Kamis, 09/7/26 | 02:55 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu dibawa ke mana-mana. Ada yang tidak bisa jauh dari earphone, ada yang panik saat ketinggalan gawai, mungkin ada yang panik ketika casan hilang, dan saya mulai bergantung pada sebuah tumbler. Kini, benda itu hampir selalu ada di dalam tas saya.

Awalnya, saya membawa tumbler bukan karena tren hidup sehat atau gaya hidup ramah lingkungan. Alasannya sederhana, harga air mineral di tempat saya kuliah cukup mahal. Karena itu, saya mulai memanfaatkan fasilitas isi ulang gratis di kampus. Dari kebiasaan kecil itulah tumbler perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

BACAJUGA

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Untungnya, kampus menyediakan fasilitas pengisian air minum gratis di beberapa titik gedung perkuliahan dan juga di asrama. Tinggal datang, isi ulang, lalu lanjut beraktivitas seperti biasa. Kebiasaan itu perlahan membuat saya sadar bahwa tumbler bukan lagi sekadar wadah minum, melainkan bagian dari gaya hidup baru yang tanpa sadar membentuk kebiasaan sehari-hari.

Lucunya, saya justru mulai merasa “aneh” ketika keluar tanpa membawa tumbler. Rasanya seperti ada yang tertinggal. Padahal dulu, saya termasuk orang yang cukup sering membeli air mineral kemasan di minimarket atau kantin. Sekarang, sebelum berangkat, hal pertama yang saya periksa apakah tumbler sudah terisi penuh atau belum.

Ada hal lain yang juga menarik perhatian saya. Tidak semua kantin menyediakan air minum gratis. Beberapa kantin di sekitar kampus bahkan menjual air mineral secara terpisah. Bagi saya yang terbiasa dengan kantin yang menyediakan air minum gratis, tentu menjadi canggung.

Dari tumbler kecil itu, saya mulai sadar bahwa kehidupan saat ini mengubah cara pandang saya terhadap air minum. Sesuatu yang dulu terasa dekat dan biasa, kini menjadi bagian dari gaya hidup dan pengeluaran sehari-hari. Mungkin karena itulah membawa tumbler terasa lebih dari sekadar kebiasaan kecil. Ia seperti cara sederhana untuk tetap dekat dengan kehangatan yang perlahan mulai hilang.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Berita Sesudah

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Berita Terkait

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Selalu Ada Jalan Kembali

Minggu, 21/6/26 | 19:40 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Memulai kembali kebiasaan membaca ternyata menghadirkan pengalaman yang berbeda dari yang saya bayangkan. Saya...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Belajar dari Halaman Pertama

Minggu, 07/6/26 | 18:28 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa waktu terakhir, saya sering memandangi tumpukan buku yang belum selesai dibaca. Sebagian sudah...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Berita Sesudah
Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka "Gaza Tak Pernah Sunyi" Karya Hardi

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Wacana Digital dan Dinamika Istilah dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TRADISI LAGHOUK DAN BAHASA PERJODOHAN MASYARAKAT TRADISIONAL PADANG PARIAMAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Duka Cita atau Dukacita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Imbau Warga Isi Survei Indeks Harmoni Indonesia 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026