Senin, 01/6/26 | 09:20 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Kreativitas Linguistik atau Gejala Klinis, Neologisme?

Minggu, 21/9/25 | 14:46 WIB

Oleh: Reno Novita Sari dan Leni Syafyahya
(Mahasiswa dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)

Bahasa selalu lebih dari sekadar alat komunikasi. Ia adalah cerminan batin, jendela untuk memahami seseorang, sekaligus ruang untuk menciptakan makna baru. Bagi penderita skizofrenia, bahasa sering hadir dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka menciptakan kata-kata baru yang tidak ditemukan dalam kamus resmi atau fenomena yang biasanya disebut dengan istilah neologisme. Namun, apakah fenomena neologisme pada penderita skizofrenia ini hanya tanda dari gangguan pikiran atau justru sebagai bentuk kreativitas linguistik?

BACAJUGA

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB
Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Salah seorang pasien penderita skizofrenia di Rumah Sakit Soeharto Heerdjan menyebut kopi hitam dengan menggunakan istilah “my soulwengi”. Kata ini merupakan penggabungan dari kata soul yang berarti jiwa dalam bahasa Inggris dan wengi yang berarti malam dalam bahasa Jawa. Hasilnya adalah kiasan yang menggambarkan kopi sebagai jiwa malam. Bagi orang lain, ungkapan ini mungkin terdengar aneh atau tidak lazim dan membingungkan. Namun, bagi pasien, kata tersebut memiliki makna yang mendalam. Baginya, kopi bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari identitas dan pengalaman pribadi. Kata lain dari pasien yang sama adalah istilah “Skeba” yang digunakan untuk menamai fitur visual dalam permainan komputer, atau “ngefregen” untuk menggambarkan kondisi yang sibuk. Meskipun tidak ada dalam kamus, istilah-istilah ini tetap memiliki makna bagi si penutur.

Dalam ilmu psikiatri, fenomena neologisme disebut sebagai disorganisasi bahasa, salah satu ciri khas skizofrenia yang tercatat dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (American Psychiatric Association, 2013). Dengan kata lain, kemunculan kata-kata baru dianggap sebagai tanda adanya gangguan dalam cara berpikir. Namun, dari sudut pandang linguistik, hal tersebut juga bisa dimaknai sebagai bentuk kreativitas. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita pun sering menciptakan kata-kata baru karena pengaruh tren, teknologi, maupun media sosial. Bedanya, pada penderita skizofrenia kata-kata ini tercipta dari pengalaman batin yang sangat pribadi sehingga sulit dipahami oleh orang lain.

Fenomena neologisme menjadi istimewa karena kata-kata baru yang diucapkan oleh penderita skizofrenia bukan sekadar kesalahan bahasa, melainkan cara mereka untuk menyebut pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata biasa. Contoh istilah lain yang disebutkan oleh salah satu pasien penderita skizofrenia seperti “glindro” untuk mengumpamakan suara berisik dalam kepalanya. Hal ini dapat dipahami sebagai ekspresi kreatif dalam menamai sesuatu yang abstrak dan mungkin tidak pernah dialami oleh orang lain. Oleh karena itu, daripada melihatnya sebagai bahasa yang aneh, lebih baik kita memahaminya sebagai cara penderita untuk menggambarkan pergulatan batinnya. Dari sudut pandang medis, fenomena ini memang dianggap penting sebagai tanda klinis dalam diagnosis. Namun, dari perspektif linguistik, hal ini menunjukkan bahwa bahasa manusia tetap produktif, bahkan ketika pikiran sedang kacau. Sementera itu, dari sudut pandang kemanusiaan fenomena ini memberikan pelajaran bahwa penderita skizofrenia bukan hanya pasien dengan gangguan, tetapi juga individu dengan dunia bahasa yang unik dan kaya imajinasi.

Dengan demikian, bahasa menunjukkan bahwa kreativitas manusia tidak pernah berhenti, bahkan ketika kondisi mental sedang sakit. Seseorang tetap berusaha mencipatkan makna baru melalui kata-kata. Pada penderita skizofrenia, hal ini terlihat jelas bahwa mereka memiliki imajinasi yang seharusnya dihargai, bukan sekadar dilihat sebagai gejala sakit. Dengan sedikit empati, kita bisa memahami bahwa di balik kata-kata yang terdengar aneh dan janggal. Ada usaha yang tulus untuk menyampaikan pengalaman batin kepada orang lain.

Neologisme pada skizofrenia menunjukkan bahwa bahasa manusia selalu bergerak antara dua sisi, yaitu gangguan dan kreativitas. Kata-kata seperti “my soulwengi”, “Skeba”, “ngefregen”, atau “glindro” bukan sekadar rangakaian huruf tanpa makna, melainkan bukti usaha seseorang untuk tetap berkomunikasi dan berkreasi meskipun pikirannya terganggu. Daripada menganggapnya hanya sebagai sesuatu yang aneh, lebih tepat bila kita melihatnya sebagai bagian dari cerita manusia yang berusaha keras untuk tetap hadir dan dimengerti.

Tags: #Reno Novita Sari dan Leni Syafyahya
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Kecerdikan Kancil dalam Fabel Indonesia dan Melayu: Analisis Sastra Bandingan

Berita Sesudah

Bahasa Gaul dan Panggung Ekspresi Anak Muda

Berita Terkait

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Ironi Nasib Anak Perempuan di Tengah Himpitan Ekonomi

Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

Minggu, 31/5/26 | 23:30 WIB

Oleh: Adela Damanik (Mahasiswi Sastra Indonesia dan  Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Film Gowok:...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

Minggu, 31/5/26 | 23:11 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran)   "Membaca Ulang “Surat buat Tuhan” di Tengah Budaya Tak Pernah...

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Regulasi Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan di Perguruan Tinggi

Minggu, 24/5/26 | 20:02 WIB

Oleh: Intan Rhaudhatul Jannah (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Andalas) Kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus bukanlah sebuah cerita...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Sumpah Pemuda: Tonggak Perkembangan Sastra Indonesia

Minggu, 24/5/26 | 19:17 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa Gaul dan Panggung Ekspresi Anak Muda

POPULER

  • Diksi Cantik sebagai Identitas Perempuan di Instagram

    Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebebasan Perempuan dalam Film “Gowok” Analisis Semiotika Christian Metz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Manusia yang Selalu Kekurangan Tiga Puluh Peso

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026