Minggu, 28/6/26 | 09:01 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Minggu, 29/3/26 | 14:53 WIB

Oleh: Sabina Yonandar
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Media sosial menjadi salah satu cara yang sangat mudah dalam menyebarkan informasi palsu atau hoaks. Media sosial juga dapat menjadi alat kekuasaan baru di mana suatu kelompok dapat mengemukakan suatu opini dengan bebas pada kelompok lain. Kondisi ini tidak dapat dihindari karena merupakan suatu bagian kemajuan teknologi komunikasi yang berada di tengah masyarakat. Masyarakat Indonesia saat ini sudah tidak asing lagi dengan media sosial. Dengan media sosial, setiap orang dapat berhubungan untuk berbagai tujuan, seperti bisnis, mencari informasi berkaitan dengan bidang-bidang tertentu, mencari teman, dan sebagainya.

BACAJUGA

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB
Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Media sosial adalah sebuah media online yang para pengguna dapat dengan mudah berpartisipasi dan berbagi informasi. Kaplan da Haenlein (2010) mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet atas dasar ideologi dan teknologi yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran akun. Setiap media sosial memiliki keunggulannya tersendiri yang menjadi daya tarik bagi para penggunanya. Dengan munculnya media sosial, sebuah konsekuensi juga terjadi pada perkembangan budaya masyarakat Indonesia yang dipengaruhi oleh globalisasi. Perkembangan budaya ini berefek pada perkembangan bahasa. Informasi-informasi datang secara bebas dari pengguna media sosial. Hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi pengguna media sosial karena tidak semua informasi yang diberikan dapat dipastikan kebenarannya.

Kemudahan  dalam mengakses informasi beriringan dengan kehadiran informasi palsu atau hoaks yang tentu saja menimbulkan keresahan pada para pengguna media sosial. Untuk itu, kita perlu mengetahui dinamika bahasa yang yang ada di dalam media sosial yang dapat dikaji secara linguistik.  Penyebaran informasi palsu di media sosial di Indonesia banyak disebabkan dalam bentuk teks pendek, gambar dengan narasi, serta video potongan yang sengaja diedit dari konten aslinya.  Konten-konten palsu yang beredar biasanya muncul pada sebuah momen tertentu seperti pemilu, isu global, hingga konflik antarumat beragama.

Penyebaram informasi palsu juga memperlihatkan adanya keterlibatan akun-akun anonim dan semua jaringan simpatisannya. Akun-akun tersebut biasanya menyebarkan pesan atau postingan yang sama secara berulang dan sistematis dalam waktu singkat. Seringkali postingan tersebut dibuat untuk membalut kebencian denga dalih moral atau nasionalisme, sehingga dikira benar di mata publik. Penyebaran informasi palsu di media sosial sering kali menyerupai epidemi yang menyebar dengan cepat, di mana analogi seperti “informasi virus” membantu memahami dinamikanya. Lokalitas, atau konteks budaya setempat, mempercepat proses ini karena hoaks disesuaikan dengan isu sensitif seperti politik atau kesehatan di Indonesia. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana analogi dan elemen lokal membentuk wacana tersebut.

Analoginya membandingkan penyebaran hoaks dengan penyakit menular, di mana satu unggahan awal menjadi “pasien nol” yang menyebar melalui retweet atau forward, seperti virus, hoaks yang emosional menyebar enam kali lebih cepat daripada berita benar. Penyebaran itu memanfaatkan platform algoritma, seperti Facebook dan WhatsApp. Di Indonesia, 70% hoaks disebarkan melalui media sosial, mengganggu polarisasi kehidupan sosial.

Lokalitas membuat hoaks relevan dengan meniru gaya bahasa daerah atau isu nasional, seperti pemilu sehingga pengguna merasa “dekat” dan langsung membagikannya tanpa verifikasi. Rendahnya literasi digital di kalangan masyarakat juga memperparah kondisi ini. Dengan 72% pengguna media sosial yang tidak memeriksa sumber sebelum membagikan.

Hoaks politik atau pandemi kesehatan sering disesuaikan dengan narasi lokal untuk memicu kebencian. Wacana media sosial menjadi arena pertarungan makna, di mana hoaks membentuk opini melalui echo chamber atau membual informasi yang memperkuat bias kelompok. Hal ini merupakan ancaman stabilitas sosial, seperti polarisasi politik selama krisis. Solusi melibatkan platform regulasi dan edukasi literasi. Dengan demikian, memahami penafsiran analogi dan lokalitas dalam wacana media sosial menjadi kunci untuk memerangi penyebaran informasi palsu, mendorong masyarakat menuju literasi digital yang lebih kuat demi menjaga keharmonisan informasi di era digital.

Tags: #Sabina Yonandar
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

Berita Sesudah

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Berita Terkait

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Paylater, Kemudahan di Ujung Jari atau Jebakan Keuangan di Masa Depan

Minggu, 21/6/26 | 14:59 WIB

Oleh: Puty Mahira Zahrani (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Andalas)   Hidup di abad ke-21 rasanya...

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Gaya Bahasa dalam Cerpen “Beki Bebek” Karya Vanda Parengkuan

Minggu, 21/6/26 | 14:42 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)           "Kata yang...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Peduli di Layar, Abai di Jalan: Ironi Aktivisme Lingkungan di Era Digital

Minggu, 21/6/26 | 14:31 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di era digital, menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan tidak pernah semudah...

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Berita Sesudah
Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

POPULER

  • DPRD Kota Padang prihatin, terhadap semrawutnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Kota Padang, khususnya berpusat pada kendala sistem aplikasi yang error.

    Ketua DPRD Kota Padang Muharlion Menilai Kurangnya Persiapan Disdik Dalam Pelaksanaan Sistem SPMB Tahun 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jelang Pemungutan Suara, Firdaus Minta Warga Jaga Kondusivitas dan Tolak Politik Uang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pilwana Usai, Saatnya Wali Nagari Terpilih Rangkul Semua Warga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fraksi PKB-UMMAT Minta Pemko Padang Percepat Belanja, Waspadai SiLPA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026