Senin, 27/4/26 | 09:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Aksen Tailan Sebagai Ruang Bermain Identitas

Minggu, 25/1/26 | 15:00 WIB

Oleh: Nurvita Wijayanti
(Pemerhati bahasa dari Kepulauan Bangka Belitung)

Apakah Anda pernah menemukan postingan di Instagram tentang bahasa lokal yang dimainkan intonasi dan nadanya sehingga terdengar seperti aksen bahasa lain? Anda mungkin pernah mendengar lagu berbahasa Inggris namun dinyanyikan dengan cengkok dangdut atau lirik bahasa Indonesia namun dinyanyikan dengan nada dan melodi yang terdengar seperti prosodi bahasa Jepang. Dalam linguistik, fenomena ini disebut dengan stilisasi aksen, yang dibuat secara sadar atau sengaja. Coupland (2001 & 2007) sebagai orang yang mempopulerkan kajian stilisasi aksen, yang merupakan penggunaan gaya bahasa yang dipentaskan secara sadar untuk menampilkan identitas, persona, atau efek sosial tertentu. Dengan kata lain, aksen merupakan hal yang penutur tidak sadari ketika menggunakannya, namun pada stilisasi aksen, penutur secara sadar mengubah aksen suatu bahasa tertentu dengan tujuan tertentu pula.

Akun Instagram @awingaljamal memparodikan aksen bahasa Tailan menggunakan teks bahasa Jawa, seperti dalam postingannya yang berjudul Dee Sun Thang Ngean. Si pemilik akun, Abdul Mushhowir Al Jamal, sengaja menggunakan teks berbahasa Jawa yang terdengar seperti logat Tailan. Kemudian, teks dipraktikkan menggunakan aksen Tailan tersebut. Proses ini disebut sebagai stilisasi prosodi dan segmental yang bertujuan untuk menciptakan ilusi aksen Tailan.

BACAJUGA

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Minggu, 19/4/26 | 22:40 WIB
Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

“Nyamuk keok”, yang diucapkan dengan aksen Tailan, yaitu bunyi /ɲ/ dalam bahasa Jawa yang seharusnya terdengar seperti bunyi nasal palatal atau suara sengau yang posisi lidah ada di langit-langit keras, diubah menjadi bunyi yang lebih palatal atau tidak lagi sengau, Selain itu, bunyi /ke.ok/ yang diformat berjeda antara dua suku kata, serta konsonan akhir /k/ disengaja menjadi lemah, bahkan hampir tak terdengar untuk tampak seperti aksen Tailan. Pada bagian yang lain, “Kan lumayan” menggunakan ritme yang mengalir, intonasi datar, dan bunyi /n/ yang jelas, diubah menjadi pemisahan suku kata yang jelas, konsonan akhir melemah, dan intonasi naik di akhir frasa yang sangat khas tuturan Tailan.

Sementara itu, lirik “Tumben diceluk Yang” menggunakan penggalan [tum . ben I di . ce . lu(k) I jaղ] adalah bentuk frasa bahasa Jawa yang memiliki tempo yang lambat, tekanan tiap suku kata lebih merata, konsonan akhir melemah, dan intonasi naik di akhir frasa. Dalam konteks pemilik akun @awingaljamal, bentuk-bentuk yang disebutkan disesuaikan dengan aksen Tailan yaitu syllable-timed yaitu dipisah jelas per suku kata pada kata tumben, pelepasan bunyi /k/ pada kata diceluk, pitch naik ringan dengan durasi vokal sedikit diperpanjang pada suku kata [jaղ] sehingga menghasilkan manipulasi bahasa Jawa beraksen Tailan.

Dalam kajian sosiolinguistik, aksen bukan sekedar alat berbicara, namun justru menunjukkan identitas si penutur. Akun Instagram @awingaljamal menggunakan aksen dan stilisasi aksen dengan tujuan humor dan menaikkan jumlah pengikut. Selain itu, secara tidak langsung, akun ini menghubungkan stilisasi aksen dengan konsep percampuran budaya yang diwakili oleh bahasa, serta berkontribusi dalam pembentukan ekspresi identitas hibrid.

Artinya, konten yang diproduksi oleh akun @awingaljamal merupakan representasi bahasa yang dimanipulasi melalui gaya stilisasi aksen yang menjadikan konten ini sebagai hiburan bagi pengguna media sosial Instagram. Melalui konten ini, pengikut turut merayakan dan merasakan kekayaan aksen dari tiap-tiap daerah dengan dibungkus candaan yang pintar, apalagi dengan penyematan nama aksen yang distilisasi yaitu Jawaland yang bermakna Jawa-Thailand. Sekarang, nama Jawa Thailand sudah dikoreksi oleh KBBI menjadi Jawa-Tailan (Jawalan).

Tags: #Nurvita Wijayanti
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ratusan Pelari Ramaikan Talao Beach Run 2026 di Pariaman

Berita Sesudah

MBG Dinilai Jadi Investasi Gizi dan Pengungkit Ekonomi Daerah, DPRD Sumbar Dorong Keberlanjutan Program

Berita Terkait

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Dari ‘Rakyat’ ke ‘Masyarakat’: Pergeseran Kata dan Ideologi

Minggu, 19/4/26 | 22:40 WIB

Oleh: M. Subarkah dan Maharani Syifa Ramadhan (Mahasiswa Program Magister Linguistik Universitas Andalas dan Mahasiswi Program Magister Sastra Universitas Padjajaran)...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Sukses dalam Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

Minggu, 19/4/26 | 22:16 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)    Idulfitri merupakan frasa  bahasa Arab, terdiri...

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Makna Konotasi dan Denotasi Kata Cabe-Cabean

Minggu, 12/4/26 | 16:27 WIB

Oleh: Alya Najwa Abdillah (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan S1 Teknik Lingkungan Universitas Andalas)   Bahasa berkembang seiring dengan berjalannya...

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Peran Sintaksis dalam Kehidupan Sehari-hari

Minggu, 12/4/26 | 15:54 WIB

Oleh: Gilang Nindra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Dalam Tarmini dan Sulistyawati (2019: 1-2), sintaksis...

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Membongkar Rahasia Kalimat Menurut Para Ahli

Minggu, 12/4/26 | 15:41 WIB

Oleh: Febby Gusmelyyana (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Bahasa adalah sistem komunikasi paling sempurna yang...

Batu dan Zaman

Lebih dari Ego: Membaca Bawang Merah Bawang Putih melalui Psikoanalisis

Minggu, 05/4/26 | 11:04 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerita Bawang Merah Bawang Putih dalam antologi berjudul...

Berita Sesudah
MBG Dinilai Jadi Investasi Gizi dan Pengungkit Ekonomi Daerah, DPRD Sumbar Dorong Keberlanjutan Program

MBG Dinilai Jadi Investasi Gizi dan Pengungkit Ekonomi Daerah, DPRD Sumbar Dorong Keberlanjutan Program

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Unsur Intrinsik Naskah Drama “Orang-Orang di Tikungan Jalan” Karya Rendra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harimau vs Singa, Siapa yang Lebih Kuat? Ini Fakta Sains dan Kasus Nyatanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PMII Diingatkan Tak Jadi Alat Politik, Mabincab Padang Soroti Pragmatisme Kekuasaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Efektivitas Ribuan Tangga di Universitas Andalas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Penghubung “tetapi” dan “sedangkan”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026