Sabtu, 23/5/26 | 03:15 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI RENYAH

Ngomong Kok Blaster, padahal Bukan Blasteran!

Minggu, 06/3/22 | 08:46 WIB

 Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah Scientia.id)

 

“Probably gue tuh yang kek confuse gimana ya, yang kek skeptical gitu gak sih, ya which gue masih enter sandman gitu, yang behind, pokoknya dont look back in anger gitu2 lah.” Begitu kicauan twitter salah seorang teman. Kicauannya blaster, padahal dia bukan blasteran. Tentunya dalam keseharian kita juga sering menemukan fenomena serupa demikian. Mungkin saat menyaksikan talk show di televisi, berbicara dengan teman sejawat, caption foto di instagram, status di facebook, komunikasi para youtuber, atau ketika mendengarkan podcast, dan di segala kesempatan lainnya.

Cara komunikasi seperti itu menjadi sebuah problematik. Ada yang menanggapi positif dan ada pula negatif. Positifnya karena tidak menemukan padanan kata yang pas dalam bahasa Indonesia sehingga menggunakan bahasa Inggris untuk menunjukkan kemampuan bilingual seseorang. Negatifnya hanya ingin terlihat gaul dan bergengsi agar terlihat pintar atau intelektual atau bahkan sekedar ikut-ikutan tren.

Menanggapi cara komunikasi itu, saya menyebutnya bahasa blaster. Ada beberapa pertanyaan yang muncul, benarkah tidak ada padanan kata yang bersangkutan dalam bahasa Indonesia? Apakah betul dapat menentukan kecakapan berbahasa seseorang pada kedua bahasa yang bersangkutan? Benarkah ngomong blaster itu bergengsi dan membuat kesan intelektual?

BACAJUGA

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Dalam ilmu linguistik, bahasa, blaster tersebut menjadi bahan kajian. Bahasa seperti itu disebut dengan campur kode. Sebetulnya, mencampur kedua bahasa tidak hanya terjadi antara bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Fenomena demikian juga dijumpai antara bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah, seperti mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Minangkabau, bahasa Jawa, dan lain sebagainya.

Menyoal tidak adanya padanan kata dalam bahasa Indonesia, saya kira tidak serumit demikian. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diperbaharui secara bertahap. Beberapa kata pun menjadi dibakukan meskipun diserap dari bahasa asing atau bahasa daerah. Untuk obrolan sehari-hari, tentu tidak sulit untuk mencari padanan kata yang telah tersedia dalam bahasa Indonesia kecuali dalam istilah ilmiah yang terkadang bahasa asing memang memiliki istilah yang belum ada terjemahan atau padanannya.

Ngomong blaster juga belum tentu menunjukkan kecakapan berbahasa seseorang pada kedua bahasa yang bersangkutan. Tentu kemampuan berbahasa dapat diukur jika seseorang mampu berbahasa secara konsisten. Kira-kira, kemampuan bahasa Inggris seperti apa yang mampu diperoleh jika hanya menyematkan literally, which is, dan probaly?

Satu hal yang menarik dari bahasa Indonesia ialah adanya ragam formal dan ragam informal. Hal ini dikemukakan oleh Ivan Lanin selaku aktivis bahasa dalam salah satu podcast bersama Leila S. Chudori. Perbedaan ragam bahasa tersebut disebut dengan diglosia. Dalam bahasa Indonesia, perbedaan ragam bahasa antara ragam formal dan ragam informal dapat dikatakan lumayan jauh. Antara keduanya lumayan susah dalam praktiknya ialah ragam formal, sedangkan ragam informal mudah ditemukan dalam berbahasa sehari-hari.

Jika hanya dalam keseharian, bukankah lebih baik menggunakan bahasa Indonesia secara konsisten sembari mengenali padanan kata baru yang telah baku? Terkecuali bagi kamu yang sedang berlatih untuk memantapkan bahasa asing guna keperluan tertentu. Mengenai ragam formal yang konon kabarnya lumayan sulit, alangkah lebih baik dipelajari secara serius mulai detik ini juga tanpa menunda-nunda terutama bagi yang sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah maka tidak heran jika banyak yang menulis ilmiah seperti skripsi sering dicoret atau direvisi secara berulang-ulang.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Senja Ketujuh

Berita Sesudah

“Aikoku Koushinkyoku”, Lagu Jepang Bersejarah di Sumatera Barat

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Berita Sesudah
“Aikoku Koushinkyoku”, Lagu Jepang Bersejarah di Sumatera Barat

“Aikoku Koushinkyoku”, Lagu Jepang Bersejarah di Sumatera Barat

Discussion about this post

POPULER

  • Padati One Day With BTPN Syariah, Ratusan Pencaker di Padang Antusias Jadi Pemberdaya

    Padati One Day With BTPN Syariah, Ratusan Pencaker di Padang Antusias Jadi Pemberdaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Warna-Warna dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Pintar, Cerdas, Pandai, Cakap, Cerdik, dan Mahir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Aikoku Koushinkyoku”, Lagu Jepang Bersejarah di Sumatera Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026