Senin, 02/3/26 | 05:04 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Twenty-Four Eyes: Kehangatan dan Kepiluan dalam Satu Cerita

Minggu, 30/6/24 | 13:22 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Kisah Bu Guru Oishi beserta murid-muridnya tidaklah sehangat dan seceria yang terlihat, baik di sampul novel (yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia) maupun poster filmnya (yang dirilis pada tahun 1954). Perang melatarbelakangi kehangatan dan kepedulian yang intim antara Bu Oishi dengan murid-muridnya. Kehidupan anak-anak di pesisir terpencil sebelum, selama, dan setelah Perang Dunia Kedua mempertemukan mereka dengan masa-masa yang selalu sulit.

Twenty-Four Eyes adalah sinema Jepang klasik yang disutradarai oleh Keisuke Kinoshita dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Sakae Tsuboi. Pada tahun 2024 ini, Twenty-Four Eyes mendapat kesempatan tayang terbatas hingga 19 Juni di Japanese Film Festival Online 2024. Pemeran Bu Guru Oishi diperankan oleh sang legenda Hideko Takamine. Drama ini menggunakan perangkat favorit drama populer di masanya. Penonton  disuguhkan orang-orang muda yang menua dan mereka yang tumbuh dewasa tepat di layar kaca.

BACAJUGA

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Film yang memenangkan Golden Globe untuk kategori  Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 1955 ini berlatar di laut pedalaman Shodoshima. Oishi adalah guru baru di sebuah sekolah desa pesisir yang terisolir. Ia membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan menuju sekolah tersebut dari rumahnya. Oleh sebab itulah ia mengendarai sepeda sebagai transportasi.

Tampilan yang modern pada Bu Guru Oishi justru mendapat tatapan dan omongan yang buruk dari warga setempat. Tidak jarang ia dibicarakan oleh para orang tua murid-muridnya dengan tatapan dan nada yang sinis bagaimanapun Bu Oishi menyapa mereka dengan ramah. Terlebih ia tidak memakai kimono selayaknya guru biasa. Ia memakai rok dan jas yang bagi warga pesisir tampak “bergaya seperti Barat”. Padahal Bu Oishi memakai pakaian tersebut untuk memudahkannya mengendarai sepeda setiap hari. Memakai kimono akan menyulitkannya untuk mengayuh sepeda yang menghabiskan waktu hingga satu jam itu.

Suatu kecelakaan tak teduga yang dialami Bu Oishi mengubah hubungan yang canggung antara ia dan para orang tua murid. Di mata siswa kelas satunya, Bu Oishi adalah guru yang menyenangkan dan sangat perhatian. Mereka pun nekat menjenguk Bu Oishi dan menempuh perjalanan yang amat jauh bagi anak-anak sebelia itu. Di rumah Bu Oishi, mereka mendapat sambutan hangat. Kehangatan yang sama dirasakan oleh Bu Oishi keesokan harinya ketika ia menerima beragam kiriman ikan kering dan berbagai penganan dari para orang tua muridnya.

Ketika menyaksikan Twenty-Four Eyes, penonton akan mendapati sejumlah lagu yang tidak sedikit. Sejumlah lagu ini memiliki peran yang istimewa dalam cerita. Misalnya lagu yang awalnya ceria seiring berjalannya waktu berubah menjadi lagu klasik yang lebih sedih. Ini membantu sisi visual tentang kehilangan dalam pertempuran yang kurang ditampakkan di layar.

Bu Oishi adalah pihak yang menaruh ketidaksetujuan dengan perang. Pandangannya yang lain soal peperangan membuat ia mendapat cap sebagai komunis oleh rekan-rekan dan kepala sekolahnya. Bahkan ia dan anak lelaki tertuanya memiliki perbedaan pandangan soal perang. Bagi Bu Oishi, perang hanya memisahkan ia dengan orang-orang tersayang, seperti suami dan para murid laki-lakinya.

Di sekolah, murid laki-laki bercita-cita untuk segera bergabung dengan militer. Bagi mereka adalah sangat terhormat bila ikut membela negara dalam masa perang yang panjang, terlepas dari bagaimana mereka akan berakhir (mati atau selamat dengan cacat). Bagi murid perempuan, memiliki pekerjaan tetap dan memiliki kedudukan yang sama setaranya dengan laki-laki adalah hal yang dicita-citakan. Sejak kecil, anak perempuan dihadapkan pada stigma bahwa kelahiran anak laki-laki lebih penting dibanding anak perempuan. Sebab, anak laki-laki dianggap paling dibutuhkan dan bisa diberdayakan untuk menunjang perekonomian keluarga sebagai seorang nelayan. Ibu mereka akan merasa bersalah bila melahirkan anak perempuan.

Seorang murid perempuan Bu Oishi menjadi korban tuberkulosis, seorang murid perempuan lainnya terpaksa dijual oleh keluarga untuk menjadi budak di daratan, seorang lainnya harus meninggalkan pesisir satu keluarga karena kemiskinan yang menjerat mereka. Namun, anak laki-laki pada masa yang sulit itu rupanya tidak bernasib lebih baik. Mereka memiliki semangat yang menggebu untuk pergi berperang. Akan tetapi, hanya sebagian kecil dari mereka yang kembali hidup-hidup. Salah seorang murid Bu Oishi kembali dengan penglihatan yang selamanya akan kelam.

Twenty-Four Eyes adalah film yang bagus, tetapi membaca novelnya juga lebih menarik meskipun itu terjemahan dalam bahasa Indonesia. Terjemahannya menurut saya sangat baik. Narasi-narasi lucu yang menghibur tidak jarang dituturkan oleh narator hingga membuat saya tergelak ketika membacanya. Di waktu bersamaan, narasi narator juga terasa pilu dalam menceritakan murid-muridnya hingga membuat mata berkaca-kaca hingga meneteskan air mata.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Setetes Air dalam Bensin

Berita Sesudah

Yang Bertahan dan Hilang di Yogyakarta

Berita Terkait

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Berita Sesudah
Hal Tidak Mengenakkan Ketika Berkunjung  ke Yogyakarta

Yang Bertahan dan Hilang di Yogyakarta

Discussion about this post

POPULER

  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perhatikan Masjid hingga Dampak Bencana, Firdaus Gugah Warga Lubuk Alung Lewat Safari Ramadan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dua Orang Tewas di Konsesi PT Bina, Warga Desak Disnaker Evaluasi Standar K3

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Safari Ramadan 1447 Hijriah, Osman Ayub Salurkan Bantuan Rp25 juta di Masjid Al Mujahidin Kurao Pagang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024