Minggu, 29/3/26 | 22:53 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Sastra Lisan dalam dunia Pertanian: Ingatan yang Bertahan di Lahan yang Berubah

Minggu, 29/3/26 | 18:35 WIB

Lastry Monika
(Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/ Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Setiap kali pulang dari kegiatan pengambilan dan perekaman data penelitian, saya sering menyadari bahwa apa yang saya temui di sana tidak benar-benar hilang begitu saja. Ia masih tersisa, hanya tidak lagi hadir seperti sebelumnya. Ada yang tersimpan dalam ingatan para petani, ada yang muncul dalam cerita-cerita sederhana, dan ada pula yang saya catat kembali dalam tulisan. Dari situ, saya mulai memahami bahwa yang berubah bukan keberadaannya, melainkan cara ia bertahan.

Pada awalnya, saya membayangkan penelitian sastra lisan dalam dunia agraria sebagai kegiatan mendokumentasikan sebuah tradisi. Namun, ketika berhadapan langsung dengan kenyataan di lapangan, pandangan itu terasa terlalu sederhana. Beberapa sastra lisan tersebut tidak lagi hadir seperti dahul, tidak lagi menyertai setiap tahap menanam, merawat, hingga panen. Meski demikian, ia juga tidak benar-benar hilang. Ia tetap ada, meski dalam ingatan dan kenangan.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Ia masih diingat dan diceritakan oleh para petani sepuh, mereka yang telah lama hidup dan tumbuh bersama ritme sawah dan musim. Dengan penuh semangat, mereka mengisahkan kembali apa yang pernah mereka dengar dan saksikan. Ada yang pernah terlibat langsung, melantunkan atau menggunakannya dalam aktivitas bertani, dan ada pula yang hanya mengingatnya dari masa kecil—saat mereka melihat orang tua atau orang di sekitar mereka melakukannya. Cerita-cerita itu mungkin tidak lagi utuh, kadang terputus di beberapa bagian, tetapi justru di situlah terasa bahwa ia masih hidup, hadir dalam ingatan yang terus dirawat dengan caranya sendiri.

Namun demikian, tidak semuanya berhenti pada ingatan. Sebagian masih terus dilestarikan hingga kini, baik secara individu maupun bersama-sama. Bahkan, ada yang dihadirkan dalam bentuk festival atau kesenian, seperti Alek Kapalo Banda di Batipuh Baruah dan tari Batobo di Koto Baru Simalanggang. Dalam bentuk-bentuk ini, tradisi tersebut tidak hanya dikenang, tetapi juga tetap dijalankan.

Seiring itu, penelitian di lapangan terasa seperti proses mendengar dengan cara yang berbeda. Apa yang saya temui tidak selalu hadir secara utuh. Ada yang berupa potongan kalimat, serpihan ingatan, atau jeda panjang sebelum seseorang kembali mengingat. Akhirnya, saya memahami bahwa sastra lisan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang lengkap, melainkan sebagai pengalaman yang masih tersisa dan terus hidup dalam ingatan.

Pada akhirnya, pengalaman di lapangan membawa saya pada satu pemahaman yang lebih tenang: sastra lisan dalam dunia agraria tidak semata-mata diukur dari keutuhannya, melainkan dari kemampuannya untuk tetap bertahan di tengah perubahan. Ia mungkin tidak lagi hadir dalam bentuk yang sama, tidak lagi mengiringi setiap tahapan kerja sebagaimana dahulu, tetapi ia tetap hidup—dalam ingatan, dalam cerita, dan dalam praktik-praktik yang terus dijalankan, meski dengan cara yang berbeda.

Di titik ini, penelitian tidak lagi sekadar menjadi upaya merekam, melainkan juga usaha memahami bagaimana sebuah tradisi bernegosiasi dengan waktu. Dan selama masih ada yang mengingat, menceritakan, serta memberi ruang bagi kehadirannya, sastra lisan itu sesungguhnya belum pernah benar-benar selesai.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-Puisi Elly Delfia

Berita Terkait

Suatu Hari di Sekolah

Menjelang Kemenangan: Catatan Kecil tentang Sabar

Minggu, 15/3/26 | 13:29 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada satu hal yang selalu saya rasakan setiap kali...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Tenang, Kita Selesaikan Satu-Satu

Minggu, 08/3/26 | 22:59 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu hari, dalam sebuah percakapan santai, saya tiba-tiba terpikir...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Dari Lahan ke Lisan: Warisan yang (Tak Lagi) Disemai

Minggu, 01/3/26 | 21:43 WIB

Lastry Monika (Kolumnis Rubrik Renyah/Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand) Dalam beberapa minggu terakhir, saya berkunjung ke beberapa nagari untuk...

Suatu Hari di Sekolah

Kampung, Cerita, dan Ingatan yang Tak Pernah Usang

Minggu, 08/2/26 | 15:36 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Kecamatan Gunuang Omeh, khususnya Nagari Talang Anau bukan tempat...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

POPULER

  • Tambahan TKD Sumbar Rp1,65 Triliun, Difokuskan untuk Pemulihan Pascabencana dan Layanan Publik

    Tambahan TKD Sumbar Rp1,65 Triliun, Difokuskan untuk Pemulihan Pascabencana dan Layanan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-Puisi Elly Delfia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Ajukan Rp382,65 Miliar untuk Pusat Kebudayaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Popularitas Kata “Eskalasi” dalam Perang Iran versus AS-Israel

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026