Senin, 26/10/26 | 00:28 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Cuci Tangan

Minggu, 31/7/22 | 13:42 WIB

Salman Herbowo
(Kolumni Rubrik Renyah Scientia.id)

Betapa masih melakat diingatan kita semua mengenai betapa pentingnya mencuci tangan. Kira-kira di awal tahun 2020 saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, himbuan untuk sering mencuci tangan sering kita dengar atau baca. Adaptasi Kebiasaan Baru dengan langkah 3M, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, begitu isi himbuan tersebut. Namun, bukan himbuan itu yang menjadi topik pembahasan saya, melainkan tentang cuci tangan dengan segala pemaknaannya.

Cuci tangan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat tiga pengertian, yaitu membasuh tangan dengan air, tidak turut campur dalam suatu masalah walaupun mengetahuinya, dan tidak mau terlibat dalam kesalahan yang dibuat orang lain. Untuk makna pertama, saya kira itu hal yang biasa dilakukan. Setidaknya itu rutinitas saat hendak dan selesai makan nasi. Bagi saya ada hal yang kurang jika harus menggunakan sendok saat menikmati nasi padang dengan aneka kuah gulai nan menggoda.

Lain lagi dengan pemaknaan yang kedua dan ketiga. Istilah cuci tangan tidak lagi menjadi sebuah aktivitas fisik dengan membersihkan jemari tangan menggunakan sabun dan air, tetapi sudah pada sebuah sikap atau tindakan terhadap suatu persoalan. Untuk arti kedua dan ketiga, menurut saya masihlah memiliki konotasi makna yang positif, sama seperti arti yang pertama, misalnya ketika rekan melakukan pelanggaran, sudah seharusnya kita tidak turut campur agar tidak kena getahnya.

Pada arti yang ketiga sebetulnya masih berhubungan dengan makna kedua. Saya kira jarang yang mau bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuat oleh orang lain, bukan berarti tidak ada. Selain itu, ada juga pemaknaan “cuci tangan” yang lebuh dominan tersebar dalam masyarakat yang berkonotasi negatif, yaitu seseorang yang melakukan kesalahan dan menuntupinya atau bahkan melimpahkannya kepada yang lain.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Minggu, 25/10/26 | 17:48 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Pada dasarnya, cuci tangan memiliki tujuan yang baik, yaitu membersihkan tangan dari segala yang kotor. Bukan berarti segala yang kotor itu tidak baik, terkadang ada juga yang bilang kalau kotor itu hebat. Kira-kira itu yang saya ingat pada sebuah iklan produk sabun cuci pakaian. Akan tetapi, bila didiamkan terlalu lama dan tidak segera untuk dicuci tentu akan menjadi masalah dikemudian hari, tidak terkecuali tangan yang kotor.

Istilah “cuci tangan” ini yang mengingatkan saya pada pembicaraan beberapa waktu belakangan. Beberapa teman menyeletuk bahwa kemampuan untuk “cuci tangan” terkadang juga diperlukan untuk “menyelesaikan” sebuah persoalan. Tentu saja pernyataan itu membuat kami mengangguk dan terdiam beberapa saat, ternyata “cuci tangan” memang sebuah kemampuan yang perlu diketahui, atau barangkali juga dipelajari.

Namun, ada satu hal yang membuat kami bergidik seketika saat teman itu mengeluarkan sebuah istilah. Istilah ini baginya tidak sekadar guyonan atau pepatah saja, tapi juga punya makna yang perlu direnungkan. Baginya istilah ini seperti sebuah jurus untuk lari dari sebuah persoalan, yaitu “lempar batu, lalu cuci tangan dan masukan ke dalam saku”. Tentu akan sulit untuk mencari tangan siapa yang melempar batu jika cara kerjanya begitu. Sampai di rumah saya malah memikirkan kepala siapa yang kena dari lemparan batu itu.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Bahasa, Kejiwaan, dan Mental dalam Ranah Psikolinguistik

Berita Sesudah

Konstruksi Perempuan dalam Novel Tarian Bumi

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Sepanjang Segelas Kopi Susu

Minggu, 25/10/26 | 17:48 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Segelas kecil kopi susu ternyata bisa habis dalam satu...

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Berita Sesudah
Konstruksi Perempuan dalam Novel Tarian Bumi

Konstruksi Perempuan dalam Novel Tarian Bumi

Discussion about this post

POPULER

  • Kasat Lantas Polres Pariaman, IPTU Afrizal Sahar.[foto:ist]

    Satlantas Polres Pariaman Siap Laksanakan Operasi Patuh Singgalang 2026, Kerahkan 26 Personel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Hari Pencarian, Balita yang Hilang di Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sidak Bupati Dharmasraya, Lahan dan Hutan Terbakar Sudah Ditanami Sawit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Kongres XX IPPNU, Ketum PP IPPNU Sumbar Tri Ramadhani Siap Maju Caketum PP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menaker Yassierli Jadi Keynote Speech di Acara Temu Akbar Alumni IKIP Padang/UNP, Ini Pesannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa 5.000 Hektare Tanah Ulayat di Dharmasraya Digugat, Penggugat Tuntut Ganti Rugi Rp1,3 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rumah Singgah Sahabat Donizar, Menjaga Harapan Warga Perantauan di Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026