Senin, 01/6/26 | 04:27 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI KLINIK BAHASA

Mengenal Penggunaan Tanda Garis Miring

Minggu, 22/5/22 | 09:08 WIB
Oleh: Elly Delfia, S.S., M.Hum. (Dosen Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Penggunaan tanda baca merupakan bagian penting dan paling mendasar untuk diperhatikan saat menulis. Perhatian terhadap penggunaan tanda baca yang benar merupakan sikap terbaik dalam menghargai dan menghormati bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang melambangkan martabat bangsa Indonesia.

Tanda baca yang resmi diperkenalkan dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau PUEBI (2016) ada 15 macam. Tanda baca tersebut yaitu tanda titik (.),  tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (:), tanda hubung (-), tanda pisah (—), tanda tanya (?), tanda seru (!), tanda elipsis (…), tanda petik dua (“….”), tanda petik tunggal (‘….’), tanda kurung ((…)), tanda kurung siku ([…..]), tanda garis miring ( / ), dan tanda penyingkat (apostrof) (‘).

Semua tanda baca pada umumnya sudah pernah diulas dalam laman klinik bahasa Scientia.id kecuali tanda garis miring (/). Seperti semua tanda baca lain yang mempunyai fungsi dalam lalu lintas penataan kalimat dalam bahasa Indonesia, tanda garis miring (/) berfungsi sebagai penanda tiga (3) hal, yaitu:

1) Tanda garis miring dipakai pemisah unsur-unsur dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan penandaan  masa  satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim atau penanggalan atau kalender.

BACAJUGA

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB
Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB

A. Pemisah unsur-unsur seperti nomor surat, kode instansi, kode bagian/kode unit, tanggal, dan tahun dalam              nomor surat
Contoh:
1. Nomor: 25/PK/II/2013
2. Nomor: 001/B/Scientia-R/05/2022
3. Nomor: 017/A/Scientia-R/05/2022

B. Pemisah nomor pada alamat
Contoh:
1. Jalan Permata Berlian III/12
2. Jalan Pesisir Selatan IV/9
3. Jalan Parkit II/10

C. Penanda satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim
Contoh:
1. Tahun ajaran 2021/2022
2. Semester ganjil 2020/2021
3. Semester genap 2018/2019

2) Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, serta per atau setiap
A. Tanda garis miring pengganti kata dan
         Contoh:
1. mahasiswa/mahasiswi: ‘mahasiswa dan mahasiswi’
2. pemuda/pemudi: ‘pemuda dan pemudi ‘
3. putra/putri: ‘putra dan putri’

B. Tanda garis miring pengganti kata atau
Contoh:
1. buku dan/atau majalah: ‘buku dan majalah atau buku atau majalah
2. nasi dan/atau bubur: ‘nasi dan bubur atau nasi atau bubur
3. denda dan/atau sanksi kurungan: ‘denda dan kurungan atau denda atau sanksi kurungan’. Fungsi tanda garis miring seperti ini banyak ditemukan dalam teks-teks peraturan perundang- undangan dan kebijakan.

C. Tanda garis miring pengganti kata per untuk menyatakan setiap
Contoh:
1. harganya Rp3.000,00/lembar: harganya Rp3.000,00 per lembar atau setiap lembar
2. harga apel Rp25.000,00/kg: harga apel Rp25.000,00 per kg atau setiap kg
3. harga sepatu Rp300.000/pasang: harga sepatu Rp300.000 per pasang atau setiap pasang

3) Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan huruf di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.
Contoh:
1. Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa kali.
2. Peserta UTBK sedang berkonsen/t/trasi dalam mengerjakan ujian.
3. Pandemi/k/ Covid-19 telah mengubah banyak tatanan kehidupan.

Demikian fungsi penggunaan tanda garis miring dalam mengatur penggunaan kalimat dalam bahasa Indonesia. Semoga tanda baca  ini dapat digunakan dengan baik dalam aktivitas tulis-menulis.

Tags: #Elly Delfia
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Puisi-puisi Rasyafa Sabrakamila dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Berita Sesudah

Memaknai Garis Tangan

Berita Terkait

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Bahasa Estetik dalam Luka “Gaza Tak Pernah Sunyi” Karya Hardi

Senin, 25/5/26 | 00:01 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Di tanah ini, sejarah bukan hanya di...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Konteks Kata “Kali” dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 17/5/26 | 13:37 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata kali dikenal...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Cerita Mahasiswa Arab tentang Bahasa Indonesia

Senin, 27/4/26 | 06:18 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Saat mengawas UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer)...

Memahami Kembali Imbuhan memper-

Persoalan “ini” dan “itu” di dalam Berbagai Konteks

Minggu, 19/4/26 | 21:49 WIB

Oleh: Reno Wulan Sari (Dosen Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan) Kata ini dan...

Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

Makna Idiom “Keras Kepala” dari Presiden Prabowo untuk Iran

Minggu, 12/4/26 | 23:00 WIB

Oleh: Elly Delfia (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Idiom “keras kepala” menjadi viral karena diucapkan...

Kapitil, Kosakata Baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

Metatesis, Sumber Kreativitas Bahasa Sepanjang Masa

Minggu, 05/4/26 | 10:05 WIB

Oleh: Ria Febrina (Dosen Prodi Sastra Indonesia dan S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Lebaran selalu identik dengan kue. Kue-kue dimasukkan...

Berita Sesudah
Lari yang Menyedihkan

Memaknai Garis Tangan

Discussion about this post

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Firdaus Apresiasi Semangat Gotong Royong Masyarakat Wujudkan Festival Juadah Tanpa APBD

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • APBD Sumbar Tahun 2025 Ditetapkan Rp6,4 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Sekali, Sangat, Amat, Banget, dan Terlalu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kalimat yang Berawalan Kata Depan “Dalam” dan “Pada”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026