Minggu, 29/3/26 | 19:23 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 29/3/26 | 14:32 WIB
Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan)

Belakangan ini, di berbagai media sosial sedang banyak pembahasan tentang istilah yang digunakan oleh seorang pembuat konten saat menilai makanan atau minuman yang sedang dicobanya. Jika sebelumnya masyarakat Indonesia mengenal berbagai istilah “enak”, “lezat”, “asin”, “enak banget”, “tidak terlalu manis”, dan sebagainya. Saat ini, ada banyak istilah lain yang bahkan tidak mendefinisikan rasa tertentu yang lazim dikenal, tetapi diganti dengan istilah “ngeju banget”, “ngacang banget”, “nyoklat banget”, dan sebagainya.

Pada dasarnya, istilah-istilah tersebut digunakan karena pembuat konten ingin mendeskripsikan bahwa makanan atau minuman yang sedang dicobanya memang masih memiliki rasa inti dari bahan-bahan utamanya. Jika bahan utamanya adalah keju dan rasa kejunya masih mendominasi, pembuat konten tersebut mengistilahkannya dengan kata “ngeju banget”. Hal ini sebenarnya menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa ada beberapa makanan dan minuman yang dinamakan sesuai dengan bahan dasarnya, tetapi rasanya justru berbeda. Kita bisa mengambil contoh jus mangga. Jus mangga yang banyak dijual di berbagai tempat tentu memiliki cita rasa yang berbeda. Dari segi teksturnya ada jus mangga yang mangganya terasa kental, ada juga yang terlalu cair. Dari segi rasa, ada jus mangga yang manis, asam, dan ada juga jus mangga yang sudah memiliki rasa yang berbeda karena terlalu banyak susu, dan sebagainya. Oleh sebab itu, tidak jarang juga para pembeli mendapatkan jus mangga yang isi keseluruhannya lebih banyak air atau susu daripada mangga itu sendiri. Dengan demikian, rasa buah mangganya tidak mendominasi karena sudah kalah dengan rasa air atau susu. Oleh sebab itu, istilah “nyoklat banget”, “ngacang banget”, “ngeju banget”, dan sebagainya seolah mendefinisikan bahwa rasa dari bahan dasarnya masih terjaga dan mendominasi.

Terlepas dari berbagai ekspresi tersebut, kiranya kita perlu melihat kembali berbagai definisi rasa dari makanan atau minuman yang sesungguhnya. Hal ini dilakukan agar kita tidak lupa dengan berbagai istilah rasa secara harfiah karena sudah banyaknya istilah tentang kuliner yang beredar di media sosial dan digunakan juga oleh masyarakat. Dengan demikian, mari kita masuk ke dalam pembahasan berbagai macam rasa yang ada di dalam bahasa Indonesia. Pada umumnya, kita mengenal rasa manis, asam, asin, pahit, tawar, dan pedas. Akan tetapi, dari berbagai sumber dinyatakan bahwa rasa pedas sesungguhnya bukanlah bagian dari variasi rasa, tetapi merupakan reaksi panas yang dirasakan oleh lidah sehingga menimbulkan pedas.

Namun demikian, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pedas memiliki 3 makna, yaitu “1. n rasa seperti rasa cabai (merica dan sebagainya); 2. a terasa seperti cabai atau merica; 3. a ki tajam atau keras (tentang kritik dan sebagainya), menyakitkan hati (tentang perkataan dan sebagainya)”. Untuk lebih jelasnya, mari kita amati kembali apa saja istilah yang digunakan di dalam bahasa Indonesia untuk mengungkapkan cita rasa sebuah makanan atau minuman.

BACAJUGA

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB
Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Minggu, 29/3/26 | 14:53 WIB

Pertama, rasa asam, masam, dan kecut. Kita akan mulai pembahasan ini dengan rasa yang pertama, yaitu asam atau masam. Rasa ini digunakan untuk jenis makanan atau minuman yang mirip dengan rasa cuka. Di dalam KBBI, definisi rasa asam dan masam diwakilkan dengan rasa cuka, buah mangga muda, dan sebagainya. Selain nama rasa, asam juga digunakan untuk nama salah satu buah, yaitu buah asam.  Rasa buah ini sesuai dengan namanya, yaitu masam. Oleh sebab itu, orang Indonesia mengenal rasa ini dengan dua nama, yaitu asam atau masam. Selain kata asam dan masam, ada kata lain yang juga disebut sebagai variasi rasa yang mirip dengan rasa cuka, yaitu kecut.

Di dalam bahasa Indonesia, berbagai jenis rasa tidak hanya digunakan untuk mendeskripsikan makanan dan minuman, tetapi juga bisa menjadi idiom bagi hal lain, seperti wajah, ekspresi wajah, perkataan seseorang, dan kehidupan. Berikut ini adalah contoh-contoh kalimat penggunaan kata asam, masam, dan kecut secara denotatif (makna yang sesungguhnya) dan konotatif (makna tambahan di luar makna aslinya sebagai bentuk kiasan):

  1. Lemon ini sangat asam.
  2. Apakah saya boleh minta sedikit gula? Es jeruk ini sangat kecut.
  3. Wajahnya masam sejak tadi pagi. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya kesal.

Kedua, rasa asin atau masin. Di dalam KBBI, definisi rasa asin atau masin diwakilkan dengan rasa garam. Di dalam budaya Minangkabau, ada masakan yang dinamai pangek masin. Rasa dari masakan ini sesuai dengan namanya, yaitu asin (gulai ikan dengan rasa asin). Berikut ini adalah contoh-contoh kalimat dengan kata asin atau masin secara denotatif:

  1. Kimchi memiliki rasa yang unik yaitu gabungan antara asin, asam, dan pedas.
  2. Sejak tahun lalu, ayah saya mengurangi konsumsi makanan yang

Ketiga, rasa pahit,getir, sepat, dan kelat. Empat istilah dianggap bersinonim, namun tetap memiliki perbedaan. Di dalam KBBI, definisi kata pahit diwakilkan dengan rasa yang tidak sedap seperti empedu. Di dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak mengetahui bahwa beberapa obat juga memiliki rasa pahit. Oleh karena itu, banyak anak-anak yang sulit untuk minum obat. Tidak jauh berbeda dengan rasa pahit, rasa getir juga digambarkan sebagai rasa yang tidak sedap, pahit, tetapi ada campuran sedikit rasa pedas.

Definisi kata getir dalam KBBI diwakilkan dengan rasa kulit jeruk. Berbeda dengan itu, definisi kata sepat dan kelat diwakilkan dengan rasa salak mentah dan pisang mentah. Dua rasa ini, selain memiliki rasa pahit, juga memiliki rasa yang sangat aneh sehingga sulit untuk ditelan (seperti ada getah dan sebagainya). Rasa pahit dan getir juga memiliki makna denotatif dan konotatif. Berikut ini adalah contoh-contoh kalimatnya:

  1. Aku heran, mengapa banyak orang menyukai minuman itu, padahal rasanya sangat pahit.
  2. Saat ini, tidak semua obat terasa pahit karena sudah ada obat sirup dengan rasa manis atau rasa yang menyerupai buah-buahan.
  3. Dia sudah merasakan pahitnya kehidupan sejak ayah dan ibunya meninggal dunia.

Keempat, rasa manis. Di dalam KBBI, definisi rasa manis diwakilkan dengan rasa gula. Di dalam bidang kesehatan, penyakit diabetes juga dikenal dengan istilah kencing manis karena penyebab dari penyakit ini adalah kadar gula yang tinggi (berlebih dari kebutuhan tubuh). Kata manis juga memiliki makna denotatif dan konotatif. Berikut ini adalah contoh-contoh kalimatnya:

  1. Minuman yang manis menjadi pilihan utama saat berbuka puasa.
  2. Kue ini sangat enak karena rasanya tidak terlalu manis.
  3. Banyak orang menyukai anak itu karena wajahnya yang manis dan sifatnya yang lembut.
  4. Jangan mudah terayu oleh rayuan dan kata-kata manis

Kelima, rasa pedas. Rasa pedas sudah disebutkan di awal artikel ini. Di dalam KBBI, definisi kata pedas diwakilkan dengan rasa cabai atau merica. Rasa pedas juga memiliki makna denotatif dan konotatif. Berikut ini adalah contoh-contoh kalimatnya:

  1. Dia sakit perut karena makan makanan yang sangat
  2. Saya tidak suka makanan yang pedas.
  3. Aku tidak suka berdebat dengannya karena kata-kata sangat pedas.

Keenam, rasa tawar dan hambar. Secara umum, rasa tawar dan hambar sering dianggap sama karena sama-sama tidak memiliki rasa. Akan tetapi, dua kata ini juga memiliki perbedaan. Istilah tawar digunakan untuk makanan atau minuman yang dari awalnya memang tidak memiliki rasa seperti air mineral (air putih untuk minum). Oleh sebab itu, kita mengenal istilah roti tawar, karena dari awal dibuat, roti itu memang tidak memiliki rasa yang mencolok. Berbeda dengan itu, rasa hambar digunakan untuk makanan dan minuman yang seharusnya ada rasa, tetapi menjadi tidak terasa. Hal ini diakibatkan karena ada bahan yang tidak dimasukkan atau dimasukkan dengan jumlah yang kurang, seperti kurang garam, kurang gula, dan kurang merica. Oleh sebab itu, makanan atau minuman itu dianggap hambar. Kata tawar dan hambar juga memiliki makna denotatif dan konotatif. Berikut ini adalah contoh-contoh penggunaannya:

  1. Saya pikir, gulai ini hambar. Bagaimana kalau kita tambahkan garam?
  2. Sejak sakit, semua makanan terasa hambar.
  3. Hubungan pasangan selebritas itu sudah hambar, karena itu mereka sering terlihat tidak mesra jika bersama.

Selain enam rasa yang bisa didefinisikan dengan konkret (seperti asin dengan garam, manis dengan gula, asam dengan lemon, pahit dengan obat, tawar dengan air, serta pedas dengan cabai), masih ada beberapa istilah rasa yang tidak mendefinisikan suatu makanan atau minuman dengan konkret. Kita akan masuk ke pembahasan rasa selanjutnya.

Ketujuh, rasa lezat, enak dan sedap. Tiga kata ini digunakan untuk makanan atau minuman yang rasanya bisa dinikmati dengan senang atau berada di atas standar. Kata yang benar-benar ditujukan untuk hidangan (makanan atau minuman) dan jarang digunakan secara konotatif atau untuk situasi lain adalah lezat. Berbeda dengan itu, kata enak dan sedap juga bersinonim dengan kata lezat, akan tetapi dua kata ini juga sering digunakan secara konotatif atau untuk situasi lain. Kata enak tidak hanya digunakan untuk makanan dan minuman, tetapi berbagai hal yang terasa menyenangkan, seperti lagunya enak, suaranya enak, anginnya enak, udaranya enak, kata-katanya enak didengar, tempat duduknya enak, dan kurang enak badan. Hal ini juga terjadi di dalam kata sedap, akan tetapi penggunaan kata sedap dalam konteks lain tidak sebanyak penggunaan kata enak. Ungkapan yang sering didengar saat menggunakan kata sedap adalah baunya sedap atau baunya kurang sedap. Berikut ini adalah contoh-contoh penggunaannya di dalam kalimat:

  1. Ini adalah makanan yang paling lezat di kota kami.
  2. Saat lebaran, ibu selalu menghidangkan makanan-makanan yang istimewa, enak, dan bervariasi.
  3. Saya suka semua lagu dari penyanyi itu karena suaranya sangat enak
  4. Saya mencium bau yang tidak sedap dari ruangan itu. Sepertinya ada tikus atau kecoa yang mati.

Kedelapan, rasa gurih dan umami. Rasa gurih sepertinya sudah tidak asing lagi terdengar di dalam kehidupan sehari-hari, meskipun definisi atau batasan dari rasa gurih masih banyak yang belum memahaminya. Ada yang menganggap bahwa rasa gurih adalah makanan yang renyah dengan rasa manis, ada juga yang menganggap makanan yang enak dengan rasa yang menarik (cenderung asin), dan sebagainya. Di dalam KBBI, definisi kata gurih diwakilkan dengan ikan goreng. Selain kata gurih, juga ada kata umami yang dianggap bersinonim. Akan tetapi, kata umami ini jarang digunakan di dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam KBBI, kata umami dilabeli dengan kode “Jp” (Jepang) dan “Gz” (gizi) dengan makna “rasa gurih yang berasal dari monosodium glutamat, asam amino, protein, serta ribonukleotida”. Kata umami diadposi dari bahasa Jepang yang bermakna “enak” atau “lezat”.

Inilah berbagai istilah rasa yang ada di dalam bahasa Indonesia. Berabagi istilah rasa ini ternyata juga memiliki makna denotatif dan konotatif yang sesuai dengan rasa itu secara harfiah. Rasa pahit, asam, dan masam dianggap sebagai idiom yang bernuansa negatif, sedangkan rasa manis dianggap memiliki nuansa yang positif. Semoga artikel ini bermanfaat.

Tags: #Reno Wulan Sari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Gubernur Sumbar Ajukan Rp382,65 Miliar untuk Pusat Kebudayaan

Berita Sesudah

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Berita Terkait

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

Minggu, 29/3/26 | 15:18 WIB

Oleh: Naura Aziza Cahyani (Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Universitas Andalas (UNAND) merupakan salah satu universitas tertua di...

Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

Minggu, 29/3/26 | 14:53 WIB

Oleh: Sabina Yonandar (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Media sosial menjadi salah satu cara yang sangat mudah...

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Kriteria Pemimpin 3P (Palapau, Pasurau, dan Pagurau) di Minangkabau

Minggu, 15/3/26 | 15:41 WIB

‎Oleh: Alfan Raseva (Ketua Ketua Taruna Nagari Aie Tajun, Kecamatan Lubuk Alung)   Kepemimpinan dalam kacamata Minangkabau adalah perpaduan antara...

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB

Oleh: Amanda Restia (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Nama Siti Nurbaya sering kali langsung dilibatkan dengan...

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Iwan Fals merupakan musisi legendaris Indonesia yang menjadi...

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Berita Sesudah
Identitas Lokal dalam Buku Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar

Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

POPULER

  • Tambahan TKD Sumbar Rp1,65 Triliun, Difokuskan untuk Pemulihan Pascabencana dan Layanan Publik

    Tambahan TKD Sumbar Rp1,65 Triliun, Difokuskan untuk Pemulihan Pascabencana dan Layanan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penafsiran Analogi dan Lokalitas dalam Wacana di Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berbagai Macam Rasa di dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-Puisi Elly Delfia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Sumbar Ajukan Rp382,65 Miliar untuk Pusat Kebudayaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026