Sabtu, 24/1/26 | 12:37 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Mengobrolkan “Sampai Jadi Debu”

Minggu, 27/8/23 | 13:16 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

“Sampai Jadi Debu” adalah salah satu lagu dari Banda Neira yang menurut saya begitu romantis. Bila didengarkan, lagu ini berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 6 menit 48 detik. Meskipun tergolong lama, lagu ini justru memiliki lirik yang singkat dan sederhana. Lagu yang turut serta menampilkan gubahan musik dari Gardika Gigih ini terasa amat dalam dan menyentuh.

Beberapa hari lalu saya mendengarkan lagu ini lagi untuk kesekian kalinya. Sembari mendengar lagu, saya membaca sebuah buku yang baru saja dibeli. Membaca sambil mendengar lagu adalah dua aktivitas yang sering saya lakukan secara beriringan. Di halaman pertama buku yang sedang dibaca itu saya mendapati sebuah pertanyaan yang membuat saya agak tercenung.

“Apa makna pernikahan bagi kalian berdua?” Begitulah bunyi pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang sebetulnya ditanyakan oleh seorang psikolog kepada kliennya ketika menjalani konseling pranikah. Saya turut memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebab saya juga menanyakannya kepada diri sendiri.

Di saat sedang tercenung itu, Rara Sekar mulai menyanyikan lirik setelah dua menit lebih suara piano mengalun lirih. “Badai Tuan telah berlalu/ salahkah ku menuntut mesra?/ Tiap pagi menjelang/ Kau di sampingku/ Ku aman ada bersamamu”. Pada lirik setelahnya, Ananda Badudu juga turut serta bernyanyi. Liriknya berbunyi, “Selamanya/ Sampai kita tua/ Sampai jadi debu/ Ku di liang yang satu/ Ku di sebelahmu”. Begitulah bunyi lirik di bait pertama lagu itu.

BACAJUGA

Suatu Hari di Sekolah

Saat Ide Mengalir di Detik Terakhir

Minggu, 05/10/25 | 20:02 WIB
Suatu Hari di Sekolah

Antara Deadline dan Bedcover

Minggu, 14/9/25 | 18:56 WIB

Bait kedua lagu “Sampai Jadi Debu” dinyanyikan oleh Ananda Badudu. “Badai Puan telah berlalu/ Salahkah ku menuntut mesra?/ Tiap Taufan menyerang/ Kau di sampingku/ Kau aman ada bersamaku”. Begitulah liriknya dinyanyikan.

Entah bisa dikaitkan entah tidak, makna yang terpikirkan sejak lama terkait pertanyaan yang ditemukan dalam buku tadi ialah seperti dalam lirik yang baru saja didengarkan. Pada hubungan yang dijalin oleh Tuan dan Puan di dalam lagu, terdapat ruang untuk bermesraan bagaimanapun badai berlalu-lalang. Kemesraan itu sendiri adalah sesuatu yang saling diberikan serta saling diterima. Pada hubungan keduanya juga terdapat rasa aman. Sebagaimana kemesraan, rasa aman ini pun juga saling diberikan dan diterima.

Lagu Banda Neira yang romantis ini sebetulnya berlatar belakang kisah yang begitu menyentuh. Ananda Badudu membuat lagu ini berdasarkan kisah cinta kakek dan neneknya (ia memanggilnya Moma dan Popa). Lagu ini pertama kali diperdengarkan kepada Momanya ketika beliau harus dirawat di ruang yang setingkat lebih tinggi dari ICU. Ruang yang katanya sebagai tempat untuk menangani pasien yang berada di ambang hidup dan mati.

Ananda Badudu juga mengungkap bahwa Momanya telah dua kali berhasil sembuh dari kanker dan berjuang dengan diabetes. Barangkali, bagian inilah yang disebut sebagai “Tiap taufan menyerang” di dalam lirik. Meski begitu, Popa selalu ada di sampingnya dan meyakinkan istrinya bahwa ia akan selalu aman bersamanya. Sebagaimana lagu, bagi keduanya hal itu berlangsung selamanya, sampai mereka tua, sampai menjadi debu.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Fenomena Imbuhan Se-

Berita Sesudah

Sabda dan Dawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Perspektif Max Weber

Berita Terkait

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Renyah: Bacaan Pelan untuk Hari yang Cepat

Minggu, 18/1/26 | 21:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Jika Renyah dapat dianalogikan, ia bukan ruang yang hadir dengan suara lantang atau pernyataan yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

2026 dan Renyah yang Tetap Menyapa

Minggu, 04/1/26 | 23:10 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Akhir tahun 2025 kita lewati dengan langkah yang lebih pelan. Bencana yang terjadi di...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Lengah di Tengah Jeda

Minggu, 21/12/25 | 20:08 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saat istirahat siang, saya sering lengah dengan waktu. Bukan karena terburu-buru seperti di pagi...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Ketika Waktu Tak Menunggu

Minggu, 07/12/25 | 22:22 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Saya sering bangun tergesa, seolah pagi datang lebih cepat dari dugaan. Waktu terus berjalan...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Hujan yang Merawat Diam

Minggu, 23/11/25 | 19:52 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Hujan selalu punya cara sederhana untuk membuat saya berhenti sejenak. Di antara rintik yang...

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tentang Usaha yang Tidak Terlihat

Minggu, 09/11/25 | 20:13 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Dalam setiap pertandingan olahraga selalu ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Dari kejauhan semuanya...

Berita Sesudah
Disrupsi dan Suksesi Tampuk Kepemimpinan

Sabda dan Dawuh Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Perspektif Max Weber

Discussion about this post

POPULER

  • Ketua DPW PKB Sumbar, Firdaus.[foto : ist]

    Firdaus Kembali Pimpin PKB Sumbar, Optimis Bawa PKB Capai Puncak pada Pemilu Mendatang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPP PKB Tetapkan Kepengurusan DPW PKB Sumbar Periode 2026–2031

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Komitmen Dukung Percepatan Pembebasan Lahan Sukseskan PSN di Kota Padang.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • HI UNAND dan Muhammadiyah Sumbar Bahas ABS-SBK dan Global Values

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024