Sabtu, 24/10/26 | 07:15 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Mengobrolkan “Sampai Jadi Debu”

Minggu, 27/8/23 | 13:16 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

“Sampai Jadi Debu” adalah salah satu lagu dari Banda Neira yang menurut saya begitu romantis. Bila didengarkan, lagu ini berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 6 menit 48 detik. Meskipun tergolong lama, lagu ini justru memiliki lirik yang singkat dan sederhana. Lagu yang turut serta menampilkan gubahan musik dari Gardika Gigih ini terasa amat dalam dan menyentuh.

Beberapa hari lalu saya mendengarkan lagu ini lagi untuk kesekian kalinya. Sembari mendengar lagu, saya membaca sebuah buku yang baru saja dibeli. Membaca sambil mendengar lagu adalah dua aktivitas yang sering saya lakukan secara beriringan. Di halaman pertama buku yang sedang dibaca itu saya mendapati sebuah pertanyaan yang membuat saya agak tercenung.

“Apa makna pernikahan bagi kalian berdua?” Begitulah bunyi pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang sebetulnya ditanyakan oleh seorang psikolog kepada kliennya ketika menjalani konseling pranikah. Saya turut memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebab saya juga menanyakannya kepada diri sendiri.

Di saat sedang tercenung itu, Rara Sekar mulai menyanyikan lirik setelah dua menit lebih suara piano mengalun lirih. “Badai Tuan telah berlalu/ salahkah ku menuntut mesra?/ Tiap pagi menjelang/ Kau di sampingku/ Ku aman ada bersamamu”. Pada lirik setelahnya, Ananda Badudu juga turut serta bernyanyi. Liriknya berbunyi, “Selamanya/ Sampai kita tua/ Sampai jadi debu/ Ku di liang yang satu/ Ku di sebelahmu”. Begitulah bunyi lirik di bait pertama lagu itu.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Bait kedua lagu “Sampai Jadi Debu” dinyanyikan oleh Ananda Badudu. “Badai Puan telah berlalu/ Salahkah ku menuntut mesra?/ Tiap Taufan menyerang/ Kau di sampingku/ Kau aman ada bersamaku”. Begitulah liriknya dinyanyikan.

Entah bisa dikaitkan entah tidak, makna yang terpikirkan sejak lama terkait pertanyaan yang ditemukan dalam buku tadi ialah seperti dalam lirik yang baru saja didengarkan. Pada hubungan yang dijalin oleh Tuan dan Puan di dalam lagu, terdapat ruang untuk bermesraan bagaimanapun badai berlalu-lalang. Kemesraan itu sendiri adalah sesuatu yang saling diberikan serta saling diterima. Pada hubungan keduanya juga terdapat rasa aman. Sebagaimana kemesraan, rasa aman ini pun juga saling diberikan dan diterima.

Lagu Banda Neira yang romantis ini sebetulnya berlatar belakang kisah yang begitu menyentuh. Ananda Badudu membuat lagu ini berdasarkan kisah cinta kakek dan neneknya (ia memanggilnya Moma dan Popa). Lagu ini pertama kali diperdengarkan kepada Momanya ketika beliau harus dirawat di ruang yang setingkat lebih tinggi dari ICU. Ruang yang katanya sebagai tempat untuk menangani pasien yang berada di ambang hidup dan mati.

Ananda Badudu juga mengungkap bahwa Momanya telah dua kali berhasil sembuh dari kanker dan berjuang dengan diabetes. Barangkali, bagian inilah yang disebut sebagai “Tiap taufan menyerang” di dalam lirik. Meski begitu, Popa selalu ada di sampingnya dan meyakinkan istrinya bahwa ia akan selalu aman bersamanya. Sebagaimana lagu, bagi keduanya hal itu berlangsung selamanya, sampai mereka tua, sampai menjadi debu.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Fenomena Imbuhan Se-

Berita Sesudah

Sabda dan Dawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Perspektif Max Weber

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Berita Sesudah
Disrupsi dan Suksesi Tampuk Kepemimpinan

Sabda dan Dawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Perspektif Max Weber

Discussion about this post

POPULER

  • Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    Diduga Timbun dan Jual Kembali Solar Subsidi, Dua Pria di Sijunjung Diamankan Polisi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perluasan Area Perkebunan, Kabupaten Solok Siap jadi Lumbung Kopi dan Kakao Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbaiki Akses Warga, Pemkab Dharmasraya Ganti Lantai Dua Jembatan Bailey dengan Baja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pelantikan DPD KNPI, Bupati Dharmasraya Ajak Pemuda Bersinergi dengan Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026