Puisi pertama, “Sahur”, puisi ini bercerita tentang kegiatan sahur. Sahur itu sendiri adalah sebuah istilah dalam islam yang merujuk kepada aktivitas makan oleh umat islam yang dilakukan sebelu adzan subuh bagi yang akan menjalankan ibadah puasa. Puisi secara umum mengisahkan aktivitas sahur yang kerapkali dialami oleh mahasiwa yang biasanya tinggal di kos atau kontrakan, jauh dari orang tua serta makan dengan seadanya. Hal ini terlihat dalam larik sajak;
/Seketika itu juga/
/Aroma masakan telur tercium/
/Mata yang awalnya tidak bia dibuka/
/Akhirnya terbuka dengan masakan kawan/
/Menikmati santapan sahur dengan satu telur/
Bait di atas sangat jelas menggambarkan aktivitas sahur. Walaupun sebuah puisi bisa mengemukakan rekaman detik-detik kehidupan yang dilalui akan lebih baik jika penulisannya tidak menuliskannya `terang-terangan`. Putu Arya Tirtawirya menjabarkan bahwa, puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif (makna tidak sebenarnya).
Puisi kedua, “Panggilan Senja”. Puisi kedua ini akan membawa kita pada dua emosi, yang pertama adalah emosi menyenangkan karena berlatar di pantai yang akan membawa kita membayangi matahari terbemam di laut lepas. Indah.
Namun, di sisi lain, kita juga akan dibawa ada emosi yang miris, karena ketika matahari terbenam bertepatan dengan suara adzan dan kala magrib, lebih bayak yang memilih meninggalkan salat dan memilih hanya menatap senja, puisi ini juga mengisahkan tentang sebuah `bagunan` yang bisa berarti `masjid` atau `mushola` yang sudah usang dan tidak lagi dirawat. Puisi ini terasa seperti sebuah kritik yang lugas, terutama kepada kita anak muda yang kadang lupa kewajiban demi hal-hal yang dianggap estetik.










Discussion about this post