuk mengurangi risiko kerusakan sekaligus memenimalisir korban jiwa.

Kedua, rutin latihan simulasi. Salah satu cara paling efektif untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana dengan latihan simulasi secara rutin. Latihan ini sangat penting untuk membantu masyarakat memahami apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi, cara melakukan evakuasi mandiri.

Ketiga, mengenal jalur evakuasi. Pemerintah lokal telah memasang tanda-tanda evakuasi di sejumlah daerah, terutama di Padang dan sekitarnya. Bagi masyarakat wilayah pesisir pantai, sangat penting untuk mengetahui jalur-jalur evakuasi yang mengarah ke tempat lebih tinggi dan aman saat tsunami terjadi.

Keempat, siapkan tas siaga bencana. Setiap rumah tangga di wilayah rawan gempa harus memiliki tas siaga yang berisi perlengkapan darurat seperti makanan, air, obat-obatan, senter, dan dokumen penting. Tas ini harus mudah diakses dan selalu siap digunakan ketika bencana terjadi.

Kelima, ketahu batasan tsunami. Masyarakat harus mengetahui informasi jarak batasan landaan tsunami di masing-masing daerah. Khusus Kota Padang, pemerintah telah membuat sekitar 27 titik Blue Line Tsunami Safe Zone di jalan raya, sehingga jika terjadi gempa berpotensi tsunami masyarakat harus mampu mencapai garis tersebut agar bisa selamat.

Keenam, patuhi peringatan dini. Masyarakat harus peka dengan segala imbauan, termasuk dengan sistem peringatan dini (Early Warning System) yang dirancang pemerintah. Kenali peringatan suara EWS yang tersebar di puluhan titik dan dibunyikan setiap tanggal 26 setiap bulannya, agar suatu saat gempa terjadi bisa evakuasi diri lebih awal.

Ketujuh, gali informasi. Masyarakat harus cerdas menggali, mencari, dan memantau informasi terkini agar tidak termakan hoaks atau informasi palsu tentang bencana megathrust. Apalagi informasi saat ini bisa didapatkan dengan mudah, baik melalui website resmi pemerintah, media massa, maupun media sosial yang terpercaya.

Bencana tidak bisa dihindari, namun dampaknya bisa dikurangi dengan tujuh langkah tersebut. Jangan abaikan latihan simulasi, peringatan dini dari pemerintah, dan jalur evakuasi yang ada. Dengan kesiapan yang matang, diri, keluarga, hingga orang lain bisa diselamatkan jika bencana besar ini benar-benar terjadi.

Kendati bencana megathrust ancaman yang nyata, bukan berarti harus hidup dalam ketakutan. Dengan pengetahuan yang memadai, langkah mitigasi yang tepat, dan kesiapsiagaan yang matang, risiko bencana pasti bisa diminimalkan. Selain tidak panik, masyarakat juga harus selalu waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan. Wallahu a’lam.* (pks/wa)

 

  PENULIS:
  Putri Kemuning Senja (Mahasiswi IPB)

Tags: Ancaman Nyata MegathrustMegathrust MentawaiPotensi Ancaman Megathrust MentawaiPutri Kemuning SenjaTujuh Langkah Mitigasi Bencana
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemko Padang Komitmen Dukung BPJamsostek bagi Masyarakat

Berita Sesudah

Peringatan HUT ke-53 Korpri, Pemko Bukittinggi Gelar Gerakan Pangan Murah

Berita Terkait

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Berita Sesudah
Peringatan HUT ke-53 Korpri, Pemko Bukittinggi Gelar Gerakan Pangan Murah

Peringatan HUT ke-53 Korpri, Pemko Bukittinggi Gelar Gerakan Pangan Murah

POPULER

  • Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Sumbar Bentuk Tim 5 Muscab

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diskusi Bersama Alumni Pengelola Media, Rektor Unand Serap Masukan untuk Kemajuan Kampus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkembangan Hukum Islam di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024