Jumat, 17/4/26 | 09:57 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Menyulam Nilai Lewat Cerita: Inyiak Bayeh dan Cerita-cerita Lainnya

Minggu, 11/5/25 | 17:14 WIB

Lastry Monika
Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah

 

Dalam tiga minggu terakhir, saya selalu mengangkat tema seputar sastra lisan dalam rubrik Renyah ini. Dari kisah-kisah yang dituturkan oleh nenek, cerita-cerita magis yang mengalir dari lisan ibu, hingga dongeng yang melekat kuat dalam ingatan masa kecil, saya menemukan bahwa sastra lisan bukan sekadar warisan cerita, melainkan cermin nilai-nilai budaya yang tumbuh bersama kehidupan kita sehari-hari.

Pada edisi kali ini, saya kembali mengulas tema yang serupa, masih tentang sastra lisan sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang menggambarkan kehadiran sosok Inyiak Bayeh, Urang Bunian, dan Rawang Selendang dalam pengalaman masa kecil saya. Saya ingin mengajak pembaca untuk kembali menyusuri jejak-jejak narasi tutur yang, meski sederhana, menyimpan kekuatan luar biasa dalam membentuk cara kita berpikir dan berperilaku.

BACAJUGA

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

Kini, setelah dewasa cerita tentang Inyiak Bayeh, Urang Bunian, dan Rawang Selendang seringkali muncul dalam benak saya, terutama ketika malam mulai larut dan kesunyian mengendap perlahan. Di tengah gempuran teknologi dan budaya populer yang serba instan, saya merasa cerita-cerita lisan masa kecil itu adalah fondasi yang menjaga saya tetap berakar. Mereka mengajari saya untuk takut, bukan pada hantu atau makhluk gaib semata, tetapi takut untuk melukai hati orang tua, takut untuk bersikap tak tahu diri, dan takut untuk melupakan asal-usul.

Saya teringat suatu malam, saat listrik padam di kampung dan kami hanya diterangi pelita. Nenek kembali bercerita, kali ini tentang “Hantu Penunggu Air” yang konon muncul di batang sungai kalau kita mandi terlalu larut. Saya yang waktu itu sudah duduk di kelas enam SD mulai merasa cerita itu tidak masuk akal.

Tapi entah kenapa, saya tetap tak berani mandi di sungai setelah magrib. Mungkin bukan karena takut hantunya, tapi takut mengecewakan nenek yang selalu berkata, “Air itu bukan sekadar tempat basuh tubuh, tapi juga tempat orang dulu berdoa dan bersuci.” Lagi-lagi, ada nilai moral yang tersembunyi, dibungkus dengan kisah gaib yang menyeramkan tapi penuh makna.

Saya sering bertanya-tanya, apakah anak-anak sekarang masih tumbuh dengan cerita-cerita semacam itu? Atau jangan-jangan cerita-cerita ini perlahan mati, tenggelam dalam derasnya arus globalisasi dan layar ponsel yang menyala tanpa jeda? Jika iya, maka kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar dongeng—kita kehilangan cara mendidik dengan kelembutan, dengan simbol, dengan keteladanan yang dibungkus imajinasi. Kita kehilangan cara orang tua menanamkan nilai hidup tanpa menyuruh atau menggurui.

Hari ini, ketika saya duduk bersama keponakan-keponakan saya yang lebih akrab dengan YouTube daripada cerita nenek, saya mencoba mengisahkan ulang tentang Inyiak Bayeh. Mereka tertawa, menganggapnya lucu, aneh, dan tidak masuk akal. Tapi saya terus bercerita. Karena saya percaya, pada suatu masa nanti, mereka akan mengingat cerita itu bukan karena menyeramkan, tapi karena disampaikan dengan cinta. Cinta seorang nenek pada cucunya. Cinta seorang ibu pada anaknya. Dan cinta saya pada kampung halaman yang pelan-pelan hanya hidup di kenangan.

Cerita-cerita lisan itu mungkin tak pernah tercetak di buku pelajaran atau ditulis di papan sekolah. Tapi ia hidup dari generasi ke generasi. Dan selama masih ada satu orang saja yang bersedia mendengar dan menceritakan ulang, saya yakin Inyiak Bayeh tak akan pernah benar-benar lenyap dari ingatan kita.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Berita Sesudah

Firdaus Apresiasi Semangat Gotong Royong Masyarakat Wujudkan Festival Juadah Tanpa APBD

Berita Terkait

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Berita Sesudah
Anggota DPRD Sumbar, Firdaus saat menyapa komunitas seni pada festival Juadah. Sabtu, (11/05/2025) [foti : sci/yrp]

Firdaus Apresiasi Semangat Gotong Royong Masyarakat Wujudkan Festival Juadah Tanpa APBD

POPULER

  • Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    Tim Lupak Polres Dharmasraya Sikat 5 Pelaku Narkoba di Sungai Kambut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meriah! Dharmasraya Gelar CFD dan Bazaar UMKM 18–19 April

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAN Pauh Kamba Diduga Cegah Pencalonan Warga, Status Adat Jadi Penghalang Pilwana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Psikolog Gadungan, HIMPSI Sumbar Imbau Masyarakat Cek Keabsahan dan Legalitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • TERAS
    • EKONOMI
    • HUKUM
    • POLITIK
    • DAERAH
    • EDUKASI
    • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026