Sabtu, 28/2/26 | 11:18 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Senin, 15/12/25 | 06:15 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

 

“Wah, ternyata dia nyata, bukan sekadar cerita rakyat!”

BACAJUGA

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB
Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Seruan ini kerap ditemukan di kolom komentar di media sosial ketika seseorang melihat sosok yang selama ini dilihatnya di dunia maya, tampil di dunia nyata. Ungkapan ini dapat bermakna kekaguman ataupun rasa ketidakpercayaan, saat seseorang melihat idolanya yang selama ini terasa jauh dan hanya terlihat di layar, hadir di hadapannya. Namun, jika ditelisik lebih jauh, terdapat lapisan makna di balik seruan tersebut. Salah satunya adalah anggapan bahwa frasa ‘cerita rakyat’ diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak nyata, fiktif, dongeng, atau mitos. Benarkah demikian? Lalu, bagaimana sekiranya frasa ini mengalami perubahan makna dan seperti apa posisinya di kalangan generasi digital?

Pada zaman dahulu, manusia mengandalkan lisan sebagai sarana komunikasi dan ekspresi. Melalui tuturan, manusia menyampaikan ide, gagasan, pikiran, serta pengalaman yang kemudian membentuk tradisi lisan dan diwariskan antargenerasi. Tradisi lisan ini merefleksikan kolektif kebudayaan masyarakat setempat kolektif. Cerita rakyat adalah bagian dari tradisi lisan tersebut. Danandjaja (2002) mendefinisikan cerita rakyat sebagai folklor yang disampaikan secara lisan dari satu generasi ke generasi lainnya. Beberapa contoh cerita rakyat yang dikenal luas di antaranya Timun Mas, Bawang Merah Bawang Putih, Malin Kundang, dan sebagainya.

Menurut Huck, dkk., dalam Anafiah (2015), cerita rakyat awalnya ditujukan untuk orang dewasa. Pada perkembangannya, cerita rakyat kemudian dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat dinikmati anak-anak. Cerita rakyat tidak hanya sekedar hiburan, tetapi di dalamnya terdapat nilai moral dan pendidikan, dan dapat berfungsi sebagai sarana penanaman karakter, misalnya melalui penggambaran kemenangan tokoh baik yang atas tokoh jahat.

Lantas mengapa eksistensi cerita rakyat semakin melemah di era digital, khususnya di kalangan generasi muda, seperti pada frasa cerita rakyat ini yang semakin mengalami pergeseran makna? Hal ini disebabkan karena sifat bahasa yang arbitrer dan sangat bergantung pada konteks. Bahasa bersifat dinamis dan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Globalisasi, teknologi dan media sosial membuka ruang interaksi dan meningkatkan kebebasan berkekspresi yang kemudian memunculkan berbagai bentu bahasa baru, dan perubahan makna pada sejumlah kata.

Dalam ilmu linguistik dikenal istilah semantik yang mempelajari pergeseran arti kata. Chaer dalam Bura (2025) mencatat lima klasifikasi perubahan makna kata dalam bahasa Indonesia, di antaranya perluasan (generalisasi), penyempitan (ameliorasi), penghalusan (eufemia), pengasaran (disfemia), dan perubahan makna total. Berdasarkan fenomena bahasa, perubahan makna frasa ‘cerita rakyat’ menempati posisi perubahan secara penyempitan (ameliorasi). Hal ini tampak jelas di media sosial, makna ‘cerita rakyat’ yang dulunya luas, kini justru terbatas pada hal-hal yang dianggap fiktif. Pandangan generasi digital yang memandang legenda – sebagai bagian dari salah satu cerita rakyat – sebagai sesuatu yang aneh, tidak masuk akal, bahkan tidak relevan (Anwar, 2020), turut memperkuat argumen tersebut. Dalam praktik budaya populer, legenda dan cerita rakyat kerap dipandang sebagai permainan tanda dan estetika visual tanpa memerhatikan makna serta fungsi kulturalnya (Piliang, dalam Anwar, 2021). Padahal, cerita rakyat sendiri mencakup mitos, legenda, dan dongeng yang kesemuanya memiliki ciri khas tersendiri.

Menurut Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2005), mitos adalah kisah yang diyakini masyarakat tertentu dan berkaitan dengan kekuatan supranatural, hubungan manusia dengan dewa-dewa atau sesama dewa, serta penjelasan tentang asal usul tempat, peristiwa, dan tingkah laku manusia. Mitchell, dalam Nugiyantoro (2005), legenda dipahami sebagai cerita magis dan kekuatan supranatural, kerap dikaitkan asal usul tempat, tokoh, kejadian, sehingga kadang beririsan dengan mitos. Adapun dongeng dipahami sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi dan sering tidak masuk akal. Ketiga bentuk cerita rakyat tersebut sama-sama memuat unsur magis, supranatural, dan imajinatif, sehingga dalam pandangan modern kerap dipahami sebagai fiksi. Hal tersebut dapat dipahami sebagai alasan penyempitan makna terhadap frasa ‘cerita rakyat’. Padahal, bagi masyarakat zaman dulu, cerita rakyat dipandang sebagai sarana memahami dunia dan menyampaikan nilai-nilai kolektif. Kemudian seiring dengan berkembangnya tradisi tulis, para pengumpul cerita mulai menuliskan kembali kisah-kisah tersebut sesuai dengan interpretasi mereka dan kerap memasukkan rasionalisasi terhadap unsur magis, yang pada akhirnya semakin menggeser cara pandang masyarakat terhadap makna cerita rakyat itu sendiri.

Sastra merupakan representasi kebudayaan dan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan pada zamannya. Cerita rakyat merupakan manifestasi pandangan dunia secara kolektif, diturunkan secara turun temurun dan mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu, kedinamisan bahasa, pergeseran makna ‘cerita rakyat’ menjadi sesuatu yang tidak dapat dipungkiri. Bagi masyarakat modern, posisi cerita cerita rakayat dalam kesusasteraan boleh jadi mengalami pergeseran. Namun demikian, cerita rakyat tetap harus dilestarikan karena hal itu tidak hanya merupakan warisan kebudayaan, tetapi juga di dalamnya terdapat nilai-nilai universal yang disampaikan melalui lokalitas budaya dan kearifan daerah.

Cerita rakyat mencerminkan kebiasaan, adat, dan kehidupan sehari-hari di mana cerita tersebut berkembang (Ferando, dkk. 2025), misalnya cerita Malin Kundang menggambarkan kearifan lokal Minangkabau seperti tradisi merantau dan sistem kekerabatan matrilineal. Dari konteks lokal tersebut muncul nilai-nilai universal seperti pentingnya rendah hati setelah meraih kesuksesan serta konsekuensi bagi anak yang durhaka kepada orang tua. Cerita rakyat Sangkuriang dari Sunda dan Prabu Watu Gunung dari Jawa yang memiliki kemiripan alur, tema, dan pesan moral. Keduanya menceritakan kisah seorang pangeran yang jatuh cinta pada ibunya dan mengajarkan bahanya akan ketamakan. Cerita Sangkuriang dipercaya sebagai asal usul terjadinya Gunung Tangkuban Perahu. Sementara itu, Watugunung berkaitan dengan mitologi Jawa, dan kemunculan ‘wuku’, sebuah sistem perhitungan waktu tradisional dalam masyarakat Jawa dan Bali, serta merujuk pada nama objek wisata alam di Ungaran, Jawa Tengah.

Walaupun tergolong dalam jenis sastra tradisional, cerita rakyat tetap relevan untuk dijadikan materi pembelajaran di sekolah. Namun, pemanfaatannya membutuhkan kerja sama berbagai pihak, terutama orang tua dan guru agar siswa dapat mencapai tahap apresiasi yang optimal. Pada tahap awal, apresiasi awal dapat dilakukan melaui kegiatan mendongeng oleh orang tua sehingga cerita rakyat mampu mendukung perkembangan kognitif dan meningkatkan imajinasi anak. Di tingkat sekolah, apresiasi cerita rakyat memiliki sejumlah manfaat seperti meningkatkan keterampilan berbahasa, meningkatkan minat baca, membangun kecerdasan dan empati. Namun, dalam implementasinya, pemilihan cerita rakyat harus dilakukan secara tepat dan disesuikan dengan usia dan tingkat perkembangan kognitif anak. Menurut Norton (dalam Anafiah, 2015), beberapa cerita anak masih memuat representasi perempuan yang lemah dan tertindas, sterotipe ibu tiri yang kejam, serta penggambaran fisik tokoh berwajah cantik atau tampan pasti memiliki sifat yang baik.

Melihat berbagai kekayaan dan manfaat yang dimiliki cerita rakyat—mulai dari cerminan nilai kolektif masyarakat setempat, warisan budaya, penanaman nilai-nilai universal melalui kearifan lokal hingga kontribusinya bagi perkembangan kognitif anak dan relevansinya dalam pembelajaran di sekolah—sudah saatnya keberadaannya memperoleh perhatian yang lebih. Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui digitalisasi arsip cerita rakyat, kolaborasi dinas pariwisata dan kebudayaan untuk menjadikannya daya tarik wisata, serta pengalihwahanaan ke berbagai media seperti komik, animasi, video, dan permainan edukatif agar lebih dekat dengan generasi muda. Dalam ranah pendidikan, penguatan kurikulum dan peningkatan kompetensi guru terkait literasi budaya lokal dapat menjadi langkah awal untuk memaksimalkan pemanfaatannya.

Makna cerita rakyat boleh mengalami penyempitan namun hal ini mengingatkan bahwa nilai sejarah, tradisi, dan kebudayaan adalah rangkaian yang berkesinambungan dan tidak terputus (Nurgiyantoro, 2005). Cerita rakyat tidak sekadar fantasi atau hiburan, tetapi juga memuat pengetahuan tentang bagaimana suatu komunitas memaknai dunia. Oleh sebab itu, upaya pelestariannya melalui jalur edukatif maupun kreatif tidak hanya penting untuk mencegahnya hilang di tengah arus digitalisasi dan globalisasi, tetapi juga agar nilai-nilai lokalitas dan universal yang di dalamnya tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.

Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Lulusan Perguruan Tinggi Banyak Nganggur, Rektor UNP: Cari Peluang Kerja ke Luar Negeri

Berita Sesudah

Walikota Padang Himbau Warga Batu Busuk Evakuasi ke Hunian Sementara

Berita Terkait

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Berita Sesudah
Wali Kota Padang Fadly Amran kembali, mengunjungi Batu Busuak Kecamatan Pauh, menyusul hujan deras yang kembali mengguyur Kota Padang, Minggu (14/12).(Foto:Ist)

Walikota Padang Himbau Warga Batu Busuk Evakuasi ke Hunian Sementara

POPULER

  • Bupati Dharmasraya Sidak Pangkalan dan Pengecer LPG 3 Kg, Temukan Pelanggaran Distribusi

    Bupati Dharmasraya Sidak Pangkalan dan Pengecer LPG 3 Kg, Temukan Pelanggaran Distribusi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Allah dan Orang Tua dalam Bisnis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “kepada”, “untuk”, dan “bagi”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bentuk-Bentuk Singkatan dalam Surat Resmi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024