
Oleh: Nurvita Wijayanti
(Pemerhati bahasa dari Kepulauan Bangka Belitung)
Apakah Anda pernah menemukan postingan di Instagram tentang bahasa lokal yang dimainkan intonasi dan nadanya sehingga terdengar seperti aksen bahasa lain? Anda mungkin pernah mendengar lagu berbahasa Inggris namun dinyanyikan dengan cengkok dangdut atau lirik bahasa Indonesia namun dinyanyikan dengan nada dan melodi yang terdengar seperti prosodi bahasa Jepang. Dalam linguistik, fenomena ini disebut dengan stilisasi aksen, yang dibuat secara sadar atau sengaja. Coupland (2001 & 2007) sebagai orang yang mempopulerkan kajian stilisasi aksen, yang merupakan penggunaan gaya bahasa yang dipentaskan secara sadar untuk menampilkan identitas, persona, atau efek sosial tertentu. Dengan kata lain, aksen merupakan hal yang penutur tidak sadari ketika menggunakannya, namun pada stilisasi aksen, penutur secara sadar mengubah aksen suatu bahasa tertentu dengan tujuan tertentu pula.
Akun Instagram @awingaljamal memparodikan aksen bahasa Tailan menggunakan teks bahasa Jawa, seperti dalam postingannya yang berjudul Dee Sun Thang Ngean. Si pemilik akun, Abdul Mushhowir Al Jamal, sengaja menggunakan teks berbahasa Jawa yang terdengar seperti logat Tailan. Kemudian, teks dipraktikkan menggunakan aksen Tailan tersebut. Proses ini disebut sebagai stilisasi prosodi dan segmental yang bertujuan untuk menciptakan ilusi aksen Tailan.
“Nyamuk keok”, yang diucapkan dengan aksen Tailan, yaitu bunyi /ɲ/ dalam bahasa Jawa yang seharusnya terdengar seperti bunyi nasal palatal atau suara sengau yang posisi lidah ada di langit-langit keras, diubah menjadi bunyi yang lebih palatal atau tidak lagi sengau, Selain itu, bunyi /ke.ok/ yang diformat berjeda antara dua suku kata, serta konsonan akhir /k/ disengaja menjadi lemah, bahkan hampir tak terdengar untuk tampak seperti aksen Tailan. Pada bagian yang lain, “Kan lumayan” menggunakan ritme yang mengalir, intonasi datar, dan bunyi /n/ yang jelas, diubah menjadi pemisahan suku kata yang jelas, konsonan akhir melemah, dan intonasi naik di akhir frasa yang sangat khas tuturan Tailan.
Sementara itu, lirik “Tumben diceluk Yang” menggunakan penggalan [tum . ben I di . ce . lu(k) I jaղ] adalah bentuk frasa bahasa Jawa yang memiliki tempo yang lambat, tekanan tiap suku kata lebih merata, konsonan akhir melemah, dan intonasi naik di akhir frasa. Dalam konteks pemilik akun @awingaljamal, bentuk-bentuk yang disebutkan disesuaikan dengan aksen Tailan yaitu syllable-timed yaitu dipisah jelas per suku kata pada kata tumben, pelepasan bunyi /k/ pada kata diceluk, pitch naik ringan dengan durasi vokal sedikit diperpanjang pada suku kata [jaղ] sehingga menghasilkan manipulasi bahasa Jawa beraksen Tailan.
Dalam kajian sosiolinguistik, aksen bukan sekedar alat berbicara, namun justru menunjukkan identitas si penutur. Akun Instagram @awingaljamal menggunakan aksen dan stilisasi aksen dengan tujuan humor dan menaikkan jumlah pengikut. Selain itu, secara tidak langsung, akun ini menghubungkan stilisasi aksen dengan konsep percampuran budaya yang diwakili oleh bahasa, serta berkontribusi dalam pembentukan ekspresi identitas hibrid.
Artinya, konten yang diproduksi oleh akun @awingaljamal merupakan representasi bahasa yang dimanipulasi melalui gaya stilisasi aksen yang menjadikan konten ini sebagai hiburan bagi pengguna media sosial Instagram. Melalui konten ini, pengikut turut merayakan dan merasakan kekayaan aksen dari tiap-tiap daerah dengan dibungkus candaan yang pintar, apalagi dengan penyematan nama aksen yang distilisasi yaitu Jawaland yang bermakna Jawa-Thailand. Sekarang, nama Jawa Thailand sudah dikoreksi oleh KBBI menjadi Jawa-Tailan (Jawalan).






