
Oleh: Arina Isti’anah
(Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)
Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam berbagai ranah, baik itu hiburan, politik, dan akademis. Pada ranah hiburan, masyarakat acapkali mengikuti tren penggunaan AI dalam unggahan media sosial mereka, yang ternyata juga memicu kontroversi terkait hak cipta, seperti produksi gambar AI yang bergaya Studio Ghibli. Studio Ghibli merupakan perusahaan animasi Jepang di Tokyo yang didirikan oleh Hayao Miyazaki dan Isao Takahata pada 1985. Karya-karya Studio Ghibli telah merambah ke industri global dan mendapatkan banyak pernghargaan, seperti Golden Bear 2002 dan Oscar 2003 untuk film animasi terbaik (bbc.com).
Dengan popularitas tersebut, GPT (Generative Pre-trained Trasnformer) sebagai chatbot berbasis AI, meluncurkan fiturnya yang memungkinkan kita mengirim permintaan GPT untuk memproduksi berbagai foto tokoh dan peristiwa global menjadi gambar anime yang bergaya Studio Ghibli. Tech Wire Asia pada April 2025 mencatat dan melaporkan bahwa ada lebih dari 150 juta pengguna GPT dan hal tersebut berimbas pada produksi gambar bergaya Studio Ghibli di media sosial. Hayao Miyazaki secara tegas keberatan dengan inovasi GPT tersebut dan menyatakan sikapnya untuk tidak ingin memasukkan teknologi AI ke dalam karyanya. Bahkan, Hayao juga merasa terhina dengan gaya Studio Ghibli yang diproduksi GPT.
Pada minggu kedua Februari 2026 ini, kita banyak menemukan unggahan netizen dengan gambar mereka yang dibuat oleh AI, misalnya Chat GPT. Kita hanya perlu memasukkan prompt atau perintah kepada AI untuk membuat ilustrasi wajah kita yang berlatarbelakang gambaran informasi tentang diri kita. Prompt tersebut bertuliskan “Everyone Play Along!! Go to ChatGPT and use this prompt: “Create a caricature of me and my job based on everything you know about me.” Tren dengan prompt bahasa Inggris tersebut telah dilakukan oleh 4,1 juta orang pengguna Instagram menurut catatan penulis. Dengan perintah yang sama dalam bahasa Spanyol, tren tersebut digunakan lebih dari 2,3 juta warganet. Dengan unggahan berjumlah fantastis tersebut, bisa kita bayangkan betapa masifnya penggunaan AI ini dalam ranah hiburan.
Setiap kali meminta AI chatbot untuk meringkas dokumen resmi atau menggambar karikatur kita, perintah ini mengirimkan pesan kepada pusat data dan menekan kelangkaan sumber daya alam, yaitu air. Akademisi di Amerika menyatakan bahwa AI membutuhkan 500ml air untuk memproses 10-50 kueri. Air tersebut digunakan sebagai sumber daya untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik bertenaga batubara, gas, dan nuklir dari mesin generator yang digunakan. Laporan BBC pada 2025 menunjukkan bahwa chatGPT menjawab satu miliar kueri setiap hari, itupun hanya satu dari berbagai macam bot AI. Oleh karenanya, bisa kita bayangkan berapa kubik air dibutuhkan oleh AI untuk memproses gambar karikatur yang berjumlah jutaan tersebut, hanya dari prompt yang dipopulerkan melalui media sosial.
Lebih lanjut, penelitian tersebut juga memperkirakan bahwa industri AI akan membutuhkan empat hingga enam kali lebih banyak air setiap tahunnya dari pada jumlah konsumsi air di seluruh negara Denmark pada 2027 (bbc.com). Hal tersebut patut menjadi perhatian kita sebagai pengguna media sosial dan AI. Perintah yang dikirim ke AI membuat pusat data membutuhkan air sebagai bahan bakar menara pendingin AI. Pusat data membutuhkan 0,5 hingga 1,5 liter air untuk mendinginkan setiap kilowatt-jam daya yang digunakan AI, tergantung pada efisiensi sistem dan iklim lokasi pusat data (poltekbangplg.ac.id). HM energi mencatat bahwa konsumsi air dari pusat data AI dapat meningkat hingga 1 miliar liter per tahun pada 2028. Chip semikonduktor yang menjadi komponen utama komputer untuk menjalankan AI juga diproses dengan ultrapure water, yaitu air dengan tingkat kemurnian ekstrem untuk mencuci silicon wafers, komponen elektronik yang digunakan sebagai microchip AI.
Studi dari Environmental and Energy Study Institute juga mengungkapkan bahwa pusat data AI mengonsumsi 5 juta galon air per hari, setara dengan penggunaan air di sebuah kota dengan populasi 10.000 hingga 50.000 orang. Dengan demikian, semakin tinggi permintaan terhadap AI, semakin tinggi konsumsi air yang dibutuhkan. Tidak hanya itu, emisi karbon yang dihasilkan oleh AI juga semakin meningkat. Secara tidak langsung, penggunaan AI yang meluas, dengan tidak bijak, dapat berkontribusi pada pemanasan global dan ancaman ekologis.
Tulisan ini bermaksud menunjukkan relasi, yang mungkin dianggap tidak langsung, antara penggunaan AI dan ancaman ekologis. Keberadaan air dan udara bersih merupakan elemen dari ekosistem yang menopang kehidupan manusia, binatang, dan generasi yang akan datang. Perilaku kita dalam menggunakan AI ternyata dipengaruhi oleh tren media sosial dalam bentuk bahasa. Keberadaan prompt yang ditawarkan oleh AI tersebut berupa bahasa yang mengajak kita untuk mengikuti apa kata dunia. Dalam konteks tren di Instagram, jutaan pengguna telah memasukkan prompt ke dalam chatbot AI, dan bisa kita bayangkan berapa juta kubik air dibutuhkan oleh pusat data AI untuk memproses prompt tersebut.
Ancaman ekologis, termasuk ketersediaan air bersih, nyatanya telah kita hadapi secara langsung. Mungkin kita belum merasakan dampak nyata krisis air bersih saat ini dari prompt yang kita sampaikan ke chatbot AI. Namun, anak cucu kita mungkin akan menjadi saksi bagaimana sulitnya mencari air bersih karena kelangkaannya. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba mengajak pembaca untuk lebih bijak dalam menggunakan AI karena kemajuan teknologi juga sebuah keniscayaan yang dapat memajukan peradaban manusia. Namun demikian, bumi ini bukan hanya milik kita yang hidup saat ini, namun milik generasi mendatang yang juga memiliki hak untuk menghirup udara segar dan menikmati air bersih.








