Selasa, 17/2/26 | 07:52 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Sabda dan Dawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Perspektif Max Weber

Minggu, 03/9/23 | 07:28 WIB

Oleh: Sigit Surahman
(Dosen Fikom Universitas Bhayangkara Jakarta Raya dan Managing Director Loka Kota PR)

 

Sistem pemerintahan di Nusantara pada masa kolonial dan era klasik melibatkan berbagai kepemimpinan, termasuk oleh ratu seperti Ratu Sima dari Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7-8, Tribuana Tunggadewi dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, dan Ratu Kalinyamat dari Kerajaan Demak pada abad ke-16. Meskipun peran politik kerajaan telah berubah seiring waktu, beberapa kerajaan masih mempertahankan peran sosial dan kebudayaan dalam masyarakat.

BACAJUGA

Disrupsi dan Suksesi Tampuk Kepemimpinan

Disrupsi dan Suksesi Tampuk Kepemimpinan

Kamis, 24/8/23 | 06:58 WIB

Pada masa kolonial, interaksi dengan kekuatan kolonial Belanda mengubah sistem pemerintahan tradisional. Kerajaan-kerajaan di Jawa dikuasai oleh Belanda dengan simbol kekuasaan yang dipertahankan, tetapi keputusan penting ditentukan oleh Belanda. Setelah kemerdekaan tahun 1945, sistem pemerintahan berubah menjadi republik demokrasi. Meskipun begitu, beberapa kerajaan masih mempertahankan peran sosial dan budaya dalam masyarakat.

Di tengah perubahan ini, Kesultanan Yogyakarta adalah salah satu contoh yang menarik perhatian. Sri Sultan Hamengku Buwono X (HBX) berperan sebagai kepala daerah dan juga raja serta perannya dalam suksesi takhta. Dalam konteks ini, sabda dan dawuh yang dikeluarkan oleh Sri Sultan HBX memiliki makna yang signifikan dalam memberikan arahan dan otoritas kepada masyarakat.

Sabda dan dawuh merupakan alat komunikasi kekuasaan yang sah dari Sri Sultan HBX sebagai Raja Yogyakarta. Pada tahun 2015, Sri Sultan HBX mengeluarkan sabda dan dawuh yang mengubah gelar Sultan dan mengangkat Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi GKR Mangkubumi, posisi penting dalam suksesi takhta. Sabda dan dawuh memiliki otoritas dan legitimasi dalam konteks perubahan suksesi takhta.

Pengangkatan GKR Pembayun menjadi GKR Mangkubumi memicu berbagai respons di masyarakat. Terdapat pendukung dan penentang, serta kelompok yang netral terhadap perubahan ini. Konflik internal muncul dalam keraton dan masyarakat sebagai hasil dari perbedaan interpretasi, nilai, dan pandangan terhadap sabda dan dawuh.

Pendekatan Max Weber tentang kekuasaan, otoritas, dan legitimasi digunakan untuk menganalisis sabda dan dawuh Sri Sultan HBX. Kedua komunikasi ini mencerminkan kekuasaan karismatik dan tradisional, otoritas sebagai raja, serta legitimasi yang berasal dari keyakinan masyarakat terhadap peran dan keputusan Sultan. Konflik yang muncul juga mencerminkan dinamika antara kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam konteks suksesi takhta kerajaan.

Dalam pengembangan teori, ditemukan konsep baru yang disebut Power and Social Appraisal. Konsep ini menggambarkan kompleksitas interaksi antara kekuasaan, otoritas, legitimasi, dan penilaian sosial dalam komunikasi. Penggunaan konsep ini membantu memahami bagaimana penilaian sosial individu mempengaruhi persepsi terhadap kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam komunikasi. Kekuasaan Sri Sultan HBX memiliki dasar legitimasi yang berasal dari garis keturunan, adat, dan pengakuan masyarakat. Pengangkatan GKR Pembayun sebagai GKR Mangkubumi menjadi perubahan penting dalam struktur kekuasaan dan pewarisan takhta di Kesultanan Yogyakarta. Namun, pengangkatan ini juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di masyarakat. Konflik yang muncul mencerminkan usaha mencapai konsensus sosial dalam menghadapi perubahan. Dalam konteks konflik tersebut, sabda dan dawuh Sri Sultan HBX menggambarkan penggunaan kekuasaan, otoritas, dan legitimasi dalam merespon perubahan sosial dan tuntutan zaman.

Dengan demikian, artikel ini memberikan wawasan tentang peran komunikasi kekuasaan dalam merespons perubahan sosial dan budaya. Sabda dan dawuh tidak hanya sekadar pesan, tetapi juga alat untuk membentuk norma, nilai baru, dan arahan moral dalam masyarakat. Penggunaan konsep power and social appraisal memberikan pandangan baru tentang bagaimana kekuasaan dinilai dan diterima dalam komunikasi, serta dampaknya terhadap struktur kekuasaan dan pewarisan takhta dalam kerajaan.

Tags: #Sigit Surahman
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Mengobrolkan “Sampai Jadi Debu”

Berita Sesudah

Persoalan Nama Diri

Berita Terkait

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Persoalan Nama Diri

Discussion about this post

POPULER

  • Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

    Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Turun ke Lapangan, Pastikan Pembenahan Sungai dan Air Bersih di Padang Berjalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Huruf Miring dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024