Senin, 27/7/26 | 14:50 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Sabda dan Dawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Perspektif Max Weber

Minggu, 03/9/23 | 07:28 WIB

Oleh: Sigit Surahman
(Dosen Fikom Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dan Managing Director Loka Kota PR)

 

Sistem pemerintahan di Nusantara pada masa kolonial dan era klasik melibatkan berbagai kepemimpinan, termasuk oleh ratu seperti Ratu Sima dari Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7-8, Tribuana Tunggadewi dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, dan Ratu Kalinyamat dari Kerajaan Demak pada abad ke-16. Meskipun peran politik kerajaan telah berubah seiring waktu, beberapa kerajaan masih mempertahankan peran sosial dan kebudayaan dalam masyarakat.

BACAJUGA

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB
Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Pada masa kolonial, interaksi dengan kekuatan kolonial Belanda mengubah sistem pemerintahan tradisional. Kerajaan-kerajaan di Jawa dikuasai oleh Belanda dengan simbol kekuasaan yang dipertahankan, tetapi keputusan penting ditentukan oleh Belanda. Setelah kemerdekaan tahun 1945, sistem pemerintahan berubah menjadi republik demokrasi. Meskipun begitu, beberapa kerajaan masih mempertahankan peran sosial dan budaya dalam masyarakat.

Di tengah perubahan ini, Kesultanan Yogyakarta adalah salah satu contoh yang menarik perhatian. Sri Sultan Hamengku Buwono X (HBX) berperan sebagai kepala daerah dan juga raja serta perannya dalam suksesi takhta. Dalam konteks ini, sabda dan dawuh yang dikeluarkan oleh Sri Sultan HBX memiliki makna yang signifikan dalam memberikan arahan dan otoritas kepada masyarakat.

Sabda dan dawuh merupakan alat komunikasi kekuasaan yang sah dari Sri Sultan HBX sebagai Raja Yogyakarta. Pada tahun 2015, Sri Sultan HBX mengeluarkan sabda dan dawuh yang mengubah gelar Sultan dan mengangkat Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, posisi penting dalam suksesi takhta. Sabda dan dawuh memiliki otoritas dan legitimasi dalam konteks perubahan suksesi takhta.

Pengangkatan GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi memicu berbagai respons di masyarakat. Terdapat pendukung dan penentang, serta kelompok yang netral terhadap perubahan ini. Konflik internal muncul dalam keraton dan masyarakat sebagai hasil dari perbedaan interpretasi, nilai, dan pandangan terhadap sabda dan dawuh.

Pendekatan Max Weber tentang kekuasaan, otoritas, dan legitimasi digunakan untuk menganalisis sabda dan dawuh Sri Sultan HBX. Kedua komunikasi ini mencerminkan kekuasaan karismatik dan tradisional, otoritas sebagai raja, serta legitimasi yang berasal dari keyakinan masyarakat terhadap peran dan keputusan Sultan. Konflik yang muncul juga mencerminkan dinamika antara kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam konteks suksesi takhta kerajaan.

Dalam pengembangan teori, ditemukan konsep baru yang disebut Power and Social Appraisal. Konsep ini menggambarkan kompleksitas interaksi antara kekuasaan, otoritas, legitimasi, dan penilaian sosial dalam komunikasi. Penggunaan konsep ini membantu memahami bagaimana penilaian sosial individu mempengaruhi persepsi terhadap kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam komunikasi. Kekuasaan Sri Sultan HBX memiliki dasar legitimasi yang berasal dari garis keturunan, adat, dan pengakuan masyarakat. Pengangkatan GKR Pembayun sebagai GKR Mangkubumi menjadi perubahan penting dalam struktur kekuasaan dan pewarisan takhta di Kesultanan Yogyakarta. Namun, pengangkatan ini juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di masyarakat. Konflik yang muncul mencerminkan usaha mencapai konsensus sosial dalam menghadapi perubahan. Dalam konteks konflik tersebut, sabda dan dawuh Sri Sultan HBX menggambarkan penggunaan kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam merespon perubahan sosial dan tuntutan zaman.

Dengan demikian, artikel ini memberikan wawasan tentang peran komunikasi kekuasaan dalam merespons perubahan sosial dan budaya. Sabda dan dawuh tidak hanya sekadar pesan, tetapi juga alat untuk membentuk norma, nilai baru, dan arahan moral dalam masyarakat. Penggunaan konsep power and social appraisal memberikan pandangan baru tentang bagaimana kekuasaan dinilai dan diterima dalam komunikasi, serta dampaknya terhadap struktur kekuasaan dan pewarisan takhta dalam kerajaan.

Tags: #Sigit Surahman
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mengobrolkan “Sampai Jadi Debu”

Berita Sesudah

Persoalan Nama Diri

Berita Terkait

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Praktik-praktik kapitalis seperti penguasaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial...

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB

Oleh: Minas Salihin Iskandar (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB Universitas Andalas) Bayangkan toko kelontong kecil di sudut jalan. Dulu, toko itu...

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Oleh : Hazizah Jafitra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Penggunaan bahasa bukan hanya sebatas berfungsi...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Persoalan Nama Diri

Discussion about this post

POPULER

  • Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Sumbar Bantu Pemulihan Kebakaran Ponpes Bustanul Yaqin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko-DPRD Bukittinggi Resmi Setujui Revisi Perda Pajak Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026