Selasa, 10/3/26 | 22:28 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun adalah tidak bekerja lagi karena masa tugasnya sudah selesai. Kata lain yang sering digunakan adalah purnatugas. Kata ini terdiri atas dua unsur: purna yang berarti penuh atau selesai, serta tugas, yang merujuk pada keadaan setelah berakhirnya masa tugas. Di atas kedua istilah tersebut, ada kata purnabakti.

BACAJUGA

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB
Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Kata bakti dalam KBBI memiliki dua makna: (1) tunduk dan hormat; perbuatan yang menyatakan kesetiaan, kasih, dan hormat, serta (2) berbuat bakti dan setia. Seseorang disebut berbakti ketika ia setia dan membaktikan dirinya untuk kemajuan suatu institusi, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta mencetak generasi penerus yang berilmu, bertakwa, dan berbudaya.

Selama ini, kata pensiun kerap dimaknai semata-mata sebagai akhir dari sebuah tugas. Padahal, untuk sampai pada masa pensiun, seseorang harus melalui perjalanan yang sangat panjang. Masa muda yang dihabiskan di tempat kerja. Banyak yang mulai bekerja dalam keadaan lajang, dan ketika pensiun, tidak jarang telah memiliki satu atau dua cucu.

Seorang dosen, atau ASN pada umumnya, ketika menerima sebuah Surat Keputusan, sesungguhnya tidak hanya terikat kontrak kerja, tetapi juga pengabdian jangka panjang. Ia mengabdikan separuh hidupnya pada satu institusi yang sama, selama kurang lebih tiga puluh tahun, bahkan lebih. Dengan rekan kerja yang relatif sama, beban kerja yang serupa, hanya sistemnya yang terus berganti. Tentu ini bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani.

Bagaimana mungkin seseorang dapat mengabdi selama itu? Tidak jarang mereka lebih sering berada di kantor daripada di rumah, lebih sering bertemu rekan kerja ketimbang keluarga sendiri. Tugas administratif yang bejibun, mengajar mata kuliah yang sama dari tahun ke tahun. Dengan dengan perbedaan hanya pada wajah-wajah mahasiswa hal ini telah menjadi keserharian dosen selama mereka mengabdi. Tidak jarang, mereka yang dahulu duduk di bangku mahasiswa, perlahan tumbuh menjadi rekan kerja, dan pada akhirnya, keluarga.

Namun, pekerjaan ini tentu tidak sia-sia. Ada proses kenaikan pangkat yang bukan hanya menaikkan jenjang karier, tetapi juga derajat diri dan keluarga. Walaupun banyak waktu tersita di kampus, pada hakikatnya dosen bekerja demi kesejahteraan keluarganya. Meski demikian, ini tetap bukan pekerjaan yang ringan: tuntutan yang berat, rutinitas yang kerap menjemukan, serta kewajiban membagi diri antara tugas administratif, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan peran-peran di ruang privat, sebagai istri, suami, ibu, ayah, nenek, dan kakek.

Lalu, bagaimana semua itu dapat dijalani selama tiga puluh tahun? Menjalani hari dengan rekan kerja yang relatif sama, tugas yang berulang, beban administratif yang seolah tak pernah habis, di tengah sistem yang terus berubah? Maka, sungguh terpujilah mereka yang berhasil sampai pada tahap ini dan menjadi teladan bagi kami yang masih jauh, baik secara keilmuan, kepangkatan, maupun masa kerja. Untuk sampai pada masa pensiun, seseorang pasti telah melewati masa kerja yang amat panjang. Banyak hal telah dilalui. Banyak rekan kerja datang dan pergi. Ada yang pensiun lebih dahulu karena memang telah sampai pada masanya, ada pula yang “pensiun” dalam arti berpulang menghadap Yang Maha Kuasa, selesai tugasnya sebagai dosen. Ternyata, tidak semua orang bisa sampai ke pada tahap ini.

Pada Jumat lalu, 6 Februari 2026, Program Studi Sastra Indonesia mengadakan kegiatan pelepasan purnatugas dosen Sastra Indonesia, Dr. Dra. Sulastri, M.Hum., dan Dra. Armini Arbain, M.Hum., sekaligus silaturahmi bersama keluarga mendiang Dra. Efriyades, M.Hum. Kegiatan ini dihadiri oleh staf pengajar Program Studi Sastra Indonesia, tenaga kependidikan, serta sivitas akademika Fakultas Ilmu Budaya, dan bertempat di Ruang Sidang Program Studi Sastra Indonesia.

Foto: Andina

Selain bermakna akhir, kata pensiun juga kerap dimaknai sebagai perpisahan. Secara administratif, rekan yang telah pensiun memang berpindah tempat tugas. Namun sesungguhnya, tugas seseorang tidak pernah benar-benar berhenti sekalipun telah memasuki masa pensiun, entah sebagai istri, ibu, nenek. Maka, apa yang telah disumbangkan oleh para dosen yang telah pensiun akan menjadi ladang amal. Tidak hanya ilmu, tetapi juga kebijaksanaan mereka akan menjadi legacy bagi kami yang ditinggalkan.

Inilah tugas yang tidak pernah tercatat dalam beban kerja dosen maupun sasaran kinerja pegawai. Bagaimana cara menghitungnya? Bagaimana memastikan bahwa beban kinerja tersebut tercapai dan tepat sasaran? Barangkali, inilah tugas yang sesungguhnya.

Maka, ketika seseorang berhasil menjalankan pekerjaannya hingga purnatugas, di situlah hakikat makna pensiun. Mampu menjalankan tugas dan sampai pada tahap pensiun adalah sebuah tujuan, bahkan cita-cita. Seperti ketika kecil seseorang sering ditanya apa cita-citanya: menjadi dosen, dokter, atau wartawan. Ketika seseorang berhasil meraih cita-cita, tentu ada kerja keras dan proses belajar yang tidak pernah berhenti. Ternyata, untuk meraih cita-cita sebagai seorang pensiunan pun dibutuhkan kerja keras dan pembelajaran yang panjang.

Walaupun seseorang telah dinyatakan pensiun, sebuah tugas sesungguhnya hanya berpindah tempat, dari satu ruang ke ruang lain, dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab yang lain. Proses belajar pun tidak akan berhenti sampai tugasnya di dunia benar-benar selesai.

Jika dipikir-pikir, kami sebagai generasi penerus masih harus melalui perjalanan yang sangat panjang. Ibarat sebuah lingkaran, masa bakti kami belum sampai seperempatnya, apalagi setengah. Barangkali baru sepersepuluh yang kami lalui. Melihat para dosen yang telah mencapai masa purnabakti menyadarkan kami untuk menjalani sembilan persepuluh masa bakti kami dengan lebih bersungguh-sungguh, tidak sekadar menunaikan tugas administratif, mengajar jabatan fungsional dan struktural, tetapi juga memberi makna bagi diri sendiri, rekan kerja, dan masyarakat.

Oleh sebab itu, kegiatan ini bukan sekadar pelepasan dosen purnabakti, tetapi juga balanjuang, yang dalam bahasa Minangkabau berarti bekerja sama, gotong royong, dan silaturahmi. Tradisi ini telah menjadi bagian dari keluarga besar Program Studi Sastra Indonesia, diisi dengan makan bersama, berkumpul, dan bertukar cerita.

Mengumpulkan para dosen ini tentu bukan perkara mudah di sela-sela banyak tugas menanti: mengajar, menulis, mengabdi kepada masyarakat, mengawas ujian. Setelah masa ujian, menyusul koreksi, input nilai, pengisian BKD dan SKP, pengesahan KRS mahasiswa, lalu kembali berkutat dengan perkuliahan selama satu semester ke depan.

Walaupun telah berbeda tempat tugas, bahkan berbeda alam, silaturahmi dan kerja sama akan tetap terjalin. Ilmu dan kebijaksanaan yang diwariskan menjadi amal jariah. Maka, kata pensiun tidak selalu bermakna perpisahan. Oleh sebab itu, marilah kita maknai ulang kata pensiun sebagai sebuah awal yang baik, sebuah keberlanjutan dalam bentuk lain, dan kebersamaan yang akan selalu dikenang. Pada hakikatnya, pensiun hanya mengubah ruang belajar, dari satu tempat ke tempat yang lain. Bukankah begitu seharusnya kehidupan dijalani?

Selamat menjalani masa purnatugas, Bu Sulastri dan Bu Armini. Terima kasih atas seluruh ilmu yang telah diberikan. Selamat jalan, Bu Efriyades. Terima kasih atas segala yang telah beliau tinggalkan. Bagi kami, ketiganya bukan sekadar rekan kerja, tetapi mahaguru, tidak hanya di kampus, tetapi juga di kehidupan. Jika kami kelak mampu menjalankan setengah dari apa yang telah mereka lalui, pastilah kami termasuk orang-orang yang diberkati. Kami merasa bersyukur telah dipertemukan dengan sosok luar biasa seperti mereka. Kelak, ketika dosen-dosen kembali silih berganti memasuki masa pensiun, biar kami yang melanjutkan tradisi ini.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Berita Sesudah

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Berita Terkait

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Ketika Cinta Kalah oleh Adat dan Zaman dalam Novel Siti Nurbaya

Minggu, 08/3/26 | 22:51 WIB

Oleh: Amanda Restia (Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Nama Siti Nurbaya sering kali langsung dilibatkan dengan...

Pandangan Khalil Gibran tentang Musik sebagai Bahasa Rohani

Analogi dan Lokalitas Lagu “Rindu Tebal” Karya Iwan Fals

Minggu, 08/3/26 | 18:27 WIB

Oleh: Faathir Tora Ugraha (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Iwan Fals merupakan musisi legendaris Indonesia yang menjadi...

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Berita Sesudah
Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

POPULER

  • Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

    Nama Nagari di Sumatera Barat: Dari Sejarah menjadi Sistem Pertahanan Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKDP Sumbar Perkuat Silaturahmi Perantau Pariaman Lewat Buka Puasa Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inspirasi Menu Buka Puasa Enak: Dari Takjil Manis Hingga Lauk Gurih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ratusan Anak Yatim dan Dhuafa Buka Bersama Sahabat Mulia Madani Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Padang Gelar Rapat Paripurna Penyampaian LKPJ TA 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026