
Oleh: Tomi Pratama
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang mengikuti perkembangan globalisasi berusaha mendidik anaknya menggunakan dua bahasa. Biasanya, dua bahasa yang diajarkan orang tua kepada anaknya, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa asing walaupun mereka masih kurang bisa menggunakannya. Hal tersebut biasanya dilatarbelakangi pemikiran orang yang menggunakan bahasa daerah dianggap bahasa tertinggal karena menganggap kosakata daerah “kampungan” terutama di kalangan Gen Z. Upaya yang dilakukan orang tua agar anak mereka bisa menggunakan dua bahasa dengan memberi video edukasi anak-anak, berbicara di rumah, dan mengikuti les bahasa.
Bahasa adalah alat komunikasi berupa bunyi yang disampaikan manusia untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Masyarakat yang menggunakan dua bahasa disebut dengan bilingual atau dwibahasa. Menurut Mackey dalam Chaer (2010:884), dwibahasa diartikan sebagai penggunaan dua bahasa yang digunakan oleh penutur sebagai bahasa ibu sebagai bahasa pertama penutur dan juga menguasai bahasa kedua yaitu bahasa asing yang diperoleh dari lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Salah satu daerah di Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat, tepatnya di Nagari Sundata Utara Jorong Mapun memiliki keunikan yang berbeda dari daerah lain. Kebanyakan masyarakat yang tinggal di Jorong Mapun mampu menggunakan lebih dari satu bahasa. Salah satu alasan mengapa masyarakat Mapun bisa lebih dari satu bahasa karena mayoritas masyarakat Jorong Mapun bermarga Mandailing sehingga masyarakat Jorong Mapun yang tinggal di tengah-tengah lingkungan masyarakat Minangkabau bisa berbahasa Minangkabau.
Jorong Mapun memiliki cerita unik tersendiri tentang asal-usul nama menurut beberapa masyarakat setempat. Pada zaman dahulu orang-orang marga Mandailing dari daerah Tapanuli bermigrasi menuju selatan hingga sampai di salah satu daerah Kabupaten Pasaman sekarang disebut dengan Nagari Sundata Utara. Ketika itu masyarakat yang bermigrasi atau bisa disebut dengan istilah pendatang meminta lahan kosong untuk mereka tempati. Pada saat bernegosiasi antara pendatang dengan penduduk asli salah satu dialog dipercaya asal-usul nama Jorong Mapun “di mapun jadi”.
Jorong Mapun mayoritas marga Mandailing terletak di tengah-tengah masyarakat Minangkabau menimbulkan budaya yang unik. Orang Minangkabau tinggal di dekat Jorong Mapun menyerap bahasa Mandailing salah satunya “sumpu” yaitu sungai dan begitupun sebaliknya orang Mandailing menyerap budaya Minangkabau. Wali Jorong Mapun Bapak Arwin Lubis mengatakan orang Mandailing di Mapun memakai budaya dan adat Minangkabau karena pada saat itu pendatang pertama kali tidak terlalu mengenal budaya dan adat sehingga menyerap dari Minangkabau. Hal tersebut bisa dilihat dari ranji yang dipakai orang Mapun sudah sampai lima sampai enam turunan saat tulisan ini dibuat. Tidak hanya ranji saja mulai dari makanan, pernikahan,falsafah sudah menjadi bagian dari masyarakat Mapun.
Sampai saat ini masyarakat Mapun masih mempertahankan budaya dan adat yang mereka pakai sejak pertama kali datang ke Nagari Sundata Utara. Kisah Jorong Mapun menjadi bukti bahwa bahasa dan budaya yang b erbeda dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya dengan begitu bahasa dan budaya menjadi jembatan untuk melestarikan budaya untuk generasi yang akan datang.






