Oleh: Puspandhari Ilsa Pinasty
(Mahasiswa Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Andalas)
Bayangkan seorang anak rantau yang akhirnya mampu membeli tiket pulang dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Setelah bertahun-tahun bekerja dan menunda kepulangan demi mengejar kesuksesan, ia membayangkan pertemuan hangat dengan orang tua yang selama ini menunggunya. Namun, perjalanan pulang itu justru menjadi perjalanan paling menyakitkan dalam hidupnya. Orang yang ingin ia bahagiakan telah tiada, sementara keberhasilan yang diraihnya tidak lagi dapat dibagikan kepada mereka.
Kisah getir tersebut tergambar dalam lagu “Sesi Potret” karya eñau yang berkolaborasi dengan Ari Lesmana. Lagu ini mengangkat luka kehilangan akibat kepulangan yang terlambat sekaligus mempertanyakan makna kesuksesan yang selama ini dikejar. Melalui kisah anak rantau, pendengar diajak menyadari bahwa ambisi membangun masa depan yang lebih baik dapat berubah menjadi penyesalan ketika waktu bersama orang tersayang terus ditunda.
Merantau sering menjadi pilihan untuk memperbaiki kehidupan ekonomi dan membuktikan kemampuan diri. Namun, ketika keberhasilan diukur melalui penghasilan, pekerjaan, dan kepemilikan materi, pulang tanpa pencapaian yang membanggakan dapat dianggap sebagai kegagalan. Anggapan tersebut membuat sebagian perantau merasa harus mencapai kondisi finansial tertentu sebelum kembali ke kampung halaman. Padahal, keluarga tidak selalu mengharapkan materi. Kehadiran dan perhatian juga memiliki arti penting. Hal ini sejalan dengan penelitian Christanti dkk. (2024) yang menemukan bahwa dukungan sosial keluarga berperan signifikan terhadap kualitas hidup mahasiswa.
Pola pikir tersebut membuat pekerjaan, lembur, dan ambisi karier terus menjadi prioritas. Keinginan membahagiakan keluarga pada masa depan justru menjadi alasan untuk menunda kebersamaan pada masa sekarang. Ungkapan “Maaf tak bisa pulang, penghasilanku pas-pasan” dapat menggambarkan keyakinan itu. Masalahnya bukan pada keinginan untuk sukses, melainkan pada anggapan bahwa waktu bersama keluarga dapat ditunda tanpa batas. Sementara seseorang sibuk mengejar masa depan, usia orang tuanya terus bertambah dan kesempatan untuk bertemu tidak akan selalu tersedia.
Tragedi dalam “Sesi Potret” mencapai puncaknya melalui penggalan lirik, “Kubertamu ke rumah barumu, tak ada kamu, hanya papan dan namamu.” Metafora “rumah baru” dapat dimaknai sebagai liang lahat, tempat yang menandai kepergian seseorang untuk selamanya. Kata “rumah” yang biasanya menghadirkan kehangatan justru berubah menjadi simbol kehilangan. Tokoh dalam lagu itu akhirnya pulang, tetapi bukan untuk bertemu dan berbagi kebahagiaan dengan orang yang dirindukannya. Ia hanya menemukan nama yang tersisa tanpa kehadiran pemiliknya.
Kesuksesan yang dahulu dianggap sebagai tujuan utama mendadak terasa hambar ketika orang yang ingin dibahagiakan telah tiada. Uang dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan kehidupan yang lebih layak, tetapi tidak dapat mengembalikan waktu atau menghidupkan kembali orang yang meninggal. Penelitian Zahira dan Savira (2024) mengenai kedukaan pada dewasa awal setelah kematian orang tua menunjukkan bahwa pengalaman kehilangan dan proses menghadapinya dapat berbeda pada setiap individu, sedangkan dukungan keluarga serta lingkungan turut membantu proses pemulihan. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa kehilangan bukan sekadar ketiadaan seseorang, melainkan pengalaman emosional yang memengaruhi kehidupan orang yang ditinggalkan. Yang hilang bukanlah nilai kesuksesan itu, melainkan kesempatan untuk menikmati dan membagikannya bersama orang tercinta.
Potret dalam lagu ini dapat dipahami sebagai simbol kenangan yang semakin berharga ketika seseorang tidak lagi bisa ditemui. Foto mampu menyimpan wajah dan merekam kebersamaan, tetapi tidak dapat menghadirkan kembali suara, pelukan, atau percakapan yang dahulu menyertainya. Penelitian Surbakti dkk. (2025) tentang foto keluarga dalam fotografi luar ruang menjelaskan bahwa foto keluarga dapat berfungsi sebagai media penyimpanan memori yang merekam peristiwa, pertumbuhan, dan perubahan dalam keluarga. Dalam lagu ini, potret dapat dimaknai sebagai pengingat akan kebersamaan yang tidak mungkin diulang.
Pesan tersebut relevan dengan kehidupan generasi sekarang yang akrab dengan media sosial dan kesibukan mengejar pencapaian. Kita dapat begitu rajin mengabadikan perjalanan, pekerjaan, dan kebahagiaan untuk ditampilkan kepada orang lain, tetapi menunda menelepon orang tua atau mendengarkan cerita mereka. Mengabadikan momen tentu bukan sesuatu yang keliru, tetapi dokumentasi tidak seharusnya menggantikan pengalaman hadir sepenuhnya bersama orang-orang terdekat. “Sesi Potret” mengingatkan bahwa kenangan paling bermakna tidak hanya lahir dari momen istimewa, tetapi juga dari kebersamaan sederhana yang tidak dapat diulang setelah kesempatan itu berlalu.
Luka anak rantau dalam “Sesi Potret” adalah luka akibat keterlambatan yang tidak dapat diperbaiki. Lagu ini mengajak kita meninjau kembali ukuran kesuksesan yang terlalu berpusat pada pencapaian materi, seolah-olah kebahagiaan baru layak dirasakan setelah semua ambisi terpenuhi. Padahal, kesuksesan juga berarti kemampuan menjaga hubungan, menghargai waktu, dan hadir bagi orang-orang yang menjadi bagian penting dalam kehidupan kita. Mengejar masa depan tetap diperlukan, tetapi jangan sampai perjuangan membahagiakan keluarga justru membuat kita kehilangan kesempatan untuk bersama mereka.
Pada akhirnya, tidak semua hal dapat ditunda sampai kita merasa cukup berhasil. Orang tua terus bertambah usia, waktu terus berjalan, dan tidak ada jaminan bahwa setiap kepulangan akan selalu disambut oleh wajah yang sama.
Sebelum kesuksesanmu berakhir dengan penyesalan di depan sebuah nisan, teleponlah mereka hari ini atau pulanglah selagi kesempatan itu masih ada.
Daftar Pustaka
Christanti, D., Prasetyo, E., & Tedjawidjaja, D. (2024). Kualitas Hidup Mahasiswa: Tinjauan dari Peran Dukungan Sosial Keluarga, Teman, dan Significant others. Jurnal Psikologi Tabularasa.
Surbakti, A. A., Octaviano, A. L., & Adityasmara, F. (2025). Foto Keluarga dalam Fotografi Outdoor di Artglory Bali. Retina Jurnal Fotografi.
Zahira, A. K. Z., & Savira, S. I. (2024). Gambaran Kedukaan pada Dewasa Awal atas Kematian Orang Tua. Character Jurnal Penelitian Psikologi.










