
Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)
Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu dibawa ke mana-mana. Ada yang tidak bisa jauh dari earphone, ada yang panik saat ketinggalan gawai, mungkin ada yang panik ketika casan hilang, dan saya mulai bergantung pada sebuah tumbler. Kini, benda itu hampir selalu ada di dalam tas saya.
Awalnya, saya membawa tumbler bukan karena tren hidup sehat atau gaya hidup ramah lingkungan. Alasannya sederhana, harga air mineral di tempat saya kuliah cukup mahal. Karena itu, saya mulai memanfaatkan fasilitas isi ulang gratis di kampus. Dari kebiasaan kecil itulah tumbler perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Untungnya, kampus menyediakan fasilitas pengisian air minum gratis di beberapa titik gedung perkuliahan dan juga di asrama. Tinggal datang, isi ulang, lalu lanjut beraktivitas seperti biasa. Kebiasaan itu perlahan membuat saya sadar bahwa tumbler bukan lagi sekadar wadah minum, melainkan bagian dari gaya hidup baru yang tanpa sadar membentuk kebiasaan sehari-hari.
Lucunya, saya justru mulai merasa “aneh” ketika keluar tanpa membawa tumbler. Rasanya seperti ada yang tertinggal. Padahal dulu, saya termasuk orang yang cukup sering membeli air mineral kemasan di minimarket atau kantin. Sekarang, sebelum berangkat, hal pertama yang saya periksa apakah tumbler sudah terisi penuh atau belum.
Ada hal lain yang juga menarik perhatian saya. Tidak semua kantin menyediakan air minum gratis. Beberapa kantin di sekitar kampus bahkan menjual air mineral secara terpisah. Bagi saya yang terbiasa dengan kantin yang menyediakan air minum gratis, tentu menjadi canggung.
Dari tumbler kecil itu, saya mulai sadar bahwa kehidupan saat ini mengubah cara pandang saya terhadap air minum. Sesuatu yang dulu terasa dekat dan biasa, kini menjadi bagian dari gaya hidup dan pengeluaran sehari-hari. Mungkin karena itulah membawa tumbler terasa lebih dari sekadar kebiasaan kecil. Ia seperti cara sederhana untuk tetap dekat dengan kehangatan yang perlahan mulai hilang.





