Selasa, 03/3/26 | 03:55 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kekacauan dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

Minggu, 25/5/25 | 13:01 WIB
Kekacauan dalam Film “Pengepungan di Bukit Duri”

Oleh:  Queendi Kumala
(Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Universitas Andalas)

GILA! Bukan karena film ini adalah suatu masterpiece, tetapi semua adegan kegilaan yang berlimpah dalam setiap adegan film “Pengepungan di Bukit Duri”. Film yang disutradai oleh Joko Anwar (Jokan) dan diproduksi Amazon MGM Studio, serta Come and See Pictures ini dirilis tanggal 17 April 2025. Pada hari pertama rilis, film ini tembus 71 ribu penonton dan dalam 10 hari sudah tembus 1 juta penonton. Hal tersebut menjadi bukti kesuksesan dalam dunia perfilman Joko Anwar sebesar 42,8% dibanding dengan film Jokan lainnya. Film ini juga menjadi dobrakan segar saat perfilman Indonesia hanya berputar di genre horor.

Film “Pengepungan di Bukit Duri” dibuka dengan latar pada tahun 2009 yang memperlihatkan suasana ceria anak sekolah menengah pertama yang kala itu sedang jam istirahat. Berlatar musik Guruku Tersayang semakin menambah kesan hangat anak sekolahan pada adegan tersebut. Suasana film kemudian berganti menjadi menegangkan kala bel sekolah berbunyi. Jam sekolah terpaksa diberhentikan karena terdapat kericuhan antara pribumi melawan etnis Tionghoa yang sedang berlangsung yang membuat Edwin remaja (Theo Camillo) dan kakaknya, Silvi (Sheila Kusnadi) segera bergegas untuk pulang. Akan tetapi, naas keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Silvi diperkosa oleh segerombolan pribumi, sedangkan Edwin dipukul habis-habisan hingga tak sadarkan diri. Tidak sampai di situ, orang tua mereka juga dibakar hidup-hidup di dalam toko.

Layar menghitam menunjukkan judul “Pengepungan di Bukit Duri”, dilanjutkan penggambaran suram tahun 2027 setelah 18 tahun terlewat sejak kejadian itu. Keadaan Indonesia semakin memburuk. Kerusuhan rasial terhadap etmis Tionghoa semakin menjadi di mana-mana. Edwin dewasa (Morgan Oey) melamar pekerjaan menjadi seorang guru di sekolah menengah atas bernama SMA Duri. Pelamaran kerja tersebut Edwin lakukan demi sebuah janji yang ia terima dari Silvi sebelum meninggal, yaitu mencari anak hasil pemerkosaan Silvi yang diambil oleh pribumi. Mulai dari sinilah, jalan cerita film “Pengepungan di Bukit Duri” benar-benar ‘berjalan’. Di SMA Duri Edwin bertemu dengan Diana (Hana Malasan) seorang guru bimbingan konseling, Khristo (Endy Arfian) siswa paling baik dalam kelas, dan Jefri (Omara Esteghlal) si berandal di sekolah.

Selama menonton film “Pengepungan di Bukit Duri”, penulis merasa dejavu dengan suasana film “Elysium” ketika Edwin berjalan di antara siswa-siswi berandalan di lorong sekolah. Suasana ramai serta intimidasi terhadap pemeran utama semakin menambah kesan kebencian terhadap etnis Tionghoa. Penggunaan latar musik yang juga rata-rata bergenre hardcore metalik memperkuat kenakalan remaja pada setiap adegan di kelas, Jefri dan rombongan disorot. Penulis sedari dulu selalu kagum dengan pemilihan pemain film yang dilakukan Jokan walaupun pemainnya itu-itu saja yang membuat jenuh. Akan tetapi, ikatan antarpemain membangun suasana yang natural dalam film. Ciri khas film Jokan yang langsung dapat dikenali dari point of view penonton adalah bumbu teka-teki, dalam pertengahan film“Pengepungan di Bukit Duri” yaitu sengaja mengecoh penonton dengan salah menargetkan orang yang dicari oleh Edwin. Elemen kebajikan tidak luput dihadirkan Jokan pada karakter Diana, Panca (Emir Mahira), dan anak kecil yang membantu etnis Tionghoa terkurung dalam ruang sempit diperlihatkan saat menuju ending film.

BACAJUGA

No Content Available

Namun, terdapat banyak kekurangan yang diperlihatkan dalam film “Pengepungan di Bukit Duri” di mana selama durasi 1 jam 58 menit tersebut banyak kekosongan tanpa penjelasan rinci tiap adegan dan pemotongan mendadak adegan kembali ke masa lalu. Hal ini apakah menjadi sebuah gebrakan baru Jokan ataupun kesengajaan Jokan yang malas untuk menjelaskan sebab-akibat dari beberapa cuplikan. Pergantian adegan yang tiba-tiba sedikit membingungkan. Tidak seperti beberapa film yang disutradarai Jokan sebelumnya. Saat adegan Edwin tengah menyendiri di bar, tiba-tiba langsung beralih ketika Edwin menghampiri kakaknya di rumah sakit. Penulis kira adegan tersebut merupakan lanjutan dari apa yang akan Edwin lakukan, tetapi potongan itu ternyata kilas balik alasan Edwin menjadi guru di SMA Duri.

Penonjolan pemain perempuan di bar Pecinan, Vera (Shindy Huang) dan Diana memang sempat menunjukkan gesekan keromantisan terhadap pemain utama. Penulis sempat berharap terhadap Vera, ia akan membantu Edwin kala pengepungam oleh rombongan Jefri. Sayangnya, harapan tersebut lupus karena tidak ada lagi kemunculan Vera mendampingi Edwin. Padahal, karakter Vera tersebut bisa dijadikan potensi sebagai sesama etnis Tionghoa untuk saling membantu. Malah, Diana yang notabene seorang pribumi selalu berada di samping Edwin dan membantu Edwin keluar dari kejaran rombongan Jefri.

Berlangsungnya film “Pengepungan di Bukit Duri” dengan penceritaan yang berani mengambil sejarah Tragedi 98 membuat potensi film untuk mencuri perhatian warga Indonesia sangat besar, tetapi kopong akibat kurangnya penghalusan alur film yang disajikan Jokan. Sebuah plotwist  yang ingin disajikan Jokan kepada penonton sudah bisa tertebak pada pertengahan film “Pengepungan di Bukit Duri”. Awal-awal Jokan mengarahkan Krishto sehingga penonton beranggapan bahwa ia adalah anak dari Silvi dan setelah diikuti hingga ke tengah alur film, Krishto bukanlah anak yang dicari-cari Silvi dan Edwin. Penyerangan yang selalu Jefri lakukan tidak ada penjelasan alasan yang kuat sehingga hanya terlihat seperti orang gila yang hanya mengisi film aksi pembunuhan dengan darah muncrat di mana-mana agar film tersebut tidak sepi dibuat.

Jika dibandingkan dengan karya film yang sudah Jokan buat sebelum-sebelumnya, film “Pengepungan di Bukit Duri” memang bisa dikatakan cukup bagus mengangkat hal sensitif terlebih di Indonesia, tetapi sangat kurang untuk bagian pengaluran dan pemunculan karakter-karakter. Untuk pemunculan karakter, alangkah bagusnya Jokan kalau diirinya bisa menempatkan karakter-karakter film “Pengepungan di Bukit Duri” di posisi yang berkaitan dan berkesinambungan dalam film.

Tags: #Queendi Kumala
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Anggota DPRD Kota Padang, Yosrizal Minta Solusi Humanis Usai Bentrokan Satpol PP dan PKL di Permindo

Berita Sesudah

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

Berita Terkait

Puisi-puisi M. Subarkah

Pesan Tauhid dan Penyerahan Diri dalamPuisi “Sembahyang Rumputan”

Minggu, 01/3/26 | 15:51 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Puisi “Sembahyang Rumputan” karya Ahmadun Yosi Herfanda...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Mencabut Tunggul: Transformasi Butuh Kekuatan Ekonomi

Minggu, 01/3/26 | 14:44 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri, M.M. (Dosen Universitas Ekasakti & Doktor Ilmu Ekonomi)   Masalah yang mengakar tak cukup ditebas dengan...

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Abreviasi pada Perjanjian Kinerja Damkar Kabupaten Bengkalis

Minggu, 22/2/26 | 20:10 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif) “Bahasa membentuk cara...

Batu dan Zaman

Memaknai Ulang Arti Kata Pensiun

Minggu, 22/2/26 | 19:58 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pensiun...

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Ketika Iman Menjadi Modal Sosial dan Ekonomi

Minggu, 22/2/26 | 19:45 WIB

Oleh: Dr. Syamsul Bahri (Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Eka Sakti, Sumatera Barat) Indonesia adalah negara dengan jiwa religius yang kuat....

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Berita Sesudah
Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Jam Tangan dan Seni Menjadi Siapa

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Gerakan Sosial Baru pada Perang Kata-kata antara SEAblings dan Knetz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus: Pengurus PMII Bukan Pengisi Struktur, Tapi Penggerak Perubahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bale by BTN, Transaksi Cepat Tanpa Ribet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Sumbar Sebar 216 Tim Safari Ramadhan 1447 H, Salurkan Bantuan hingga Rp50 Juta per Masjid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebutuhan Darah Sumbar Capai 200 Kantong per Hari, Wakil Ketua DPRD Sumbar Ajak Semua Unsur Rutin Donor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bahasa dan (Ber) Pikiran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024