
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar hiasan dinding. Di balik kalimat yang singkat, ternyata tersimpan cara pemilik kedai menyapa para pelanggannya. Ada yang mengajak tertawa, ada yang mengingatkan, dan ada pula yang membuat kita berpikir sejenak.
Kini setiap kali singgah di sebuah rumah makan, sebelum melihat daftar menu, mata saya justru mencari slogan yang terpampang di dinding. Rasanya selalu ada kejutan yang menarik untuk dibaca. Tidak jarang, kalimat sederhana itu justru lebih lama saya ingat dibandingkan rasa makanan yang disajikan.
Suatu hari perhatian saya tertuju pada sebuah slogan, “Bila Anda puas beritahu teman, bila tidak puas beritahu kami”. Kalimatnya singkat, tetapi pesannya jelas. Kepuasan rupanya layak dibagikan, sedangkan kekecewaan sebaiknya disampaikan kepada yang bisa memperbaikinya. Rasanya, itulah bentuk komunikasi yang sering kali terlupakan.
Di tempat lain saya menemukan tulisan yang membuat pengunjung tersenyum, “Silakan makan sepuasnya, yang penting jangan lupa bayar.” Kalimat itu terdengar jenaka, tetapi pesannya jelas. Dengan sedikit humor, pengelola berhasil menyampaikan aturan tanpa terkesan menggurui. Cara sederhana seperti ini justru terasa lebih akrab.
Menariknya, tidak semua slogan berbicara tentang makanan. Ada yang berisi nasihat, motivasi, bahkan pengingat untuk menjaga kesehatan dan keselamatan. Barangkali pemilik kedai sadar bahwa pengunjung datang bukan hanya untuk mengisi perut. Ada yang sedang melepas lelah, berbincang dengan teman, atau sekadar mencari tempat beristirahat.
Bagi saya, slogan-slogan di kedai makanan adalah bukti bahwa kata-kata memiliki tempatnya sendiri. Kalimat yang singkat, jika disusun dengan tepat, mampu meninggalkan kesan yang panjang. Siapa sangka, dari tempat yang awalnya hanya dituju untuk mengisi perut, kita juga bisa membawa pulang sepotong pesan yang terus teringat sepanjang perjalanan.




