Jumat, 12/6/26 | 07:42 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Iwan Fals merupakan musisi legendaris Indonesia yang menjadi saksi perjalanan kehidupan sosial dan masyarakat di negeri ini. Lagu-lagu Iwan Fals pada umumnya bertemakan kehidupan dan kritik sosial. Salah satu lagunya yang berjudul “Rindu Tebal” tampil dengan tema yang berbeda. Lagu yang rilis bersama album Sugali pada tahun 1984 ini menampilkan tema kerinduan pada keluarga yang dibawa dengan lantunan genre country. Tokoh dalam lagu ini diceritakan pergi dari desa bukan dengan cara yang baik, melainkan diusir oleh ayahnya sendiri. Penyampaian wacana tersebut dilakukan dengan menggunakan beberapa metafora yang menampar sebab beberapa frasa dalam lirik lagu tersebut mengandung analogi-analogi dan unsur lokalitas  yang ada dalam masyarakat. Lokalitas merupakan bagian dari konteks sosial yang ada dalam wacana.

BACAJUGA

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Wacana merupakan satuan bahasa yang paling lengkap, berisi lebih dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi, memiliki awal dan akhir yang jelas, serta berkesinambungan. Mulyana (2005:69) menyatakan bahwa prinsip pemahaman wacana diperlukan untuk memahami wacana. Salah satu prinsip pemahaman tersebut ialah prinsip analogi. Prinsip analogi berfungsi sebagai penjelas untuk fenomena bahasa yang tidak terstruktur atau menggunakan gaya bahasa lain. Prinsip analogi digunakan untuk mengevaluasi wacana yang membutuhkan penerapan berbagai pemahaman pengetahuan. Sebab analogi akan menyimpulkan kebenaran umum dari pengamatan terhadap fenomena tertentu.

Prinsip lokalitas adalah unsur-unsur kemasyarakatan atau kelompok yang menempati ruang tersebut. Lokalitas bisa saja merujuk kepada kebudayaan, sejarah, geografi, bahasa, dan nilai-nilai khas suatu daerah. Lokalitas berfungsi sebagai pembangun identitas dan makna dari sebuah lagu. Berikut beberapa analisis terkait analogi dan lokalitas pada lirik lagu “Rindu Tebal” karya Iwan Fals.

Analogi

Penggunaan kata “Tanah kelahiranku” merujuk pada makna tempat di mana sang pengarang lagu lahir. Tempat kelahiran menggambarkan akar budaya, sumber kehidupan, atau fondasi identitas seseorang. Tanah bersifat abadi, sementara manusia fana. Hal tersebut merupakan simbol keberlanjutan dan kepulangan. Sifat tanah yang menopang beban menggambarkan bagaimana asal-usul menjadi kekuatan pendukung saat seseorang menghadapi kehidupan di luar sana. Oleh sebab itu, kata “tanah” dalam konteks pemakaian dianalogikan sebagai tempat di mana seseorang berakar, tumbuh, dan kembali.

Pada bait kedua lagu tersebut, terdapat frasa “Rinduku tebal”. Tebal merupakan adjektiva yang berarti tidak tipis dan digunakan dalam berbagai konteks seperti benda fisik, bunyi, atau tulisan untuk penekanan atau penonjolan bagian teks yang penting. Penggunaan kata “tebal” merupakan sebuah metafora yang memberikan kesan bahwa rindu tersebut memiliki berat dan beban yang menghimpit secara nyata di dalam batin pengarang lagu.

Pada puncak lagu terdapat frasa “coreng hitam”. Dalam konteks bahasa dan sastra, frasa tersebut memiliki analogi untuk noda, aib, atau cacat yang merusak sesuatu yang sebelumnya bersifat bersih, murni, atau terhormat. Secara visual, hitam merupakan warna yang kontras dan tajam, hingga corengan tersebut menjadi pusat perhatian yang tidak bisa diabaikan. “Coreng hitam di muka bapak” merupakan lirik kontras yang memperlihatkan sesuatu yang bersih telah dirusak harga dirinya oleh beberapa sebab dan kejadian.

Lokalitas

Unsur lokalitas terdapat pada lirik lagu yang diawali dengan kata “Sewindu”. Dalam konteks keseluruhan lagu, kata ‘sewindu’ bukanlah sekedar siklus waktu yang sebentar. “Sewindu” dalam budaya Jawa merupakan istilah yang merujuk pada periode selama delapan tahun. Istilah tersebut berasal dari penanggalan Jawa yang diciptakan oleh Sultan Agung (Mabruri, 2022). Secara analogi, sewindu juga bisa dikaitkan bahwa kata “sewindu” merupakan pembangun dari atmosfer ketabahan dan kesabaran. Sebab delapan tahun merupakan waktu yang cukup bagi sebuah pohon untuk tumbuh besar atau bagi tanah berganti rupa.

Analisis terhadap lagu “Rindu Tebal” karya Iwan Fals menunjukkan bahwa analogi dan lokalitas bukanlah sekadar sebagai hiasan lirik, melainkan sebagai instrumen untuk menggambarkan kedalaman konflik batin dan kerinduan yang dialami seorang yang terusir. Lokalitas yang menggambarkan siklus ketabahan menggunakan istilah Jawa “Sewindu” yang menjadi pondasi yang kuat. Analogi “tebal” menunjukkan rindu yang benar-benar berat dan menjadi beban yang nyata; “Coreng hitam” menunjukkan sebuah analogi noda dan aib yang merusak kehormatan keluarga ; “Tanah kelahiran” menunjukkan bahwa bagaimanapun ia tetap memandang tempat kelahiran dan terusir adalah tempat ia untuk pulang sejauh apa pun ia berkelana.

Secara keseluruhan, lagu ini merupakan narasi tentang kerinduan yang murni namun terhalang oleh dosa masa lalu. Melalui prinsip analogi dan lokalitas, Iwan Fals berhasil membuktikan bahwa rindu yang mendalam sering melukai seperti rindu dan harapan untuk pulang ke tempat lahir sementara seseorang dalam keadaan terusir.

Tags: #Faatir Tora Ugraha
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kemenag Gelar “Coaching Clinic” AI bagi Guru di Ramadan

Berita Sesudah

Safari Ramadan di Batipuh Panjang Iqra Chissa Tegaskan Komitmen Perjuangkan Kebutuhan Pembangunan Masyarakat

Berita Terkait

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

Minggu, 31/5/26 | 23:30 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswi Sastra Indonesia dan  Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Film Gowok:...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

Minggu, 31/5/26 | 23:11 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   "Membaca Ulang “Surat buat Tuhan” di Tengah Budaya Tak Pernah...

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Safari Ramadan di Batipuh Panjang  Iqra Chissa Tegaskan Komitmen Perjuangkan Kebutuhan Pembangunan Masyarakat

Safari Ramadan di Batipuh Panjang Iqra Chissa Tegaskan Komitmen Perjuangkan Kebutuhan Pembangunan Masyarakat

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wagub Sumbar Jadi Motor Pemenangan Caketum HIPMI, Pengamat Ingatkan Risiko Konflik Kepentingan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yusri Latif Kembali Pimpin PKB Padang: Incar 6 Kursi DPRD dan Wali Kota

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Saksikan Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Investasi Kawasan Wisata Terpadu Padang Sarai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026