
Oleh: Hilda Septriani
(Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)
Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Ali Akbar Navis (yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis) dan terbit pertama kali pada tahun 1956. Kumpulan cerpen ini terdiri dari delapan cerita pendek yang memiliki judul yang beragam. Namun, yang akan dibahas dalam tulisan ini berfokus pada cerpen dengan judul Robohnya Surau Kami. Kisah yang dinarasikan dalam cerpen tersebut bukan hanya sekadar runtuhnya sebuah bangunan ibadah secara leksikal. Namun lebih jauh dari itu, cerita di dalamnya merepresentasikan potret getir tentang runtuhnya keyakinan, kegagalan dialog antara iman dan kehidupan, serta rapuhnya jiwa manusia ketika agama dipahami secara sempit dan individualistis. Melalui tokoh “Kakek”, Navis menghadirkan kritik sosial yang tajam sekaligus menyentuh lapisan psikologis terdalam manusia. Kakek digambarkan sebagai penjaga surau yang mengabdikan seluruh hidupnya pada ibadah. Ia tidak bekerja, tidak berkeluarga, dan tidak mengejar kepemilikan duniawi. Hidupnya bergantung pada sedekah orang lain, tetapi ia meyakini bahwa ketekunannya beribadah akan menjamin keselamatan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam keyakinan itu, Kakek merasa telah menjalani hidup dengan benar dan lurus.
Namun, keyakinan itu runtuh seketika ketika ia mendengar kisah rekaan Ajo Sidi—sebuah cerita tentang orang-orang saleh yang justru dijebloskan ke neraka karena mengabaikan tanggung jawab sosial. Cerita itu bukan sekadar sindiran, melainkan pukulan telak bagi fondasi keimanan Kakek. Sejak saat itu, surau tidak hanya roboh secara fisik, tetapi juga secara simbolik: sebagai ruang makna, ruang keyakinan, dan ruang batin yang telah dijaganya selama ini dengan sangat tekun dan pribadi yang taat agama. Jika dibaca melalui kacamata psikoanalisis Sigmund Freud (1923), tragedi Kakek bukanlah semata-mata persoalan iman, melainkan konflik kepribadian yang gagal diselaraskan. Freud membagi struktur kepribadian manusia ke dalam tiga sistem: id, ego, dan superego. Ketiganya harus berada dalam keseimbangan agar manusia dapat hidup sehat secara normal dan tidak melakukan penyimpangan- penyimpangan sosial.
Dalam representasi diri Kakek sebagai tokoh utama dalam cerita, dorongan id tampak pada hasrat terdalamnya untuk merasa aman secara spiritual. Ia menginginkan ketenangan batin, keselamatan akhirat, dan pengakuan sebagai hamba Tuhan yang setia. Hasrat ini mendorongnya untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada ibadah, bahkan dengan mengorbankan kebutuhan duniawi. Di titik ini, ibadah menjadi sumber kenikmatan psikis—sebuah pelarian dari kecemasan hidup. Melaksanakan ritual peribadahan dimaknai sebagai suatu aktivitas yang harus dilakukan sebagai wujud ketakwaan dengan keyakinan bahwa kewajiban duniawi dapat dikesampingkan tanpa terkecuali. Suatu gambaran keadaan manusia yang tidak dapat dikatakan berserah diri tanpa manifestasi ikhtiar yang seharusnya dilakukan di dunia yang fana ini.
Sementara itu, superego—yang merepresentasikan norma sosial dan nilai kolektif—sebenarnya hadir dalam cerita, tetapi tidak pernah benar-benar diinternalisasi oleh Kakek. Masyarakat menuntut keseimbangan antara ibadah dan kerja, antara relasi vertikal dengan Tuhan dan relasi horizontal dengan sesama manusia. Kritik yang digaungkan oleh tokoh Ajo Sidi, betapapun disampaikan lewat cerita rekaan, mencerminkan suara moral kolektif yang menegaskan bahwa kesalehan seseorang tidak boleh memutus tanggung jawab sosial yang seharusnya dilakukan sebagai suatu kewajiban. Permasalahan itu justru muncul ketika ego Kakek gagal menjalankan fungsinya sebagai penengah. Alih-alih menimbang ulang keyakinannya, ego justru tunduk sepenuhnya pada dorongan id. Kakek bersikukuh bahwa seluruh hidupnya telah berada di jalan yang benar karena diabdikan untuk Tuhan semata. Ketika keyakinan itu diguncang, ia tidak memiliki mekanisme pertahanan yang sehat. Konflik batin yang tak terselesaikan berubah menjadi kecemasan ekstrem, rasa bersalah, dan akhirnya kehancuran diri.
Representasi kematian Kakek yang tragis dapat dibaca sebagai simbol kegagalan manusia dalam memaknai iman secara utuh. Ia tidak meninggal dunia karena kekurangan ibadah, melainkan karena wujud keimanannya yang terlepas dari realitas sosial. Pada titik inilah kritik A.A. Navis bersinggungan dengan gagasan Weber tentang etika beragama. Weber (2006) menegaskan bahwa iman tidak pernah dimaksudkan untuk memutus manusia dari dunia, melainkan mendorong keterlibatan aktif di dalamnya. Agama memperoleh makna sosialnya ketika melahirkan etos kerja, tanggung jawab, dan disiplin hidup. Dalam cerpen ini, kesalehan Kakek berhenti pada ritual, tanpa menjelma menjadi praksis yang menopang kehidupan bersama. Ibadah kehilangan dimensi sosialnya dan menjadi pengalaman yang tertutup pada diri sendiri.
Jika dimaknai dari konteks yang lebih jauh, sesungguhnya Navis tidak sedang mengejek agama, melainkan mengkritik cara beragama yang ahistoris, fanatik. individualistis, dan terlepas dari kehidupan bersama. Relevansi cerpen ini terasa sangat kuat dalam kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah maraknya simbol keagamaan, ritual, dan klaim kesalehan di ruang publik, Robohnya Surau Kami mengingatkan bahwa agama yang tidak berdialog dengan kemanusiaan berpotensi melahirkan kekerasan batin—bahkan kehancuran. Kesalehan yang hanya berpusat pada diri sendiri, tanpa empati sosial, justru menjauhkan manusia dari nilai-nilai moral sejati yang ada.
Dari perspektif psikologi, tragedi yang terjadi pada Kakek juga menunjukkan bahaya absolutisasi satu aspek kepribadian. Ketika ibadah dijadikan satu-satunya tolok ukur kebenaran, sementara bekerja, tanggung jawab sosial, dan relasi antarmanusia diabaikan, maka kepribadian menjadi timpang. Ketimpangan inilah yang dalam istilah Freud (1923) dapat memicu kecemasan dan konflik batin yang destruktif. Navis dengan cermat memperlihatkan bahwa iman seharusnya menjadi kekuatan yang membumi, bukan melayang di langit tanpa pijakan. Keyakinan yang selama ini dipegang teguh oleh tokoh Kakek menjadi runtuh begitu saja, ia tidak memiliki mekanisme batin untuk menata ulang makna hidupnya. Dalam perspektif Fromm (1956), kondisi ini menunjukkan alienasi religius. Kakek menjalankan ibadah secara tekun, tetapi kehilangan relasi yang hidup dengan sesama dan bahkan dengan dirinya sendiri. Kesalehan yang dijalani secara mekanis, tanpa keterlibatan sosial dan refleksi kritis, justru membuat manusia terasing di tengah kehidupan sosial bermasyarakat.
Alienasi inilah yang menjelaskan mengapa kritik Ajo Sidi tidak melahirkan kesadaran baru, melainkan kehancuran total. Kakek tidak mampu menegosiasikan ulang keyakinannya. Ia merasa seluruh hidupnya telah diabdikan untuk Tuhan, sehingga kritik tersebut ditangkap sebagai penyangkalan atas eksistensinya sendiri. Rasa bersalah, marah, dan hancur bercampur menjadi satu, hingga akhirnya menuntunnya pada kematian yang tragis. Dari sudut pandang sosial, Robohnya Surau Kami juga menegaskan bahwa agama tidak pernah berdiri di ruang hampa. Durkheim (1912) dalam bukunya yang berjudul The Elementery Forms of Religius Love mengingatkan bahwa agama pada hakikatnya adalah fakta sosial—ia hidup dalam dan untuk komunitas. Agama berfungsi menjaga solidaritas, keterikatan, dan tanggung jawab kolektif. Ketika agama direduksi menjadi urusan privat semata, ia kehilangan daya ikat sosialnya dan justru melahirkan keterputusan, sebagaimana yang dialami Kakek.
Surau yang roboh dalam cerpen ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan metafora bagi runtuhnya kesadaran religius yang tidak mampu merangkul realitas hidup seseorang. Ia roboh karena tidak lagi menjadi ruang dialog antara Tuhan, manusia, dan sesamanya. Gambaran yang sangat realistis akan terjadi jika dianalogikan dengan kesadaran umat beragama yang seharusnya berjalan seimbang. Hancurnya benteng pertahanan diri karena meyakini suatu hal yang tidak tepat dan akhirnya terjerumus dalam label kesalehan yang salah kaprah.
Membaca ulang Robohnya Surau Kami hari ini berarti membaca ulang cara kita beragama. Di sisi lain, cerpen ini juga menjadi sangat relevan dibaca pada masa sekarang, ketika ekspresi keberagamaan sering kali menonjol secara simbolik, tetapi miskin empati sosial. Navis seolah mengingatkan bahwa iman tidak cukup dirayakan di ruang ritual, tetapi harus hadir dalam kerja, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sesama. Kesalehan yang menutup mata terhadap realitas sosial berpotensi melahirkan kehampaan makna, bahkan kekerasan batin.
Cerpen ini mengajarkan bahwa iman membutuhkan keseimbangan: antara doa dan kerja, antara ibadah dan kepedulian, antara keselamatan pribadi dan tanggung jawab kolektif. Tanpa keseimbangan itu, kesalehan berisiko menjadi ilusi yang menenangkan, tetapi mematikan. Pada akhirnya, penggambaran tragedi Kakek adalah tragedi manusia yang gagal berdamai dengan dirinya sendiri. Dan mungkin, di sanalah letak kekuatan sastra A.A. Navis: ia tidak menawarkan jawaban, tetapi menghadirkan cermin—agar kita bertanya, apakah surau dalam diri kita masih berdiri kokoh, atau justru diam-diam tanpa disadari juga telah roboh.






