Jumat, 10/7/26 | 08:37 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Pola Asuh Anak pada Masyarakat Jepang dalam Novel Penance

Minggu, 28/11/21 | 07:00 WIB

Putri Wulan Dari dan Ferdinal
(Magister Ilmu Sastra Universitas Andalas)

 

Minato Kanae, seorang penulis novel misteri terkenal, karya-karyanya selalu menarik untuk dibaca. Setelah menerbitkan Confessions sebagai karya debut yang sukses meraih posisi pertama dalam 10 besar novel dalam Weekly Bunshun kategori novel misteri terbaik, Minato Kanae mengeluarkan buku berikutnya, yaitu Penance.

Penance sendiri mengambil sudut pandang dari masing-masing tokoh yang menginformasikan bagaimana penderitaan yang dialami Sae, Maki, Akiko dan Yuka setelah terbunuhnya teman mereka, Emily 15 tahun yang lalu. Masing-masing karakter menyimpan cerita tersendiri dan saling terhubung satu sama lain untuk bisa sampai pada kesimpulan akhir cerita.

Menariknya, selain bercerita tentang tragedi pembunuhan, Kanae juga membongkar beberapa sisi negatif pola asuh masyarakat Jepang yang jarang disorot, bagaimana lingkungan rumah bisa mempengaruhi karakter dan persepsi anak. Kanae mempercayai bahwa didikan yang salah akan membawa pengaruh negatif pada anak, terutama anak yang mengalami trauma.  Ini terlihat pada keempat tokoh yang menjadi saksi kasus pembunuhan Emily yang pada saat itu masih berada di kelas 4 SD.

BACAJUGA

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Kanae membongkar salah satu pengasuhan di Jepang bahwa anak harus menjaga keharmonisan keluarga meski harus mengesampingkan perasaan bukanlah hal yang baik. Pola asuh ini terjadi di Jepang. Anak-anak diajarkan untuk mengendalikan diri dan emosi mereka agar tidak mengganggu ketenangan keluarga.

Tokoh Sae misalnya. Ia tidak berhasil mengatasi rasa traumanya karena tidak ada penanganan yang serius setelah kejadian itu. Sikap diam ibunya yang beranggapan membiarkan Sae sendiri, tidak pernah membahas trauma yang dialaminya. Ia tidak mendapatkan penanganan trauma yang optimal yang menimbulkan masalah bagi perkembangan fisik pada diri Sae. Tubuhnya tidak bertambah tinggi dan tidak mendapatkan menstruasi sampai menikah.

Alice Miller, seorang psikolog, psikoanalis dan filsuf Yahudi berkata: “kita tidak tahu, bagaimana dunia suatu saat nanti jika anak-anak dibesarkan dengan baik jika orang tua mau memperlakukan anaknya dengan serius dan rasa hormat sebagai manusia”.  Seperti Miller, Kanae percaya bahwa kejadian yang menimpa Sae tidak akan terjadi seandainya ibunya menganggap serius trauma yang dialaminya.

Lain lagi dengan tokoh Maki sebagai anak tertua yang dididik dengan disiplin dan harus mampu mengemban tanggung jawab. Tokoh Maki justru menunjukkan sikap yang berlawanan ketika dihadapkan dengan tragedi. Bagaimana Maki ketakutan dan berlari pulang saat kejadian, namun dimaki dan dipukul oleh ibunya karena tindakan tersebut dianggap memalukan. Kanae berusaha merubah pola ini dengan menampilkan contoh kasus yang dihadapi tokoh Maki.

Simon Baron-Cohen, seorang psikolog dalam bukunya Zero degrees of empathy: a new theory of human cruelty mengatakan: “orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan mendiskusikan konsekuensi dari tindakan anak mereka menghasilkan anak-anak yang memiliki perkembangan moral yang baik dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan dengan metode otoriter dan hukuman”. Ini sesuai dengan misi yang dibawa Kanae di dalam novelnya.

Kanae berhasil menyampaikan dengan baik sisi-sisi pengasuhan yang gelap dalam kehidupan masing-masing tokoh hingga menimbulkan rasa empati kita saat membacanya. Sebagai pembaca, kita diajak untuk menilai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan orang tua terhadap anak, khususnya yang mengalami trauma.

Kanae menyorot pola asuh di zaman yang atraktif dan modern ini hendaknya lebih humanis dan dinamis, meninggalkan pola-pola otoriter. Orang tua harus menciptakan kondisi rumah yang nyaman bagi anak. Kanae juga menekan pentingnya membangun hubungan emosional dengan anak melalui komunikasi dan keterbukaan,  karena orang tua adalah support system pertama. Seperti yang dikatakan Oscar Wilde “cara terbaik untuk membuat anak baik adalah dengan membuat mereka bahagia”.

Karakter-karakter hebat di masa depan dibangun dari pondasi yang bagus sedari dini. Jika rantai pola asuh yang buruk tidak diputus dan diperbaiki, ia bisa terulang dan diturunkan ke generasi berikutnya. Anak-anak harus dibesarkan dengan didikan yang bagus, berhak diperlakukan dengan hormat dan serius layaknya orang dewasa. Charles Raison pernah berkata: satu generasi dari orang tua yang sangat mencintai akan mengubah otak generasi berikutnya. Dengan itu, mereka mengubah dunia. Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik dan bisa menjadi panutan bagi anak-anak kita.

Tags: FerdinalPutri Wulan Dari
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Fungsi Tanda Asteris atau Tanda Bintang

Berita Sesudah

Marvin Harris: Tabu terhadap Sapi Menjaga Sistem Pertanian di India

Berita Terkait

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Dari Like ke Loyalitas: Strategi UMKM Memanfaatkan Media Sosial

Senin, 06/7/26 | 05:56 WIB

Oleh: Abdul Hamid Sajidurrahman (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa FEB Universitas Andalas)   Di era digital seperti sekarang, cara...

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nongender

Senin, 06/7/26 | 05:43 WIB

Oleh: Maryatul Kuptiah (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia dan Anggota Aktif UKMF Labor Penulisan Kreatif FIB UNAND)   Bahasa adalah...

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Lidah, Logat, dan Tangerang: Cerita Kecil tentang Bunyi

Minggu, 05/7/26 | 16:04 WIB

Oleh: Mita Handayani (Alumni Magister Linguistik FIB Universitas Andalas)   Beberapa hari yang lalu, saya bersama tim EQUITY dan pimpinan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Salindia atau PPT? Potret Sikap Bahasa Generasi Digital

Senin, 29/6/26 | 21:20 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)   “Besok presentasi pakai PPT, ya.” Kalimat tersebut hampir setiap...

Batu dan Zaman

Peran Podcast dalam Produksi Bahasa

Senin, 29/6/26 | 21:06 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Ada pengalaman yang menyenangkan setiap kali mengikuti episode...

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Kreativitas Berbahasa yang Anomali

Senin, 29/6/26 | 13:05 WIB

Oleh: Alex Darmawan (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)   Di zaman milenial sekarang ini, kreativitas adalah hal yang sangat...

Berita Sesudah
Jelajah Kata: Ramadhan atau Ramadan?

Marvin Harris: Tabu terhadap Sapi Menjaga Sistem Pertanian di India

Discussion about this post

POPULER

  • Wali Kota Padang Fadly Amran memimpin rapat pertemuan lanjutan dengan Foshan Polytechnic, Selasa (7/7).

    Wali Kota Padang Kunjungi Fosan Polytechnic

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JIHWA Dharmasraya Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Padang Saksikan Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Investasi Kawasan Wisata Terpadu Padang Sarai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata “Salam” dan “Salim” saat Lebaran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026