Minggu, 22/2/26 | 05:19 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Persebaran Surau di Sekitar Makam Syekh Burhanuddin

Minggu, 21/12/25 | 10:40 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi
(Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)

         

“Mengenalkan dan mempertahankan budaya itu penting, supaya manusia bisa mengenal dirinya sendiri dan lebih saling menghargai, dan sebagainya.”
-Maisie Junardy dalam novelnya 
Man’s Defender

BACAJUGA

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Makna Dibalik Puisi “Harapan” Karya Sapardi Tinjauan Semiotika

Minggu, 12/10/25 | 11:30 WIB
Cita-cita dan Impian dalam Puisi “Layang-Layang”  Karya Sapardi Djoko Damono

“Sajak Tafsir”, Jeritan Anak di Bawah Bayangan Orang tua

Minggu, 14/9/25 | 17:19 WIB

Indonesia merupakan negara dengan populasi umat Islam terbanyak di dunia (Akhyar et al., 2024).  Perkembangan ini  tidak terlepas dari peranan para ulama menyebarkan ajaran Islam di berbagai daerah di Indonesia, contonya di Sumatera Barat. Salah satu ulama yang yang memiki pengaruh besar dalam menyebarkan agama Islam di Sumatera Barat adalah Syekh Burhanuddin.

Syekh Burhanuddin lahir di Guguak Sikaladi, Pariangan Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada abad ke-17 dan diberi nama “Pono.” Saat remaja, Pono  pergi melanjutkan pendidikan ke Aceh dengan gurunya Syekh ‘Abd al-Ra’üf al-Fanshüri. Setelah belajar selama 21 Tahun, Pono pulang ke Sumatera Barat. Sebelum kepulangannya, Syekh ‘Abd al-Ra’üf al-Fanshüri memberi Pono nama “Burhanuddin” yang disaksikan oleh teman-temannya dan beberapa kesultanan Aceh (Samad, 2003).

Setelah sampai di Minangkabau, Syekh Burhanuddin menetap di Tanjung Medan, Ulakan dan mendirikan Surau Gadang untuk menyebarkan ajaran Islam menggunakan media Tarekat, yaitu Tarekat Syathariyah. Banyak para yang datang dari berbagai wilayah di Sumatera Barat yang datang dari  ke surau Gadang untuk menuntut ilmu. Setelah menuntut ilmu, mereka pun pulang ke kampung halaman masing-masing dan mendirikan surau dengan basis Tarekat Syathariyah (Azyurmadi, 1995:210).

Syekh Burhanunddin wafat hari Rabu tanggal 10 Syafar 1111 H usia  85 tahun di Surau Gadang dan dimakamkan di di ulakan yang sekarang menjadi tempat berdirinya Masjid Agung Sykeh Burhanuddin (Tunus, 2011:132). Meskipun sudah wafat, peninggalan dan pengaruhnya sangat kuat hingga saat ini yang menjadi topik menarik untuk dikaji dalam Folklor.

Pada hari Sabtu tanggal 15 November 2025,  mahasiswa sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas yang mengambil mata kuliah Folklor melakukan kuliah lapangan di Masjid Agung Sykeh Burhanuddin yang terletak di  terletak di Nagari Ulakan, kecamatan Ulakan Tapakis, kabupaten Padang Pariaman. Kuliah lapangan ini diadakan dengan tujuan untuk meneliti Folklor yang ada di sekitar Majid Agung Syekh Burhanuddin.

Ada berbagai jenis folklor yang ditemukan seperti makanan, cerita hantu, ritual penyembuhan, pantangan, dan lain sebagainya. Ada hal menarik yang ditemukan di sekitar Majid Agung Sykeh Burhanuddin, yaitu banyaknya surau-surau yang mengelilingi masjid tempat Sykeh Burhanuddin dimakamkan itu.

Menurut informasi dari Anas (72 tahun), penjaga Surau Nagari Tandikek yang merupakan salah satu dari banyaknya surau di sekitar Majid Agung Sykeh Burhanuddin, Jumlah surau yang mengelilingi Majid Agung Syekh Burhanuddin berjumlah lebih dari 100 surau.” Surau disekitar sini ada banyak, lebih dari 100, seperti surau tandikek, sicincin, kayu tanam, induriang, sungai sariak, koto dalam, banyak yang lain lagi.”

Tujuan di bangunnya surau-surau disekitar Majid Agung Sykeh Burhanuddin juga disampaikan oleh Pak Anas. “Surau-surau ini dibangun karena permintaan orang nagari, keluarga yang tinggal di sini diperbolehkan melaksanakan salat 40. Jika tidak, mereka tidak memiliki tempat untuk tinggal. Selain itu, masyarakat nagari juga dapat datang berziarah ke surau ini.”

Banyaknya surau disekitar Majid Agung Sykeh Burhanuddin dipengaruhi oleh Tarekat Syathariyah yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin. Tarekat Syathariyah di dapatkan oleh Syekh Burhanuddin melalui silsilahnya dengan  gurunya yaitu Syekh Abdurrauf Al-Sinkili (Tunus, 2011:75). Dalam misinya menyebarkan agama Islam, Syeh Burhanuddin juga menyebarkan Tarekat Syathariyah ke berbagai daerah di Minangakabau seperti Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Solok, Kabupaten Pasaman, dan lain-lain (Tunus, 2011:80).

Lebih lanjut, Pak Anas menambahkan bahwa surau-surau ini akan ramai didatangi pengunjung di bulan Safar. “Ramai sekali orang yang datang di bulan Safar ke makam syekh Burhanuddin. Orang-orang dari Nagari Tandikek menginap di surau ini sehingga tidak muat lagi suraunya. Namun, alhamdulillah tidak terjadi kerusuhan, karena banyak polisi dan tentara yang berjaga.” Meskipun surau-surau ini untuk orang nagarinya, orang dari luar nagari tetap diperbolehkan untuk tinggal disini.”Boleh-boleh saja orang dari luar nagari untuk tinggal di sini jika tidak ada lagi surau yang kosong, namun tetap di dahulukan orang dari nagari. Misalnya kalau orang tandikek itu tinggal di surau tandikek, kalau Sungai sariak tinggal di surau Sungai sariak juga” Ucap Pak Anas.

Salah satu keunikan dari surau-surau ini adalah lebih banyak di tempati oleh Perempuan daripada laki-laki, seperti yang di sampaikan oleh Azwarni (80 tahun) yang merupakan penjaga surau Nagari Lubuk Pandan. “Surau ini banyak ditinggali oleh perempuan yang  sudah tua karena suaminya  tidak ada lagi dan anak-anaknya sudah besar, sehingga mereka pergi ke surau ini hanyak untuk beribadah.” Meskipun begitu, perempuan yang masih muda tidak boleh tinggal di surau ini “Tidak yah, kalau yang muda pasti terputus salat 40-nya, kan salat ini tidak boleh terputus, kalau yang muda itu kan ada datang bulan-nya begitu.” Ucap ibu Azwarni.

Lebih lanjut, setiap surau di sini memiliki dua lantai. Lantai kedua akan dibuka ketika ramai orang yang menginap di surau ini, seperti di bulan Safar. “Lantai bawah ini digunakan untuk salat dan tidur, lantai kedua di kunci oleh orang nagari karena tidak ada yang akan tinggal di atas itu, tapi kalau bentuk bulan Safar itu iya dibukakan, sebab orang kan ramai, jadi tidak muat kalau di bawah saja” Ucap ibu Azwarni.

Selain untuk melaksanakan salat 40, surau-surau ini juga digunakan untuk ibadah lainnya, seperti yang disampaikan oleh Maidan (68 Tahun) yang merupakan penjaga surau Kayu Tanam.” Dia (salat) memiliki bulan masing-masing. Bulan ini, ada salat nya, bulan itu, ada salatnya. Kalau hari jum’at, kita baca surat Yasin setelah selesai salat Maghrib yang sudah disediakan,  jadi tinggal membaca. Nanti setelah selesai dikembalikan.”

Berdasarkan informasi dari ketiga informan diatas, dapat disimpulkan bahwa surau-surau disekitar makam Syekh Burhanuddin merupakan bentuk penghormatan para murid-murid Syekh Burhanuddin kepada beliau karena telah mengajarkan ajaran Islam ke tanah Minangkabau. Surau-surau ini juga menjadi ikon budaya di Kabupaten Padang Pariaman sehingga warisan nenek moyang ini harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai bukti penyebaran agama Islam di Sumatera Barat.

Tags: #Muhammad Zakwan Rizaldi
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kayu-Kayu yang Datang Bersama Air

Berita Sesudah

Kementerian Pertanian Turun ke Agam, Salurkan Bantuan untuk Pemulihan Sektor Pertanian

Berita Terkait

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Cerpen “Robohnya Surau Kami” dari Perspektif Psikoanalisis

Minggu, 15/2/26 | 17:22 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   Robohnya Surau Kami merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh...

Perspektif Ekologis dalam Berbahasa

Ancaman Ekologis Krisis Air dari Tren Penggunaan AI di Media Sosial

Minggu, 15/2/26 | 17:14 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Kecerdasan buatan artificial inteligence (AI) secara luas telah digunakan dalam...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa yang Membentuk Cara Kita Membenci

Minggu, 01/2/26 | 15:17 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Andalas)   Kebencian jarang lahir dari kekosongan. Ia tumbuh pelan-pelan, disirami kata-kata, dipupuk...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Minggu, 01/2/26 | 15:10 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Mahasiswi Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif LPK FIB Universitas Andalas)   Pembahasan mengenai perempuan sering...

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Pemilu Indonesia: Antara Demokrasi Substantif dan Demokrasi Prosedural

Selasa, 27/1/26 | 18:38 WIB

Oleh: Firnanda Amdimas (Mahasiswa Jurusan Hukum, Universitas Muhammad Natsir Bukittinggi)   Pemilihan umum (pemilu) merupakan pilar utama demokrasi di Indonesia....

Batu dan Zaman

Baju Berani Loppy: Mengelola Kecemasan Melalui Sastra Anak

Senin, 26/1/26 | 06:34 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa  (Dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Selama ini, sastra anak kerap diposisikan sebagai...

Berita Sesudah
Kementerian Pertanian Turun ke Agam, Salurkan Bantuan untuk Pemulihan Sektor Pertanian

Kementerian Pertanian Turun ke Agam, Salurkan Bantuan untuk Pemulihan Sektor Pertanian

POPULER

  • Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    Kantor Baru PKB Sumbar Diresmikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PKB Sumbar Bentuk Tim 5 Muscab

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkembangan Hukum Islam di Era Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanda Titik pada Singkatan Nama Perusahaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024