Rabu, 14/10/26 | 21:29 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Air Minum dan Kebiasaan Baru

Minggu, 24/5/26 | 20:18 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Belakangan ini, saya menyadari bahwa kehidupan modern sering melekat pada benda-benda kecil yang selalu dibawa ke mana-mana. Ada yang tidak bisa jauh dari earphone, ada yang panik saat ketinggalan gawai, mungkin ada yang panik ketika casan hilang, dan saya mulai bergantung pada sebuah tumbler. Kini, benda itu hampir selalu ada di dalam tas saya.

Awalnya, saya membawa tumbler bukan karena tren hidup sehat atau gaya hidup ramah lingkungan. Alasannya sederhana, harga air mineral di tempat saya kuliah cukup mahal. Karena itu, saya mulai memanfaatkan fasilitas isi ulang gratis di kampus. Dari kebiasaan kecil itulah tumbler perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Untungnya, kampus menyediakan fasilitas pengisian air minum gratis di beberapa titik gedung perkuliahan dan juga di asrama. Tinggal datang, isi ulang, lalu lanjut beraktivitas seperti biasa. Kebiasaan itu perlahan membuat saya sadar bahwa tumbler bukan lagi sekadar wadah minum, melainkan bagian dari gaya hidup baru yang tanpa sadar membentuk kebiasaan sehari-hari.

Lucunya, saya justru mulai merasa “aneh” ketika keluar tanpa membawa tumbler. Rasanya seperti ada yang tertinggal. Padahal dulu, saya termasuk orang yang cukup sering membeli air mineral kemasan di minimarket atau kantin. Sekarang, sebelum berangkat, hal pertama yang saya periksa apakah tumbler sudah terisi penuh atau belum.

Ada hal lain yang juga menarik perhatian saya. Tidak semua kantin menyediakan air minum gratis. Beberapa kantin di sekitar kampus bahkan menjual air mineral secara terpisah. Bagi saya yang terbiasa dengan kantin yang menyediakan air minum gratis, tentu menjadi canggung.

Dari tumbler kecil itu, saya mulai sadar bahwa kehidupan saat ini mengubah cara pandang saya terhadap air minum. Sesuatu yang dulu terasa dekat dan biasa, kini menjadi bagian dari gaya hidup dan pengeluaran sehari-hari. Mungkin karena itulah membawa tumbler terasa lebih dari sekadar kebiasaan kecil. Ia seperti cara sederhana untuk tetap dekat dengan kehangatan yang perlahan mulai hilang.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Berita Sesudah

Bupati Solok Hadiri Seleksi Awal FORKI, Targetkan Prestasi di PORPROV 2026

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Ikut Mendengar, Ikut Menyukai

Minggu, 11/10/26 | 16:10 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau/Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir-akhir ini, lagu anak-anak semakin akrab di telinga saya. Lagu-lagu yang...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Cerita yang Tak Bosan Diulang

Minggu, 27/9/26 | 16:58 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kisah buku-buku itu rupanya terus berjalan. Dahulu, saya yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Halaman-Halaman yang Dibaca dengan Cara Berbeda

Minggu, 13/9/26 | 11:35 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang pengalaman memilih buku...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Berita Sesudah
Bupati Solok Hadiri Seleksi Awal FORKI, Targetkan Prestasi di PORPROV 2026

Bupati Solok Hadiri Seleksi Awal FORKI, Targetkan Prestasi di PORPROV 2026

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenomena Kabut Asap di Sumbar, Donizar: Jangan Tunggu Ada Korban

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026