Minggu, 29/3/26 | 19:21 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB

Oleh: Naura Aziza Cahyani
(Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan Universitas Andalas)

 

Universitas Andalas (UNAND) merupakan salah satu universitas tertua di Indonesia dan termasuk ke dalam salah satu universitas terluas kedua di Indonesia yang luasnya mencapai 500 hektare. Kampus UNAND berada dalam ketinggian 200 meter di atas permukaan laut. Salah satu ciri khas UNAND adalah keberadaan anak tangga yang menghubungkan berbagai area di kampus. Banyaknya anak tangga merupakan upaya arsitektur untuk menyesuaikan bangunan dengan kondisi perbukitan sehingga tidak perlu melakukan penggalian atau penimbunan besar-besaran yang dapat mengganggu kestabilan tanah.

BACAJUGA

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Minggu, 29/3/26 | 14:53 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 29/3/26 | 14:32 WIB

Keberadaan anak tangga ini tidak hanya menjadi ikon kampus,, tetapi juga menimbulkan berbagai pendapat dari kalangan mahasiswa karena kondisi geografisnya yang berbukit dan beberapa area berada di ketinggian yang berbeda membuat tangga ini menjadi satu-satunya akses. Bagi mahasiswa atau pengunjung dengan disabilitas fisik, tangga dapat menjadi hambatan yang serius. Banyak mahasiswa baru yang terkejut dengan “perjuangan” menaiki tangga setiap hari. Sementara itu, mahasiswa lama telah menjadikannya bagian dari rutinitas kehidupan kampus.

Mahasiswa disabilitas dan dosen-dosen yang sudah tidak bugar lagi akan mengalami kesulitan dalam menaiki dan menuruni tangga. Akses mobilitas yang kurang ramah semua kalangan ini harusnya menjadi perhatian utama kampus. Banyaknya tangga dan medan menanjak yang menyulitkan pengguna kursi roda, tongkat, atau alat bantu jalan, seperti akses ke ruang kelas, laboratorium, dan fasilitas umum yang tidak ramah difabel. Tentunya kondisi ini akan berdampak pada keterlambatan masuk kelas atau tidak bisa menghadiri kuliah tertentu karena akses sulit. Dosen yang sudah berusia lanjut mengalami kesulitan naik turun tangga karena faktor stamina, lutut, atau tekanan darah sehingga jadwal mengajar di gedung yang berjauhan atau bertingkat menambah beban fisik. Beberapa dosen menghindari lokasi tertentu karena aksesnya berat.

Pengalaman yang saya dan teman saya alami setiap hari misalnya, kami menuruni tangga menuju Gedung I untuk menghadiri kelas berikutnya. Setiap harinya kami juga makan di kantin dekat Gedung I yang membuat kami harus menaiki dan menuruni tangga setiap harinya. Dari kantin biasanya kami mampir ke perpustakaan. Di perpustakaan kami akan menuruni tangga dan melalui banyak gedung perkuliahan, seperti B dan C. Saat  ingin kembali ke Gedung G atau menuju Laboratorium Sentral. Setelah berjalan sejauh itu, tentunya kami merasa kelelahan dan merasa mood sudah tidak sebaik sebelumnya.

Sisi positifnya, keberadaan ribuan tangga di UNAND memiliki dampak signifikan terhadap kebugaran fisik saya dan teman saya walaupun saat sampai kelas kami kelelahan. Akan tetapi, kami merasakan efek jangka panjang tersebut. Kami menjadi terbiasa jalan kaki. Aktivitas menaiki tangga terbukti mampu meningkatkan daya tahan jantung, melatih otot kaki, dan membantu membakar kalori. Menurut penelitian kesehatan, berjalan menaiki tangga selama 10 menit dapat membakar sekitar 100 kalori angka yang cukup tinggi untuk aktivitas harian ringan.

Aktivitas menaiki tangga setiap hari dapat dianggap sebagai bentuk olahraga alami. Tan dalam bukunya Hidup Sehat Tanpa Obat (2018) menjelaskan bahwa naik tangga termasuk latihan aerobik ringan yang bermanfaat bagi jantung, paru-paru, serta metabolisme tubuh. Bagi mahasiswa UNAND, perjalanan menuju kelas di fakultas-fakultas yang berjauhan dan bertingkat menjadi aktivitas fisik rutin yang menyehatkan. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa infrastruktur kampus dapat berperan ganda, yakni sebagai sarana mobilitas dan kebugaran alami bagi penghuninya.

Di sisi lain, di hari tertentu saya  memiliki aktivitas padat atau membawa beban berat seperti laptop, buku, atau alat laboratorium saat menaiki tangga sering merasa kelelahan saat harus menaiki puluhan hingga ratusan anak tangga. Selain itu, bagi mahasiswa disabilitas atau yang memiliki gangguan mobilitas, tangga menjadi hambatan serius untuk mengakses fasilitas kampus. Beberapa titik di UNAND memang telah dilengkapi jalur alternatif, tetapi jalur tersebut masih terbatas dan belum menjangkau seluruh area.

Tidak semua mahasiswa memandang banyaknya tangga ini sebagai hal positif. Dalam beberapa survei diskusi di media sosial kampus, banyak mahasiswa mengeluhkan rasa lelah berlebihan setelah berjalan dari satu fakultas ke fakultas lain. Kondisi cuaca panas dan lembap di Padang juga memperburuk kenyamanan saat menaiki tangga, terutama pada jam-jam sibuk atau pada saat buru-buru ingin menuju suatu tempat, tetapi terhalang tangga Selain jalan kaki, alternatif lain sebagai mobilitas di UNAND adalah menggunakan angkot berwarna hijau, tetapi angkot ini tentunya memiliki tarif dan tidak semua mahasiswa memiliki uang yang cukup untuk naik angkot setiap harinya atau mahasiswa bisa ikut temannya yang menggunakan sepeda motor untuk menuju suatu tempat.

Beberapa alternatif lain sudah pernah disarankan efektivitas sistem transportasi pejalan kaki di UNAND, misalnya pembangunan sky bridge, eskalator terbuka. Namun, dari sisi biaya dan perawatan, solusi tersebut tentu membutuhkan perencanaan matang dan bukan solusi yang sempurna. Alternatif lain yang lebih realistis adalah penataan ulang jadwal perkuliahan dan lokasi kelas agar mahasiswa tidak perlu sering berpindah antarfakultas dan gedung perkuliahan dalam waktu yang berdekatan.

Budihardjo, seorang arsitektur yang baik harus mampu beradaptasi dengan kondisi alam, bukan justru memaksakan bentuk yang merusak lingkungan. Dalam bukunya Arsitektur dan Kota di Indonesia (1997), ia menjelaskan bahwa pembangunan di daerah berbukit sebaiknya mengikuti kontur tanah agar tidak mengganggu stabilitas lahan, desain kampus yang mengikuti keadaan alam seperti perbukitan merupakan bagian dari arsitektur ekologis, yaitu memanfaatkan kondisi topografi tanpa harus merusak alam. Tangga-tangga yang banyak di kampus UNAND mencerminkan adaptasi desain terhadap alam, bukan pemaksaan struktur buatan seperti gedung datar di dataran rendah. Karena itulah menjaga kemiringan alami bukit dengan tangga adalah langkah konservatif. Pembangunan tangga lebih ramah lingkungan dibandingkan membuat jalan beton datar yang membutuhkan perataan lahan ekstrem karena itulah alternatif lain sepertinya akan merusak ciri khas UNAND sebagai kampus hijau yang berada di atas bukit.

Ciri khas UNAND yang harus dijaga dan alternatif yang efektif harus diperhatikan dalam mengembangkan solusi dan inovasi untuk menggantikan peran tangga yang sudah menjadi tulang punggung mobilitas mahasiswa sejak puluhan tahun inilah yang membuat pihak kampus tidak menghadirkan solusi lain dan melakukan kajian lebih lanjut karena susahnya mencapai hal tersebut tanpa menghilang salah satu dari keduanya. Seiring berjalannya waktu, mahasiswa baru akan terbiasa dengan kehadiran tangga ini sehingga mereka secara perlahan akan menerima dan merasakan bahwa tangga ini merupakan penyelamat mereka di saat-saat penting. Selain menjadi sarana mobilitias, tangga ini juga tidak jarang dijadikan sebagai tempat duduk untuk istirahat sejenak dari kesibukan aktivitas kampus. Kehadiran tangga ini bukanlah hal yang buruk jika dinilai dari perspektif yang positif.

Tags: #Naura Aziza Cahyani
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Berita Sesudah

Puisi-Puisi Elly Delfia

Berita Terkait

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Minggu, 29/3/26 | 14:53 WIB

Oleh: Sabina Yonandar (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Media sosial menjadi salah satu cara yang sangat mudah...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 29/3/26 | 14:32 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Belakangan ini, di...

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva (Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)   Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara...

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB

Oleh: Amanda Restia (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Nama Siti Nurbaya sering kali langsung dilibatkan dengan...

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Iwan Fals merupakan musisi legendaris Indonesia yang menjadi...

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Berita Sesudah
Puisi-Puisi Elly Delfia

Puisi-Puisi Elly Delfia

POPULER

  • Tambahan TKD Sumbar Rp1,65 Triliun, Difokuskan untuk Pemulihan Pascabencana dan Layanan Publik

    Tambahan TKD Sumbar Rp1,65 Triliun, Difokuskan untuk Pemulihan Pascabencana dan Layanan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-Puisi Elly Delfia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Ajukan Rp382,65 Miliar untuk Pusat Kebudayaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026