Puisi-puisi Muhammad Yusuf Husein
Santri untuk Negeri
Pemimpin impian
Kini waktu telah tiba
Terus melangkah sebagai awal permulaan
Hilangkan tembok penghalang di depan
Selalu bersiap untuk menjemput impian
Mimpi yang sempat terlupakan
Dan kini siap diwujudkan
Jangan terlalau lama terdiam
Hidup boleh tenang bak air laut yang dalam
Namun di dalam air laut itu ada arus yang besar
Mutiara terbaik terbentuk dari laut terdalam
Sepeti itulah harusnya kita hidup tenang
jika dipandang memancarkan cahaya
kemanfaatan yang dibutuhkan oleh orang-orang
Kualitas orang bisa dilihat dari totalitasnya dalam bekerja
Bekerja dengan ibadah akan ringan dilakukan
Bekerja dengan tujuan memperoleh rezeki halal, mudah dikerjakan
Pekerjaan kecil namun dilaukan dengan hati yang benar?
Tatkala kita memikul sebuah tanggung jawab
sudah semestinya sikap adil, jujur dan amanah kuncinya
Karena kelak setiap apa yang dipimpin
akan diminta pertanggungjawabannya.
Impian
Armada berlayar
Mengarungi samudra tak berujung
Memandangi gemerlap cahaya di ujung saja
Tekad untuk impian tak pernah redup
Walau sepi selalu menjadi teman
Mimpi
Tertidur layaknya hibernasi
Bangun layaknya mengawali
Dunia membutuhkanmu
Musuhmu sedang menertawakanmu
Bayangkan mereka dengan kesuksesan
Melangkah Terus
Hidup terdiri dari banyak pilihan
Baik dan buruk
Hidup juga terdapat penyesalan
Untuk berubah sedikit demi sedikit
Jalani hidup dengan pasrah
Tak lupa pula untuk bersyukur
Tetap optimis dalam menjalankani hidup
Buktkna diri ini bisa
Jangan menyerah
Keraguan menjadi penghambat
Ketakutan hanya menggerogoti diri
Hidup tak luput dari kegagalan
Pikira suatu yang bahagia
Pikiran suatu yang meneyenangkan
Hidupkan semangat perjuangan
Kita bukan pecundang tapi pemenang
Bangkitlah dari pecundang untuk melanjutkan mimpi
Hidup hanya sekali
Buktikan kita bisa meraih mimpi
Tentang Penulis
Muhammad Yusuf Husein, lahir 16, Mei, 2008, di Sleman Yogyakarta. Ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas tepatnya di SMA IT ICBS Payakumbuh. Yusuf hobi melihat dunia dan menginspirasikan ke dalam sebuah tulisan untuk menjadikannya berharga.
Melangkah Mencapai Impian
Oleh Ragdi F. Daye
(buku kumpulan puisinya Esok yang Selalu Kemarin, 2019)
Tertidur layaknya hibernasi
Bangun layaknya mengawali
Menurut Fowler (2000), sastra adalah tulisan yang baik, tulisan yang bermakna, tulisan yang mengesankan, tulisan yang hebat (terkenal). Mengingat pendapat Fowler tersebut, maka membaca dan menulis puisi sebagai salah satu genre karya sastra tidak melulu merupakan aktivitas orang-orang yang berprofesi di bidang kesenian, namun dapat dilakoni siapa saja, termasuk akuntan, kuli bangunan, pengusaha kuliner, astronot, politikus, atau dokter.
Tulisan sastra yang menyimpan kandungan makna akan memperkuat sisi humanisme seorang tenaga medis misalnya sehingga akan lebih meresapi penderitaan pasien dengan empati yang menguatkan semangat hidup dan melakukan tindakan medis dengan lebih manusiawi. Seorang guru yang akrab dengan puisi tentu akan memiliki daya ucap yang lebih kaya dan gaya dalam menyampaikan materi pelajaran kepada guru-gurunya sehingga lebih menarik dan tidak membosankan.
Pada edisi kali ini, Kreatika menampilkan tiga buah puisi Muhammad Yusuf Husein. Ketiga puisi tersebut berjudul “Santri untuk Negeri”, “Impian”, dan “Melangkah Terus”.
Puisi pertama, “Pemimpin Impian” menyoroti semangat untuk menjadi pemimpin yang ideal, yaitu sosok yang berani menghadapi tantangan, memiliki integritas tinggi, dan siap melangkah maju. Pesan utama puisi ini menekankan pentingnya dedikasi, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kepemimpinan. Selain itu, kepemimpinan sejati tidak sekadar tentang kekuasaan, tetapi juga tentang memberi manfaat bagi orang lain.
Secara lugas, puisi ini menasihati pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik, khususnya dalam hal kepemimpinan, dengan menekankan nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, dan kerja keras sebagai kunci utama. Penggunaan metafora yang kuat, seperti “mutiara terbaik terbentuk dari laut terdalam,” menggambarkan bahwa kesuksesan dan kualitas seseorang lahir dari perjuangan serta proses yang tidak mudah.
Namun, terdapat beberapa kesalahan kecil dalam penulisan, misalnya “Jangan terlalau lama terdiam” yang seharusnya “Jangan terlalu lama terdiam”, serta “Sepeti itulah harusnya kita hidup” yang seharusnya “Seperti itulah seharusnya kita hidup.” Beberapa bagian puisi juga terasa seperti prosa karena kurang memiliki pola irama yang jelas. Jika ingin mempertahankan nuansa puisi, pemenggalan baris dan ritme dapat diperbaiki. Selain itu, terdapat pengulangan kata yang dapat disempurnakan agar lebih bervariasi dan estetis. Secara keseluruhan, puisi ini menyampaikan pesan yang kuat dan bermakna tentang kepemimpinan ideal. Dengan sedikit perbaikan dalam struktur dan tata bahasa, puisinya bisa menjadi lebih harmonis dan mengalir dengan lebih baik.
Pradopo (2009) mengatakan bahwa penyair hendak mencurahkan perasaan dan isi pikirannya dengan setepat-tepatnya seperti yang dialami batinnya. Untuk itu haruslah dipilih kata setepatnya. Diksi adalah pemilihan kata-kata, memiliki kedudukan yang sangat penting dalam puisi.
Robert C. Pooley (1992:19) mengatakan bahwa orang yang menutup telinga terhadap puisi akan terpencil dari suatu wilayah yang penuh dengan harta kekayaan berupa pengertian manusia, pandangan perorangan, serta sensitivitas yang menonjol. Suatu kerugian jika masyarakat tidak menikmati serta mengambil nilai dan makna yang terdapat dalam puisi. Memang dibutuhkan usaha untuk menangkap makna dan pesan yang disampaikan oleh penyair, namun adaberbagai cara yang bisa dilakukan, salah satunya lewat analisis dan kajian yang mendalam terhadap karya tersebut.
Puisi kedua, “Impian” menggambarkan perjalanan menuju impian sebagai sebuah proses yang penuh tantangan, kesunyian, dan keteguhan hati. Pada bagian pertama, digunakan metafora armada yang berlayar di lautan luas sebagai simbol perjuangan tanpa batas dalam meraih cita-cita. Sementara itu, bagian kedua menyoroti pentingnya bangkit dari keterpurukan dan menghadapi rintangan dengan semangat untuk membuktikan diri, terutama kepada mereka yang pernah meremehkan kita.
Puisi ini menggunakan metafora yang cukup kuat. Perbandingan antara perjalanan hidup dengan kapal yang mengarungi samudera serta tidur sebagai hibernasi memberikan makna yang mendalam. Pesan yang disampaikan pun bersifat universal, sehingga mudah dipahami dan dirasakan oleh pembaca. Impian dan perjuangan adalah pengalaman yang umum dialami. Puisi Yusuf ini juga mampu menyentuh emosi pembaca dan memberikan dorongan untuk tidak menyerah dalam mengejar impian. Namun, puisi ini juga memiliki beberapa kelemahan, seperti struktur yang kurang konsisten.
Pemenggalan baris dan irama masih bisa diperbaiki agar lebih mengalir, terutama pada bagian kedua yang lebih menyerupai nasihat langsung daripada sebuah puisi. Selain itu, ada beberapa kalimat yang kurang jelas, misalnya “Bayangkan mereka dengan kesuksesan”, yang bisa diperjelas atau dibuat lebih puitis agar maknanya lebih kuat.
Puisi ketiga, “Melangkah Terus” menyampaikan pesan motivasi tentang menghadapi kehidupan dengan optimisme, keberanian, dan semangat pantang menyerah. Kehidupan digambarkan sebagai perjalanan yang penuh pilihan, kegagalan, dan tantangan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Pesan utama puisi ini adalah untuk terus melangkah maju, tidak terjebak dalam ketakutan serta keraguan, dan membuktikan bahwa kita mampu meraih impian.
Puisi ini dapat menginspirasi pembaca untuk bangkit, berjuang, dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan hidup. Selain itu, penggunaan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami membuatnya lebih dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Nilai-nilai positif seperti optimisme, rasa syukur, dan semangat perjuangan menjadi inti dari puisi ini, memberikan dorongan bagi pembaca untuk menghadapi kehidupan dengan sikap yang lebih positif.
Namun, masih terdapat beberapa aspek yang dapat disempurnakan. Struktur puisi bisa lebih diperbaiki, karena beberapa baris masih terasa kurang mengalir secara puitis dan lebih menyerupai nasihat langsung. Hal ini bisa ditingkatkan dengan penggunaan lebih banyak majas atau irama yang lebih terstruktur. Selain itu, pemilihan kata dapat lebih bervariasi—misalnya, kata “hidup” dan “mimpi” yang muncul beberapa kali bisa diganti dengan sinonim untuk memperkaya bahasa dan menambah keindahan puisi. Puisi ini memiliki semangat yang kuat dan inspiratif. Dengan sedikit perbaikan dalam tata bahasa dan pemilihan kata, puisinya bisa menjadi lebih indah dan mengalir dengan lebih baik. []
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca. Kirimkan cerpen atau puisimu ke karyaflpsumbar@gmail.com.