Sabtu, 29/8/26 | 07:16 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Ngomong Kok Blaster, padahal Bukan Blasteran!

Minggu, 06/3/22 | 08:46 WIB

 Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

“Probably gue tuh yang kek confuse gimana ya, yang kek skeptical gitu gak sih, ya which gue masih enter sandman gitu, yang behind, pokoknya dont look back in anger gitu2 lah.” Begitu kicauan twitter salah seorang teman. Kicauannya blaster, padahal dia bukan blasteran. Tentunya dalam keseharian kita juga sering menemukan fenomena serupa demikian. Mungkin saat menyaksikan talk show di televisi, berbicara dengan teman sejawat, caption foto di instagram, status di facebook, komunikasi para youtuber, atau ketika mendengarkan podcast, dan di segala kesempatan lainnya.

Cara komunikasi seperti itu menjadi sebuah problematik. Ada yang menanggapi positif dan ada pula negatif. Positifnya karena tidak menemukan padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia sehingga menggunakan bahasa Inggris untuk menunjukkan kemampuan bilingual seseorang. Negatifnya hanya ingin terlihat gaul dan bergengsi agar terlihat pintar atau intelektual atau bahkan sekedar ikut-ikutan tren.

Menanggapi cara komunikasi itu, saya menyebutnya bahasa blaster. Ada beberapa pertanyaan yang muncul, benarkah tidak ada padanan kata yang bersangkutan dalam bahasa Indonesia? Apakah betul dapat menentukan kecakapan berbahasa seseorang pada kedua bahasa yang bersangkutan? Benarkah ngomong blaster itu bergengsi dan membuat kesan intelektual?

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Dalam ilmu linguistik, bahasa, blaster tersebut menjadi bahan kajian. Bahasa seperti itu disebut dengan campur kode. Sebetulnya, mencampur kedua bahasa tidak hanya terjadi antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Fenomena demikian juga dijumpai antara bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah, seperti mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Minangkabau, bahasa Jawa, dan lain sebagainya.

Menyoal tidak adanya padanan kata dalam bahasa Indonesia, saya kira tidak serumit demikian. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diperbaharui secara bertahap. Beberapa kata pun menjadi dibakukan meskipun diserap dari bahasa asing atau bahasa daerah. Untuk obrolan sehari-hari, tentu tidak sulit untuk mencari padanan kata yang telah tersedia dalam bahasa Indonesia kecuali dalam istilah ilmiah yang terkadang bahasa asing memang memiliki istilah yang belum ada terjemahan atau padanannya.

Ngomong blaster juga belum tentu menunjukkan kecakapan berbahasa seseorang pada kedua bahasa yang bersangkutan. Tentu kemampuan berbahasa dapat diukur jika seseorang mampu berbahasa secara konsisten. Kira-kira, kemampuan bahasa Inggris seperti apa yang mampu diperoleh jika hanya menyematkan literally, which is, dan probaly?

Satu hal yang menarik dari bahasa Indonesia ialah adanya ragam formal dan ragam informal. Hal ini dikemukakan oleh Ivan Lanin selaku aktivis bahasa dalam salah satu podcast bersama Leila S. Chudori. Perbedaan ragam bahasa tersebut disebut dengan diglosia. Dalam bahasa Indonesia, perbedaan ragam bahasa antara ragam formal dan ragam informal dapat dikatakan lumayan jauh. Antara keduanya lumayan susah dalam praktiknya ialah ragam formal, sedangkan ragam informal mudah ditemukan dalam berbahasa sehari-hari.

Jika hanya dalam keseharian, bukankah lebih baik menggunakan bahasa Indonesia secara konsisten sembari mengenali padanan kata baru yang telah baku? Terkecuali bagi kamu yang sedang berlatih untuk memantapkan bahasa asing guna keperluan tertentu. Mengenai ragam formal yang konon kabarnya lumayan sulit, alangkah lebih baik dipelajari secara serius mulai detik ini juga tanpa menunda-nunda terutama bagi yang sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah maka tidak heran jika banyak yang menulis ilmiah seperti skripsi sering dicoret atau direvisi secara berulang-ulang.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Senja Ketujuh

Berita Sesudah

“Aikoku Koushinkyoku”, Lagu Jepang Bersejarah di Sumatera Barat

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Berita Sesudah
“Aikoku Koushinkyoku”, Lagu Jepang Bersejarah di Sumatera Barat

“Aikoku Koushinkyoku”, Lagu Jepang Bersejarah di Sumatera Barat

Discussion about this post

POPULER

  • Sekdaprov Sumbar, Arry Yuswandi. [foto:ist]

    Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paket Data Masih Aktif, Telkomsel Blokir Internet karena Tagihan Pulsa Darurat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga ASN Pemprov Sumbar Lakukan Perbuatan Asusila di Kantor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harimau vs Singa, Siapa yang Lebih Kuat? Ini Fakta Sains dan Kasus Nyatanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Asal-Usul Kata “Kepo” dan “Julid” di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026