Jumat, 24/4/26 | 22:18 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Mengobrolkan “Sampai Jadi Debu”

Minggu, 27/8/23 | 13:16 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

“Sampai Jadi Debu” adalah salah satu lagu dari Banda Neira yang menurut saya begitu romantis. Bila didengarkan, lagu ini berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 6 menit 48 detik. Meskipun tergolong lama, lagu ini justru memiliki lirik yang singkat dan sederhana. Lagu yang turut serta menampilkan gubahan musik dari Gardika Gigih ini terasa amat dalam dan menyentuh.

Beberapa hari lalu saya mendengarkan lagu ini lagi untuk kesekian kalinya. Sembari mendengar lagu, saya membaca sebuah buku yang baru saja dibeli. Membaca sambil mendengar lagu adalah dua aktivitas yang sering saya lakukan secara beriringan. Di halaman pertama buku yang sedang dibaca itu saya mendapati sebuah pertanyaan yang membuat saya agak tercenung.

“Apa makna pernikahan bagi kalian berdua?” Begitulah bunyi pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang sebetulnya ditanyakan oleh seorang psikolog kepada kliennya ketika menjalani konseling pranikah. Saya turut memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebab saya juga menanyakannya kepada diri sendiri.

Di saat sedang tercenung itu, Rara Sekar mulai menyanyikan lirik setelah dua menit lebih suara piano mengalun lirih. “Badai Tuan telah berlalu/ salahkah ku menuntut mesra?/ Tiap pagi menjelang/ Kau di sampingku/ Ku aman ada bersamamu”. Pada lirik setelahnya, Ananda Badudu juga turut serta bernyanyi. Liriknya berbunyi, “Selamanya/ Sampai kita tua/ Sampai jadi debu/ Ku di liang yang satu/ Ku di sebelahmu”. Begitulah bunyi lirik di bait pertama lagu itu.

BACAJUGA

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Bait kedua lagu “Sampai Jadi Debu” dinyanyikan oleh Ananda Badudu. “Badai Puan telah berlalu/ Salahkah ku menuntut mesra?/ Tiap Taufan menyerang/ Kau di sampingku/ Kau aman ada bersamaku”. Begitulah liriknya dinyanyikan.

Entah bisa dikaitkan entah tidak, makna yang terpikirkan sejak lama terkait pertanyaan yang ditemukan dalam buku tadi ialah seperti dalam lirik yang baru saja didengarkan. Pada hubungan yang dijalin oleh Tuan dan Puan di dalam lagu, terdapat ruang untuk bermesraan bagaimanapun badai berlalu-lalang. Kemesraan itu sendiri adalah sesuatu yang saling diberikan serta saling diterima. Pada hubungan keduanya juga terdapat rasa aman. Sebagaimana kemesraan, rasa aman ini pun juga saling diberikan dan diterima.

Lagu Banda Neira yang romantis ini sebetulnya berlatar belakang kisah yang begitu menyentuh. Ananda Badudu membuat lagu ini berdasarkan kisah cinta kakek dan neneknya (ia memanggilnya Moma dan Popa). Lagu ini pertama kali diperdengarkan kepada Momanya ketika beliau harus dirawat di ruang yang setingkat lebih tinggi dari ICU. Ruang yang katanya sebagai tempat untuk menangani pasien yang berada di ambang hidup dan mati.

Ananda Badudu juga mengungkap bahwa Momanya telah dua kali berhasil sembuh dari kanker dan berjuang dengan diabetes. Barangkali, bagian inilah yang disebut sebagai “Tiap taufan menyerang” di dalam lirik. Meski begitu, Popa selalu ada di sampingnya dan meyakinkan istrinya bahwa ia akan selalu aman bersamanya. Sebagaimana lagu, bagi keduanya hal itu berlangsung selamanya, sampai mereka tua, sampai menjadi debu.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Fenomena Imbuhan Se-

Berita Sesudah

Sabda dan Dawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Perspektif Max Weber

Berita Terkait

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Suatu Hari di Sekolah

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)   Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman...

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Berita Sesudah
Disrupsi dan Suksesi Tampuk Kepemimpinan

Sabda dan Dawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Perspektif Max Weber

Discussion about this post

POPULER

  • Wakil Menteri Perindustrin, Faisol Riza didampingi Bupati Pasaman, Welly Suheri saat menguji Balon Ketua DPC PKB Kota Padang, Yusri Latif. Kamis, (23/4) [foto : sci/yrp]

    DPP PKB Kantongi Hasil UKK, 15 Ketua DPC di Sumbar Segera Ditetapkan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Annisa Hadiri Sosialisasi Pencabutan PBPH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Oleh sebab itu, Oleh karena itu, atau Maka dari Itu?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026