Sabtu, 28/2/26 | 13:42 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Parafrase dan Orisinalitas Karya Tulis

Minggu, 13/3/22 | 12:05 WIB
Oleh: Elly Delfia, S.S., M.Hum. (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Suatu ketika pada masa-masa awal perkuliahan S1, saya teringat kata-kata dosen yang memberikan tugas untuk melakukan parafrase terhadap sebuah kalimat. Saat itu, saya bingung dan tidak bisa melakukannya karena belum terlalu paham dengan parafrase. Saya pernah beberapa kali mendengar kata parafrase dari dosen-dosen dan guru bahasa Indonesia di SMA. tapi saat itu saya belum benar-benar paham apa yang dimaksud dengan parafrase.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai membaca pengertian parafrase. Saya juga mendengar dosen memberi penjelasan tentang materi parafrase, bahkan juga dilatih memparafrasekan kalimat menjadi paragraf.  Lalu apa sebenarnya pengertian parafrase?

Kridalaksana (2008:172) mendefinisikan parafrase (pharaphrase) sebagai pengungkapan kembali konsep dengan cara lain dalam bahasa yang sama tanpa mengubah maknanya dengan memberi kemungkinan penekanan yang agak berlainan. Keraf (2008: 134) menyebut parafrase dengan perifrasis dan memasukkannya ke dalam salah satu gaya bahasa yang mirip dengan pleonasme. Keraf menyebut perifrasis dengan gaya bahasa yang menggunakan kata-kata lebih banyak dari yang diperlukan, contohnya:

1) Kata mati atau meninggal dapat diparafrase menjadi kalimat:  Ia telah beristirahat dengan damai.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

2) Kata ditolak dapat diparafrase menjadi kalimat:  Jawaban bagi permintaan saudara adalah tidak.

Parafrase juga dapat dilakukan terhadap kutipan pendapat ahli atau pemikiran orang lain yang digunakan untuk mendukung pendapat atau ide kita dalam sebuah karya tulis, misalnya kita membutuhkan pengertian kajian stilistika untuk mendukung pemikiran dalam sebuah artikel. Kita dapat mengutip pendapat ahli dengan kutipan langsung seperti contoh berikut.

“Kajian stilistika adalah kajian kebahasaan plus penjelasan fungsi keindahannya”. (Nurgiyantoro, 2017:118)

Kutipan di atas merupakan kutipan langsung dari buku berjudul Stilistika yang ditulis oleh Burhan Nurgiyantoro terbitan tahun 2017. Nah, untuk menghindari kemiripan yang berujung pada plagiarisme, bagian yang dikutip dapat diparafrase menjadi kutipan tidak langsung dengan contoh-contoh berikut:

  1. Nurgiyantoro (2017:118) mendefinisikan stilistika sebagai kajian kebahasaan ditambah penjelasan fungsi keindahannya.
  2. Stilistika dijelaskan Nurgiyantoro (2017:118) sebagai kajian kebahasaan dan penjelasan fungsi keindahannya.
  3. Nurgiyantoro (2017:118) menyatakan bahwa kajian stilistika merupakan kajian kebahasaan ditambah penjelasan fungsi keindahannya.  

Contoh-contoh di atas menunjukkan beberapa teknik dalam melakukan parafrase. Parafrase dapat dilakukan dengan cara mengubah redaksi kalimat yang dikutip dan menambahkan kata-kata atau frase berikut: menurut pendapat, menyatakan, mendefinisikan, mengungkapkan, memberikan pandangan, memandang, dan sebagainya untuk menggantikan kata adalah dan merupakan dalam sebuah definisi atau pengertian pada kutipan. Teknik mengubah redaksi kalimat dalam parafrase tidak boleh mengubah isi dan makna atau maksud dari kalimat yang dikutip. Untuk mengubah redaksi kalimat dengan benar agar tidak mengubah isi dan makna, seorang penulis harus memiliki banyak perbendaraan kata agar dapat mengganti-ganti redaksi kalimat menjadi lebih beragam atau bervariasi tanpa mengubah makna. Caranya adalah memperkarya diri dengan bacaan-bacaan dan diskusi-diskusi yang dapat menambah kosakata.

Dalam penulisan karya ilmiah, seperti skripsi, tesis, disertasi, dan artikel ilmiah lainnnya, parafrase bertujuan untuk menghindari similarity atau kemiripan dan plagiarisme terhadap karya orang lain. Keaslian atau orisinalitas merupakan penilaian penting terhadap sebuah karya tulis, baik dalam karya tulis ilmiah maupun dalam karya tulis kreatif.  Untuk mengecek keaslian karya tulis yang bebas dari unsur plagiarisme, biasanya dilakukan cek turnitin. Hasil cek turnitin dapat menentukan tingkat persentase similarity atau kemiripan sebuah karya tulis dengan karya orang lain. Karya tulis yang baik memenuhi standar orisinalitas atau memiliki similarity rata-rata di bawah angka 20 %. Tingkat persentase similarity ini bisa berbeda-beda untuk masing-masing instansi atau lembaga yang memberikan penilaian. Jumlahnya tergantung pada angka yang disepakati instansi atau lembaga tersebut. Ada yang menetapkan angka similarity di bawah 25 %, ada juga di bawah 20 %, dan ada yang di bawah 15 %. Parafrase adalah jalan keluar atau solusi untuk menghindari tingkat similarity di bawah persentase yang ditetapkan. Parafrase dapat dilakukan terhadap karya ilmiah seperti yang sudah disebutkan sebelumnya maupun karya kreatif, seperti novel, cerpen, puisi, dan lain-lain.

Parafrase penting bagi seorang penulis untuk menghindari plagiarisme. Seorang pegawai negeri, dosen, guru, atau karyawan bisa tidak lulus naik pangkat jika ditemukan plagiarisme dalam karyanya. Seorang mahasiswa bisa batal meraih gelar sarjana jika ditemukan plagiarisme dalam skripsinya, atau seorang peserta lomba menulis kreatif (puisi, cerpen, novel, dan sejenisnya) tidak bisa menang lomba jika ditemukan unsur plagiarisme dalam karyanya. Demikian pentingnya parafrase untuk meminimalisasi tingkat similarity atau kemiripan yang berujung pada cap plagiarisme terhadap sebuah karya tulis.

Sesungguhnya, ide dalam sebuah karya tulis selalu berulang dan memiliki kemungkinan untuk mirip antara satu sama lain, tetapi kemampuan parafrase seorang penulis membuat ide menjadi berbeda atau tidak mirip dengan karya tulis orang lain.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Rumitnya Mencari Sisir Rambut

Berita Sesudah

Puisi-puisi Reno Wulan Sari

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

Minggu, 22/2/26 | 22:46 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Beberapa minggu terakhir dunia digital dihebohkan oleh...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Berita Sesudah
Reno Wulan Sari

Puisi-puisi Reno Wulan Sari

Discussion about this post

POPULER

  • Bupati Dharmasraya Sidak Pangkalan dan Pengecer LPG 3 Kg, Temukan Pelanggaran Distribusi

    Bupati Dharmasraya Sidak Pangkalan dan Pengecer LPG 3 Kg, Temukan Pelanggaran Distribusi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Allah dan Orang Tua dalam Bisnis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Dharmasraya Sosialisasi ke Agen dan Pangkalan Gas LPG, Wanti-wanti Soal HET

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Dharmasraya Terbitkan SE Tentang Pengawasan dan Penyaluran Gas Tiga Kilogram

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024