Jumat, 20/2/26 | 02:35 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Mengenal Simulfiks sebagai Imbuhan Nonstandar

Minggu, 29/8/21 | 07:00 WIB
Oleh: Elly Delfia (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Kata dalam bahasa Indonesia tidak hanya terdiri atas kata dasar, tetapi juga kata berimbuhan atau kata berafiks. Imbuhan atau afiks terbagi lagi atas beberapa afiks, seperti prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan simulfiks (imbuhan nonstandar). Simulfiks akan menjadi bahasan pada klinik bahasa Scientia.id minggu ini. Simulfiks merupakan afiks yang tidak digunakan dalam bahasa Indonesia yang menuntut keformalan dan keresmian, seperti forum-forum resmi dan tidak digunakan dalam karya tulis ilmiah seperti artikel, skripsi, tesis, disertasi, buku ajar, dan tidak digunakan dalam karya jurnalistik.  Simulfiks merupakan afiks yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Afiks ini juga tidak terlalu populer dalam bahasa Indonesia seperti halnya prefiks, sufiks, dan infiks disebabkan oleh kemampuan bergabung yang terbatas dengan kata dasar bahasa Indonesia.

Simulfiks merupakan afiks yang dimanifestasikan dengan ciri segmental (ciri fonem atau morfem) yang dileburkan pada kata dasar. Dalam bahasa Indonesia, simulfiks dimanifestasikan dengan nasalisasi fonem pertama suatu bentuk dasar dan lazim digunakan dalam ragam bahasa Indonesia nonstandar (bahasa Indonesia tidak baku) serta juga merupakan perbendaharaan kata pasif (Kridalaksana, 2007:29). Simulfiks diberi lambang {N-} dalam proses afiksasi dan merupakan ragam bahasa Indonesia nonstandar yang berasal dari dialek Jakarta.

Dialek Jakarta berasal dari dialek bahasa daerah Betawi. Dalam dialek Jakarta, tidak ditemukan prefiks {meN-} dan yang ada hanya simulfiks {N-}. Konsep ini simulfiks {N-} dikemukakan oleh Kridalaksana (2007), sementara Muhadjir (1984) menyebut simulfiks {N-} dengan sebutan prefiks {N-}. Prefiks {meN-} dalam dialek Jakarta justru merupakan alternan dari prefiks {N-} dan sebagian besar kata dasar dialek Jakarta menggunakan simulfiks atau prefiks {N-} dalam proses afiksasi (Muhadjir, 1984:87).

Simulfiks disebut afiks nonstandard karena digunakan dalam percakapan bahasa Indonesia dengan situasi yang tidak formal.  Simulfiks berfungsi membentuk verba atau memverbakan nomina, adjektiva, atau kelas kata lain. Contoh simulfiks dalam bahasa Indonesia, kata kopi → ngopi, sate → nyate, kebut → ngebut (Kridalaksana, 2007:29).  Perubahan yang terjadi pada simulfiks {N-} setelah bergabung dengan kata dasar bahasa Indonesia menjadi nge, ng- dan ny- yang kemudian disebut dengan varian dari simulfiks (Delfia, 2010:72). Simulfiks juga merupakan varian dari bentuk standar imbuhan me- dalam bahasa Indonesia. Contoh kalimat dengan kata dasar yang bergabung dengan simulfiks dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB
Struktur Kalimat Peraturan Perundang-undangan

Problematika Penulisan Kata Majemuk

Minggu, 28/12/25 | 23:00 WIB

A) nge-
1. Ayo kita ngeteh sore-sore sambil curhat-curhatan.
2. Jangan sering ngedumel pada anak.
3. Kata-katanya ngerusak hati gue.

B)  ng-
1. Dia ngajak saya jalan-jalan.
2. Kita ngopi bareng di kampus kemarin.
3. Wartawan media hiburan suka ngorek info tentang artis.

C)  ny-
1. “Mari ngobrol sambil nyate biar asyik ngobrolnya,” kata Tia.
2. Rara nyari tempat nongkrong yang adem.
3. Koruptor sering “nyuci” uang di perusahaan.

Contoh-contoh kalimat tersebut sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari, terutama dipakai di kalangan anak muda. Anak muda tidak ingin terikat dengan penggunaan bahasa baku atau kata-kata baku dalam percakapan sehari-sehari. Mereka lebih senang bersantai dengan menggunakan kata-kata nonstandar atau nonbaku sebagai wujud dari kebebasan dan kreativitas berbahasa. Penggunaan simulfiks adalah salah satu contoh wujud dari kebebasan atau ketidakterikatan pengguna bahasa terhadap bentuk-bentuk bahasa baku.

Simulfiks juga dapat bergabung dengan kata-kata dasar berbahasa asing, seperti kata dasar bahasa Inggris. Simulfiks seperti ini disebut dengan simulfiksasi bahasa Indonesia pada kata dasar berbahasa asing, seperti yang pernah saya tulis dalam tesis S2 yang sudah terbit dalam buku Linguistik dalam Bingkai Kekinian (Delfia, 2010). Contoh simulfiks yang bergabung dengan kata-kata dari bahasa Inggris dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.

  1. Hafiz ngefans sama lagu-lagu barat.
  2. Budaya nongkrong di kafe sambil belajar lagi ngetrend belakangan ini.
  3. Adik ngeprint foto waktu jalan-jalan minggu lalu.
  4. Kakak nginstall komputernya yang mati mendadak.
  5. Sitilagi ngedesign undangan pernikahannya.

Selanjutnya, ada beberapa makna simulfiks saat bergabung dengan kata dasar.  Pertama, makna simulfiks saat bergabung dengan kata dasar yang berkelas kata benda (nomina) adalah ‘melakukan perbuatan yang berhubungan dengan kesenangan dan kenikmatan’. Contohnya:  Ayo kita ngeteh sore-sore sambil curhat-curhatan. Kedua, makna simulfiks saat bergabung dengan kata dasar yang berkelas kata benda adalah ‘melakukan perbuatan yang berhubungan dengan benda seperti yang tersebut pada bentuk dasarnya’. Contohnya: Kita ngopi bareng di kampus kemarin. Ketiga, makna simulfiks saat bergabung dengan kata dasar yang berkelas kata benda adalah ‘melakukan perbuatan yang menghasilkan bentuk seperti yang tersebut pada bentuk dasar’. Contohnya:  Siti sedang ngedesign undangan pernikahannya. Keempat, makna simulfiks saat bergabung dengan kata dasar yang berkelas kata benda adalah ‘menyatakan memiliki rasa suka yang berlebih terhadap yang disebutkan pada bentuk dasarnya’. Contohnya: Hafiz ngefans sama lagu-lagu barat. Kelima, makna simulfiks saat bergabung dengan kata dasar yang berkelas kata benda adalah ‘menjadi seperti yang tersebut pada bentuk dasarnya’. Contohnya: Budaya nongkrong di kafe sambil belajar lagi ngetrend belakangan ini. Makna simulfiks yang timbul akibat proses bergabungnya dengan kata dasar bisa lebih bervariasi dan tergantung pada kata dasar yang dilekatinya dan  perubahan yang terjadi pada kata dasar setelah bergabung dengan simulfiks.

Demikian uraian mengenai simulfiks sebagai salah satu afiks atau imbuhan nonstandar dalam bahasa Indonesia. Semoga mencerahkan.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Yogi Resya Pratama

Berita Sesudah

Generasi Terapung

Berita Terkait

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

KBBI dan Kuasa Badan Bahasa

Minggu, 15/2/26 | 16:59 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik Universitas Andalas) Setelah kapitil, masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan definisi...

Aspek Fonologis dan Keformalan Bahasa

Bon atau Bien? Dua Kata yang Sering Tertukar, tetapi Tidak Pernah Sama

Minggu, 01/2/26 | 14:54 WIB

Oleh: Nani Kusrini (Dosen Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung)   Bon dan bien adalah dua kosakata dalam bahasa Prancis yang...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Berbagai Istilah Tempat Perbelanjaan dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 25/1/26 | 17:00 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Berbelanja merupakan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Selasa, 20/1/26 | 07:09 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas) Suatu sore, adik perempuan saya mendatangi saya dan berkata “Uni sudah...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Minggu, 11/1/26 | 09:57 WIB

Oleh: Dr. Ria Febrina, S.S., M.Hum. (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Tiba-tiba warganet Indonesia heboh...

Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

Onde-Onde dan Klepon: Perbedaan Budaya, Perbedaan Nama

Minggu, 11/1/26 | 09:39 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Tidak...

Berita Sesudah
Generasi Terapung

Generasi Terapung

Discussion about this post

POPULER

  • Wabah

    Wabah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengembangan Nilai-nilai dalam Kelompok

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Istilah Urutan Waktu dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024