
Limapuluh Kota, Scientia.id – Kecintaan Ernawati terhadap dendang saluang bermula dari sebuah pengalaman sederhana ketika ia masih remaja. Saat berusia sekitar 14-15 tahun, perempuan yang akrab disapa Tek E itu terpikat setelah menyaksikan penampilan para pendendang yang datang ke kampungnya. Salah satu dendang yang paling diingatnya adalah Dendang Singgalang.
Sejak saat itu, ia mulai belajar dendang dan saluang klasik. Tek E bahkan rela berjalan kaki sekitar 15 kilometer menuju rumah gurunya di Koto Tinggi. Perjalanan itu ditempuh hampir tiga jam dan terkadang ia menginap satu hingga dua hari untuk memperdalam dendang dan pantun.
“Dari situ muncul rasa cinta kepada kesenian,” kata Tek E kepada Sientia, Sabtu (18/7/2026) di Limapuluh Kota.
Tek E lahir pada 1959 di Dusun Padang Luek, Jorong Coran, Sago Halaban, Limapuluh Kota. Ia bukan berasal dari keluarga seniman dan menjadi satu-satunya anggota keluarganya yang menekuni dunia dendang.
Meski pendidikan formalnya hanya sampai kelas 5 SD, Tek E belajar dendang selama bertahun-tahun dari sejumlah guru. Baginya, menjadi pendendang bukan sekadar memiliki suara bagus, tetapi juga harus menguasai pantun, memahami makna dendang, serta menjaga adab.
“Dendang klasik itu tidak bisa diubah,” ujarnya.
Tek E kemudian pindah ke Payakumbuh pada 1983 dan mulai tampil di berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri. Namun, puluhan tahun berada di dunia dendang membuatnya juga melihat perubahan yang menurutnya perlu menjadi perhatian.
Ia prihatin dengan semakin berkurangnya perhatian terhadap etika dalam pertunjukan. Menurutnya, pendendang pada masa lalu tidak turun dari panggung untuk mencari saweran karena honor diberikan berdasarkan undangan.
“Dulu tidak ada saweran. Pendendang menerima honor sesuai undangan,” katanya.
Ia juga khawatir masuknya penyanyi dari luar tradisi gurau lapiak tanpa pemahaman yang cukup membuat karakter dendang klasik semakin kabur.
“Yang saya khawatirkan, nanti bukan lagi tukang dendang, tetapi hanya tukang lagu,” ujarnya.
Karena itu, Tek E berharap ada lembaga yang ikut menjaga pakem, adab, dan etika dendang saluang klasik. Ia menilai upaya tersebut penting agar kesenian yang telah diwariskan lintas generasi itu tidak kehilangan jati dirinya.
“Harus ada lembaga yang menjaga, memberi masukan, sekaligus memberi sanksi,” katanya.
Meski demikian, Tek E masih membuka ruang bagi generasi muda yang ingin belajar. Bahkan, pada awal 2000-an, seorang mahasiswa asal Jepang datang khusus untuk mempelajari dendang klasik Minangkabau darinya.
Bagi Tek E, pengalaman itu menunjukkan bahwa dendang saluang masih memiliki daya tarik. Persoalannya, kata dia, semakin sedikit orang yang benar-benar menguasai seluruh materi dendang klasik.
Di usianya kini, Tek E tetap memegang keyakinan bahwa dendang bukan sekadar hiburan, melainkan warisan budaya yang di dalamnya terdapat pantun, adab, dan marwah Minangkabau. (ram)







