
Oleh: Puty Mahira Zahrani
(Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)
Hidup di abad ke-21 rasanya semua berubah cukup drastis, ya? Dahulu, dalam transaksi jual beli konsepnya adalah “ada uang, ada barang”. Namun, di masa yang serba canggih saat ini, konsep seperti itu sepertinya tidak selalu berlaku. Dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi, bagi sebagian orang konsep tersebut berubah menjadi “ada barang, bayar belakangan”. Kira-kira, apa yang menyebabkan adanya pergeseran dalam konsep transaksi jual beli ini? Mari kita telusuri hal ini agar kita dapat terhindar dari jahatnya momok paylater!
Paylater sebenarnya adalah pinjaman digital jangka pendek. Sesuai dengan namanya, alat ini memungkinkan untuk membeli barang atau menggunakan jasa sekarang, tetapi membayarnya nanti di kemudian hari sesuai dengan waktu yang disepakati. Pergeseran konsep transaksi jual beli sebenarnya bukanlah sebuah kebetulan belaka. Hal ini salah satunya dipicu oleh adanya rasa sakit dalam membayar atau “pain of paying”. Beberapa orang merasakan ‘sakit’ karena uang langsung berpindah kepemilikan di depan mata ketika bertransaksi. Uang di dompet pun menipis seketika. Dengan hadirnya model pembayaran paylater, bagi mereka fitur ini merupakan “malaikat penyelamat” yang membantu mereka terhindar dari rasa sakit tersebut. Transaksi terasa mudah, tanpa ada drama saldo yang tiba-tiba habis.
Namun, benarkah paylater memang perwujudan dari malaikat penyelamat itu? Sayangnya, tidak. Paylater nyatanya merupakan jebakan yang mengancam stabilitas keuangan di masa depan. Ia hadir dengan biaya bunga, biaya administrasi, serta biaya lainnya. Banyak orang keliru menganggap paylater sebagai bentuk “dana darurat”, padahal sejatinya ia adalah utang yang harus dilunasi di masa depan dengan pendapatan tetap kita.
Dalam akuntansi, paylater adalah golongan utang jangka pendek yang harus diakui dan dilunasi sebelum jatuh tempo. Untuk melunasinya, maka kita harus memiliki aset lancar seperti kas atau tabungan yang setara atau lebih banyak agar finansial kita tetap aman. Masalahnya, tidak semua orang memetakan aset lancar mereka di masa depan untuk membayar cicilan paylater ini. Mereka telah dibutakan dengan kemudahan di ujung jari, bahkan tanpa pikir panjang menggunakan paylater untuk memenuhi keinginannya, tidak lagi terbatas pada memenuhi kebutuhan saja.
Hal inilah yang menyebabkan paylater menjadi sangat mengerikan. Mereka menjadikannya sebagai senjata untuk memuaskan hasrat konsumtif mereka. Dengan beberapa klik saja, mereka bisa mendapatkan barang yang mereka inginkan tanpa mempertimbangkan apakah barang itu memang berguna atau tidak. Juga, tanpa memikirkan apakah cicilannya mampu ia lunasi sebelum jatuh tempo di masa yang akan datang.
Kondisi ini tidak hanya mengubah gaya transaksi masyarakat, namun juga mengubah perspektif mereka terhadap nilai uang itu sendiri. Mereka cenderung berpikir bahwa untuk membeli sesuatu, jumlah uang di dompet ataupun saldo di rekening pribadi tidak lagi penting. Asal limit paylater masih ada, transaksi pun dapat terus dilakukan. Ini jelas menyimpang dari prinsip jual beli yang seharusnya. Mengapa? Karena seharusnya daya beli diukur dari jumlah aset atau pendapatan yang dimiliki, bukan dari seberapa besar utang yang mampu diajukan.
Nah, jika paylater memang seberbahaya itu, mengapa iklan paylater sangat banyak berseliweran? Jawabannya sangat simpel. Perusahaan penyedia layanan paylater meraup banyak keuntungan dari perilaku konsumtif penggunanya tadi. Semakin banyak pengguna melakukan transaksi, semakin banyak pula keuntungan yang mereka peroleh dari biaya bunga dan administrasi. Sedangkan penggunanya yang malang, terjebak dalam skema “gali lubang tutup lubang”. Pendapatan bulan depan seketika habis untuk membiayai kesenangan bulan ini. Menutup celah dan peluang untuk menabung dan berinvestasi. Lalu, bagaimana cara menyikapi persoalan ini?
Pertama, jika telah terlanjur bergantung pada paylater, sedikit demi sedikit cobalah untuk membangun self awareness dalam berbelanja. Berpikirlah dulu sebelum men-check out barang dan pertimbangkan dengan matang apakah barang ini benar-benar worth it untuk dibeli. Selanjutnya, buat komitmen untuk keluar dari kecenderungan belanja berlebihan dengan paylater ini.
Kedua, stop beli barang-barang yang tidak penting. Berhenti belanja akan membuat tagihan jadi tidak bertambah, sehingga kita bisa fokus untuk melunasi semua tagihan yang sudah ada. Apabila ada barang yang memang dibutuhkan, usahakan untuk membelinya di toko-toko offline. Tujuannya supaya tidak memancing keinginan untuk belanja online dengan paylater kembali.
Jika langkah-langkah di atas tidak berhasil, sebaiknya bicarakan pada orang yang dipercaya yang bisa menuntun kita keluar dari jeratan tak kasat mata ini. Cobalah untuk meminta saran dari teman ataupun keluarga. Jangan takut dan ragu untuk membicarakan hal ini sebelum tagihan membeludak. Kalau perlu, konsultasikan hal ini kepada tenaga profesional supaya bisa memberikanmu solusi dan nasehat yang lebih baik.
Pemerintah juga memegang peranan penting dalam hal ini. Pengawasan dan aturan mengenai batas bunga yang bisa dikenakan terhadap pengguna sangat dibutuhkan agar penyedia layanan paylater tidak memeras habis setiap uang yang dimiliki oleh penggunanya. Meskipun begitu, kendali utamanya tetap adalah diri kita sendiri. Jika kita tidak kritis sebelum menyetujui untuk menggunakan layanan paylater, maka yang rugi juga diri kita sendiri. Apabila memang belum mampu membeli secara tunai, maka menabung adalah jalan keluar yang paling mulia.
Teknologi diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia, bukan untuk menyulitkannya dengan segala tagihan yang tidak berujung. Paylater apabila digunakan untuk membeli kebutuhan yang benar-benar mendesak di kala uang tunai tidak mencukupi, bisa membawa kemudahan yang besar. Namun, jika digunakan untuk memenuhi keinginan yang impulsif, paylater akan berubah menjadi pisau yang bermata dua. Semuanya kembali pada diri kita sendiri. Sejauh mana kita bisa mengendalikan diri kita agar tidak menjadi manusia dengan gaya hidup yang konsumerisme.







