Senin, 23/3/26 | 17:57 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Hadapi Ancaman Nyata Megathrust dengan Tujuh Mitigasi

Selasa, 12/11/24 | 07:25 WIB

BACAJUGA

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB
Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB
Peta zona Megathrust Indonesia. (SCIENTIA/Istimewa)

INDONESIA selaku negara kepulauan tak hanya menyuguhkan keindahan alamnya, namun juga terdapat tantangan dan ancaman yang nyata. Berada di bumi pertiwi ini bisa diibaratkan bunga di tepi jurang, dan diharapkan tak seperti petani mati di lumbung padi.

Pasalnya, negara dengan 283 juta penduduk ini berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, sebuah wilayah dengan aktivitas seismik dan vulkanik yang sangat tinggi. Ancaman besar negara ke-4 populasi terbanyak di dunia ini, ialah bencana megathrust, salah satunya di wilayah Sumatera Barat (Sumbar).

Secara sederhana, megathrust yang juga disebut gempa bumi besar ini terjadi di zona subduksi. Fenomena alam ini sering terjadi di bawah laut ketika satu lempeng tektonik menyusup di bawah lempeng lainnya. Jika tekanan yang terbentuk di zona subduksi itu menumpuk, dan ketika dilepaskan, sehingga menimbulkan goncangan atau gempa besar di daratan.

Kerawanan megathrust yang dimiliki Indonesia ini karena terletak di antara tiga lempeng tektonik, Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Khususnya di Sumbar, gempa besar di kedalaman dangkal terjadi akibat pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia yakni zona Megathrust Mentawai-Siberut dan Megathrust Mentawai-Pagai yang berpotensi besar terjadinya tsunami.

Salah satu contoh megathrust yang terkenal sekaligus duka yang mendalam bagi Tanah Air, adalah gempa dan tsunami di Samudra Hindia yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Peristiwa ini menewaskan 230.000 jiwa lebih, dan Indonesia penyumbang angka terbesar selain Thailand, Sri Lanka, India bahkan Afrika Timur.

Selain itu, daerah Sumbar memiliki sejarah panjang gempa bumi yang diakibatkan megathrust. Apalagi wilayah ini berada di dekat zona subduksi Kepulauan Mentawai, yang dikenal sangat rawan gempa besar. Pada tahun 2023, terjadi 765 kali gempa di Sumbar, meski hanya 32 gempa yang dirasakan masyarakat.

Dalam catatan sejarah 15 tahun terakhir, pada 2009 silam Sumbar dihoyak gempa berkekuatan 7,6 skala richter (SR) yang menewaskan 1.117 jiwa, 1.214 luka berat, 1.688 luka ringan, dan 1 orang hilang. Tahun 2010 Mentawai diguncang gempa 7,2 SR serta tsunami, menewaskan 509 jiwa, 45 luka-luka. Lalu tahun 2022, gempa terjadi di Pasaman Barat dengan 27 orang tewas, dan 457 orang luka-luka.

 

Upaya Mitigasi Bencana Megathrust 

Berdasarkan penelitian seismik, lempeng Indo-Australia terus bergerak menuju Eurasia dengan kecepatan beberapa sentimeter per tahun. Pertemuan kedua lempeng tektonik ini menyimpan gempa kekuatan lebih dari 8,5 SR. Menurut catatan ahli, gempa besar wilayah Sumbar memiliki siklus 200 tahunan yang pada awal abad ke-21 telah memasuki masa berulangnya siklus.

Jika terjadi, ancaman nyata megathrust ini bisa menyebabkan kerusakan besar pada bangunan, infrastruktur, dan berisiko memicu tsunami yang mengancam wilayah pesisir Sumatera. Penduduk di sepanjang pantai barat Sumatera dinyatakan kelompok yang paling terancam, terutama 7 kabupaten dan kota di Sumbar, yakni Kota Padang, Agam, Mentawai, Pariaman, Padang Pariaman, Pasaman Barat, dan Pesisir Selatan, serta Kepulauan Nias, hingga Mukomuko, Bengkulu.

Kendati tidak bisa diprediksi waktu terjadinya megathrust secara tepat, namun upaya mitigasi sangat penting dilakukan secara berkala untuk mengurangi dampak dan risiko. Pemerintah Indonesia melalui BNPB, BMKG, dan BPBD Sumbar serta stake holder lainnya terus beragam upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terutama bagi daerah yang berisiko.

Setidaknya, ada tujuh langkah mitigasi yang bisa dilakukan masyarakat dalam menghadapi potensi megathrust sebelum benar-benar terjadi. Jika kelimanya diikuti dengan baik, kemungkinan-kemungkinan risiko yang ditimbulkan bisa dikurangi.

Pertama, membangun infrastruktur memadai. Jika berada di wilayah yang rawan gempa dan tsunami, masyarakat serta pemerintah harus mendirikan bangunan yang sesuai standar tahan goncangan gempa. Tujuannya untuk mengurangi risiko kerusakan sekaligus memenimalisir korban jiwa.

Kedua, rutin latihan simulasi. Salah satu cara paling efektif untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana dengan latihan simulasi secara rutin. Latihan ini sangat penting untuk membantu masyarakat memahami apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi, cara melakukan evakuasi mandiri.

Ketiga, mengenal jalur evakuasi. Pemerintah lokal telah memasang tanda-tanda evakuasi di sejumlah daerah, terutama di Padang dan sekitarnya. Bagi masyarakat wilayah pesisir pantai, sangat penting untuk mengetahui jalur-jalur evakuasi yang mengarah ke tempat lebih tinggi dan aman saat tsunami terjadi.

Keempat, siapkan tas siaga bencana. Setiap rumah tangga di wilayah rawan gempa harus memiliki tas siaga yang berisi perlengkapan darurat seperti makanan, air, obat-obatan, senter, dan dokumen penting. Tas ini harus mudah diakses dan selalu siap digunakan ketika bencana terjadi.

Kelima, ketahu batasan tsunami. Masyarakat harus mengetahui informasi jarak batasan landaan tsunami di masing-masing daerah. Khusus Kota Padang, pemerintah telah membuat sekitar 27 titik Blue Line Tsunami Safe Zone di jalan raya, sehingga jika terjadi gempa berpotensi tsunami masyarakat harus mampu mencapai garis tersebut agar bisa selamat.

Keenam, patuhi peringatan dini. Masyarakat harus peka dengan segala imbauan, termasuk dengan sistem peringatan dini (Early Warning System) yang dirancang pemerintah. Kenali peringatan suara EWS yang tersebar di puluhan titik dan dibunyikan setiap tanggal 26 setiap bulannya, agar suatu saat gempa terjadi bisa evakuasi diri lebih awal.

Ketujuh, gali informasi. Masyarakat harus cerdas menggali, mencari, dan memantau informasi terkini agar tidak termakan hoaks atau informasi palsu tentang bencana megathrust. Apalagi informasi saat ini bisa didapatkan dengan mudah, baik melalui website resmi pemerintah, media massa, maupun media sosial yang terpercaya.

Bencana tidak bisa dihindari, namun dampaknya bisa dikurangi dengan tujuh langkah tersebut. Jangan abaikan latihan simulasi, peringatan dini dari pemerintah, dan jalur evakuasi yang ada. Dengan kesiapan yang matang, diri, keluarga, hingga orang lain bisa diselamatkan jika bencana besar ini benar-benar terjadi.

Kendati bencana megathrust ancaman yang nyata, bukan berarti harus hidup dalam ketakutan. Dengan pengetahuan yang memadai, langkah mitigasi yang tepat, dan kesiapsiagaan yang matang, risiko bencana pasti bisa diminimalkan. Selain tidak panik, masyarakat juga harus selalu waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan. Wallahu a’lam.* (pks/wa)

 

  PENULIS:
  Putri Kemuning Senja (Mahasiswi IPB)

Tags: Ancaman Nyata MegathrustMegathrust MentawaiPotensi Ancaman Megathrust MentawaiPutri Kemuning SenjaTujuh Langkah Mitigasi Bencana
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pemko Padang Komitmen Dukung BPJamsostek bagi Masyarakat

Berita Sesudah

Peringatan HUT ke-53 Korpri, Pemko Bukittinggi Gelar Gerakan Pangan Murah

Berita Terkait

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva (Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)   Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara...

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB

Oleh: Amanda Restia (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Nama Siti Nurbaya sering kali langsung dilibatkan dengan...

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Iwan Fals merupakan musisi legendaris Indonesia yang menjadi...

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Berita Sesudah
Peringatan HUT ke-53 Korpri, Pemko Bukittinggi Gelar Gerakan Pangan Murah

Peringatan HUT ke-53 Korpri, Pemko Bukittinggi Gelar Gerakan Pangan Murah

POPULER

  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengobrolkan “Sampai Jadi Debu”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • UNAND, USU, dan UNSOED Perkuat Kerja Sama dalam Studi Bahasa, Sastra, Budaya Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fungsi Kata “yang “ dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hubungan Sinonim Kata “Mempunyai” dan “Memiliki”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Babayo XI Lazis MUM Padang Ajak 500 Yatim & Dhuafa Belanja Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026