Senin, 02/11/26 | 12:41 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Sabda dan Dawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Perspektif Max Weber

Minggu, 03/9/23 | 07:28 WIB

Oleh: Sigit Surahman
(Dosen Fikom Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dan Managing Director Loka Kota PR)

 

Sistem pemerintahan di Nusantara pada masa kolonial dan era klasik melibatkan berbagai kepemimpinan, termasuk oleh ratu seperti Ratu Sima dari Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7-8, Tribuana Tunggadewi dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, dan Ratu Kalinyamat dari Kerajaan Demak pada abad ke-16. Meskipun peran politik kerajaan telah berubah seiring waktu, beberapa kerajaan masih mempertahankan peran sosial dan kebudayaan dalam masyarakat.

Pada masa kolonial, interaksi dengan kekuatan kolonial Belanda mengubah sistem pemerintahan tradisional. Kerajaan-kerajaan di Jawa dikuasai oleh Belanda dengan simbol kekuasaan yang dipertahankan, tetapi keputusan penting ditentukan oleh Belanda. Setelah kemerdekaan tahun 1945, sistem pemerintahan berubah menjadi republik demokrasi. Meskipun begitu, beberapa kerajaan masih mempertahankan peran sosial dan budaya dalam masyarakat.

BACAJUGA

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB
Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Di tengah perubahan ini, Kesultanan Yogyakarta adalah salah satu contoh yang menarik perhatian. Sri Sultan Hamengku Buwono X (HBX) berperan sebagai kepala daerah dan juga raja serta perannya dalam suksesi takhta. Dalam konteks ini, sabda dan dawuh yang dikeluarkan oleh Sri Sultan HBX memiliki makna yang signifikan dalam memberikan arahan dan otoritas kepada masyarakat.

Sabda dan dawuh merupakan alat komunikasi kekuasaan yang sah dari Sri Sultan HBX sebagai Raja Yogyakarta. Pada tahun 2015, Sri Sultan HBX mengeluarkan sabda dan dawuh yang mengubah gelar Sultan dan mengangkat Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, posisi penting dalam suksesi takhta. Sabda dan dawuh memiliki otoritas dan legitimasi dalam konteks perubahan suksesi takhta.

Pengangkatan GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi memicu berbagai respons di masyarakat. Terdapat pendukung dan penentang, serta kelompok yang netral terhadap perubahan ini. Konflik internal muncul dalam keraton dan masyarakat sebagai hasil dari perbedaan interpretasi, nilai, dan pandangan terhadap sabda dan dawuh.

Pendekatan Max Weber tentang kekuasaan, otoritas, dan legitimasi digunakan untuk menganalisis sabda dan dawuh Sri Sultan HBX. Kedua komunikasi ini mencerminkan kekuasaan karismatik dan tradisional, otoritas sebagai raja, serta legitimasi yang berasal dari keyakinan masyarakat terhadap peran dan keputusan Sultan. Konflik yang muncul juga mencerminkan dinamika antara kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam konteks suksesi takhta kerajaan.

Dalam pengembangan teori, ditemukan konsep baru yang disebut Power and Social Appraisal. Konsep ini menggambarkan kompleksitas interaksi antara kekuasaan, otoritas, legitimasi, dan penilaian sosial dalam komunikasi. Penggunaan konsep ini membantu memahami bagaimana penilaian sosial individu mempengaruhi persepsi terhadap kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam komunikasi. Kekuasaan Sri Sultan HBX memiliki dasar legitimasi yang berasal dari garis keturunan, adat, dan pengakuan masyarakat. Pengangkatan GKR Pembayun sebagai GKR Mangkubumi menjadi perubahan penting dalam struktur kekuasaan dan pewarisan takhta di Kesultanan Yogyakarta. Namun, pengangkatan ini juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di masyarakat. Konflik yang muncul mencerminkan usaha mencapai konsensus sosial dalam menghadapi perubahan. Dalam konteks konflik tersebut, sabda dan dawuh Sri Sultan HBX menggambarkan penggunaan kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam merespon perubahan sosial dan tuntutan zaman.

Dengan demikian, artikel ini memberikan wawasan tentang peran komunikasi kekuasaan dalam merespons perubahan sosial dan budaya. Sabda dan dawuh tidak hanya sekadar pesan, tetapi juga alat untuk membentuk norma, nilai baru, dan arahan moral dalam masyarakat. Penggunaan konsep power and social appraisal memberikan pandangan baru tentang bagaimana kekuasaan dinilai dan diterima dalam komunikasi, serta dampaknya terhadap struktur kekuasaan dan pewarisan takhta dalam kerajaan.

Tags: #Sigit Surahman
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mengobrolkan “Sampai Jadi Debu”

Berita Sesudah

Persoalan Nama Diri

Berita Terkait

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

Minggu, 01/11/26 | 12:50 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

Minggu, 01/11/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Bagaimana jika sebuah laboratorium yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan...

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

Minggu, 01/11/26 | 12:26 WIB

Oleh: Rizky Amelya Furqan (Dosen Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas) Matilah kau mati, kau akan lahir...

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Dari Sagu ke Pasar Digital: Peluang UMKM Lokal Menembus Batas

Minggu, 25/10/26 | 20:14 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki potensi alam...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peran Ibu Tunggal dalam Film “Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?”

Minggu, 25/10/26 | 18:30 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya dan Anggota Labor Penulisan Kreatif, Universitas Andalas) Ada film yang berakhir...

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Ketika Cuaca Berubah, Hama Ikut Berubah

Minggu, 18/10/26 | 16:21 WIB

Oleh: Lili Herlina (Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas) Ketika membicarakan masalah pertanian, perhatian sering kali tertuju pada...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Persoalan Nama Diri

Discussion about this post

POPULER

  • Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

    Paradoks Representasi Subaltern dalam Novel Saman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Proses Eksperimen Unit 731 dalam Perspektif Sosiologi Sastra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Laut Bercerita: Ketika Cerita Beralih ke Layar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Komisi V DPRD Sumbar Matangkan Pembahasan Ranperda Keolahragaan 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Sumbar Terapkan Syarat Inovasi untuk Kenaikan Jabatan ASN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mahyeldi: Guru Tak Boleh Menyeragamkan Kemampuan Siswa, Kenali Potensi Setiap Anak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026