
Oleh: Maharani Syifa Ramadhan
(Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)
kapiPraktik-praktik kapitalis seperti penguasaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi industri yang sering kali didukung atau difasilitasi oleh negara dapat menghasilkan bentuk-bentuk eksploitasi yang secara tidak proporsional berdampak pada masyarakat marginal (Pangestu et al., 2023). Karya sastra berulang kali merepresentasikan kontradiksi tersebut dengan memperlihatkan bahwa pembangunan dan kemajuan ekonomi pada saat yang sama dapat menghasilkan ketimpangan dan perampasan ruang hidup masyarakat.
Dalam kajian sastra Indonesia, SYAHRIR (2026) menunjukkan bahwa Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari membangun narasi dominasi kekuasaan ketika masyarakat desa mengalami penindasan oleh pembangunan infrastruktur yang eksploitatif. Novel tersebut memperlihatkan otoritas pemerintah dan struktur hierarkis dalam proyek pembangunan dapat menjadi instrumen yang mengontrol masyarakat lokal. Dalam konteks tersebut, pembangunan tidak dikonstruksi sebagai proses yang sepenuhnya netral dan emasipatoris. Sebaliknya, pembangunan menjadi ruang kontestasi antara kekuasaan negara, kepentingan ekonomi dan kehidupan masyarakat saling berkelindan.
Kehidupan masyarakat di zaman modernitas juga berkaitan dengan sistem kapitalis dengan salah satu fokusnya berupa tenaga kerja manusia, sebagaimana dapat dilihat dalam Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Manik (2018) mengkaji novel tersebut melalui representasi individu pekerja keras dan memiliki disiplin tingi dalam mencapai mobilitas sosial. Representasi tersebut memerlukan pembacaan yang lebih ambivalen. Pendidikan, disiplin dan kerja keras tentu memberikan kesempatan bagi individu untuk keluar dari keterbatasan sosial. Namun, representasi bentuk ideal mengenai individu yang disiplin dan produktif juga dapat merefleksikan tuntutan masyarakat kapitalis yang semakin menuntut individu untuk menjadi subjek ekonomi yang produktif. Dengan begitu, novel tersebut tidak hanya dapat dibaca sebagai keberhasilan individual, tetapi juga sebagai teks yang mengonstruksi hubungan kompleks antara aspirasi kehidupan personal, mobilitas sosial, dan tuntutan kapitalis di zaman modernitas.
Hubungan antara kapitalisme dan modernitas perlu dipahami secara hati-hati. Kapitalisme, modernitas, modernisasi, dan modernisme merupakan konsep-konsep yang saling berkaitan, tetapi tidak dapat dipertukarkan begitu saja. Sebagaimana pandangan Weber et al. (1978) bahwa modernitas merujuk pada kondisi sosial yang dibentuk oleh rasionalisasi, perkembangan teknologi, birokrasi, industrialisasi, dan transformasi instituasional. Modernitas dan kapitalisme saling berkelindan, terutama ketika perkembangan teknologi dan rasionalitas institusional diorganisir berdasarkan logika akumulasi ekonomi. Oleh karena itu, kritik terhadap kapitalisme dapat berkembang menjadi kritik terhadap bentuk-bentuk modernitas tertentu, lebih konkret ketika janji kemajuan dan pembangunan rasional menghasilkan ketimpangan, eksploitasi, dan dominasi sosial.
Kritik tersebut juga dapat dilihat dalam karya-karya sastrawan Indonesia yang merepresentasikan struktur politik dan ekonomi dominan. Puisi-puisi karya Okky Madasari, misalnya, mengandung beberapa dimensi Marxisme, antara lain kritik ekonomi, politik, perjuangan kelas, struktur sosial, serta relasi antara kelas dominan dan kelas subordinat (Ridwan & Diana, 2025).
Unsur-unsur tersebut berfokus pada ketimpangan sosial, eksploitasi, dan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter. Melalui representasi karya sastra ini, sastrawan dapat menjadi kritikus terhadap struktur kapitalis bukan karena sastra menawarkan program politik secara langsung, tetapi karena sastra mampu membuka dan mengekspos relasi sosial serta bentuk-bentuk dominasi yang dihasilkan oleh sistem ekonomi yang tidak setara.
Keterkaitan antara sastra, kekuasaan, dan kritik sosial juga sudah lebih dahulu terlihat dalam puisi-puisi Taufiq Ismail. Puisi tersebut mengandung protes sosial dalam konteks politik runtuhnya Orde Lama dan munculnya Orde Baru, sehingga Taufiq Ismail menjadi salah satu tokoh penting Angkatan ’66. Puisi-puisi Taufiq Ismail menunjukkan bagaimana cara karya sastra merespons perubahan sejarah dan mengartikulasikan perlawanan terhadap dominasi politik. Melalui respons tersebut, sastra dapat mengungkap secara kritis kontradiksi relasi kelas, kekuasaan politik, dan ketimpangan sosial. Dalam hal ini, karya sastra terbukti sebagai cerminan realitas sosial yang melampaui batas-batas kelas, budaya dan negara dengan membangun dialog mengenai pengalaman manusia dalam berbagai konteks.
Kritik terhadap kapitalisme dalam sastra Indonesia menjadi semakin signifikan ketika akumulasi keuntungan ekonomi dikaitkan dengan eksploitasi alam. Pembangunan kapitalistik telah mengubah sumber daya alam menjadi komoditas dan memperlakukan tanah, hutan serta ruang hidup sebagai instrumen pertumbungan ekonomi. Sastra Indonesia merepresentasikan akibat proses tersebut melalui narasi mengenai kerusakan lingkungan dan marginalisasi masyarakat lokal. Afni (2018) membahas bahwa Api Awan Asap karya Korrie Layun Rampan merepresentasikan dampak destruktif industri eksploitatif yang merusak kearifan lokal dan menimbulkan krisis ekologis. Novel tersebut menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari struktur ekonomi dan politik yang mengendalikan sumber daya alam.
Persoalan lingkungan juga muncul dalam kumpulan cerpen Orang-orang Lembah karya Afri Meldam. Utami (2024) menjelaskan bahwa kumpulan cerpen tersebut menghadirkan kesadaran ekologis yang khas melalui kearifan lokal dan cerita-cerita di dalamnya menyampaikan kritik terhadap kerusakan lingkungan yang dialami masyarakat akibat penetrasi modernitas dan kapitalisme. Orang-orang Lembah merepresentasikan ketegangan antara pengetahuan ekologis masyarakat lokal dan kekuatan modernitas serta kapitalisme yang mengancam keseimbangan hubungan antara masyarakat dan alam. Dalam konteks tersebut, kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga persoalan sosial dan politik karena berdampak pada masyarakat lokal yang kehidupannya dan praktik budayanya memiliki keterkaitan erat dengan alam.
Meskipun Korrie Layun Rampan dan Afri Meldam menulis dalam konteks sejarah dan kesusastraan yang berbeda. Kedua karya tersebut sama-sama mengonstruksi kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi masuknya logika ekonomi kapitalis ke dalam ruang hidup masyarakat lokal. Keduanya menunjukkan bahwa ekspansi kepentingan industri dan ekonomi dapat mengubah alam menjadi sumber akumulasi kapital dengan menggusur pengetahuan lokal dan melemahkan relasi komunitas lokal dengan lingkungannya. Dengan demikian, sastra menjadi ruang penting untuk mengungkap kontradiksi kapitalisme di zaman modernitas.
Karya-karya sastra Indonesia tersebut menunjukkan bahwa modernitas menjanjikan kemajuan, perkembangan teknologi, rasionalitas, dan mobilitas sosial. Namun, ketika proses tersebut terutama diorganisir berdasarkan akumulasi kapital, modernitas dapat menghasilkan eksploitasi, ketimpangan, dominasi politik, dan kerusakan ekologis. Sastra Indonesia telah merespons kontradiksi tersebut dengan merepresentasikan konsekuensi pembangunan terhadap pekerja, masyarakat desa, budaya lokal, dan lingkungan alam.
Oleh karena itu, sastra tidak seharusnya dipahami hanya sebagai cerminan pasif dari masyarakat kapitalis. Sastra mampu berperan sebagai ruang kritis yang mengungkap relasi sosial tersembunyi di balik narasi kemajuan ekonomi dan modernisasi. Melalui representasi pembangunan infrastruktur, disiplin kerja, perlawanan politik, dan kerusakan lingkungan, sastra Indonesia memperlihatkan bagaimana kapitalisme beroperasi dalam berbagai aspek kehidupan sosial. Relevansi karya-karya tersebut terletak pada kemampuannya untuk mempertanyakan gagasan mengenai kemajuan yang dianggap sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan dan mengajukan pertanyaan mendasar, berupa kemajuan untuk siapa dan dengan mengorbankan siapa?
Referensi:
Afni, N. (2018). Representasi Alam dan Manusia dalam Novel Api Awan Asap Karya Korrie Layun Rampan: Suatu Kajian Ekokritik Gred Garrard UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR].
Manik, R. A. (2018). Ideologi Kapitalisme dalam Kepopuleran Sang Pemimpi. Kelasa, 13(2), 205–222.
Pangestu, I. B., Suparmin, S., & Sudiatmi, T. (2023). Hegemoni Kekuasaan Dalam Novel 86 Karya Okky Madasari. Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 19(2), 261–279.
Ridwan, R., & Diana, R. S. (2025). PUISI PERLAWANAN SEBAGAI KRITIK SOSIAL DALAM KUMPULAN POSTINGAN AKUN INSTAGRAM OKKY MADASARI: SOSIOLOGI MARXISME. Cakrawala Indonesia, 10(2), 198–208.
SYAHRIR, A. M. (2026). Dominasi Kekuasaan Dalam Menciptakan Sistem Eksploitatif Dalam Novel Orang-Orang Proyek Karya Ahmad Tohari: Tinjauan Sosiologi Sastra Marxis= The Domination of Power in Creating an Exploitative System in Ahmad Tohari’s Novel Orang-Orang Proyek: A Review of Marxist Literary Sociology Universitas Hasanuddin].
Utami, A. (2024). Sastra Rasa Tahun Ketiga. Dekonstruksi, 10(04), 14–30.
Weber, M., Roth, G., & Wittich, C. (1978). Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology. University of California Press.
Biodata Penulis:
Maharani Syifa Ramadhan merupakan Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan saat ini sedang menikmati studinya di Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran. Ia merupakan pegiat literasi dan teater yang berasal dari Kota Padang. Baru-baru ini mendapatkan penghargaan kategori Penata Artistik Terbaik dan Anugrah Juri di Festival Seni mahasiswa Seni Nasional & ASEAN 2025 (SAGARA) di
Universitas Indonesia.







