Selasa, 25/8/26 | 02:02 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Minggu, 30/6/24 | 07:07 WIB

Secara spesifik, eksotisme dalam wacana pariwisata Indonesia juga dapat diidentifikasi dalam promosi Taman Nasional. Sebagai contoh, eksotisme diasosiasikan dengan flora dan fauna langka atau endemik di Indonesia: exotic fish and sea life, exotic animals. Eksotisme yang dilekatkan pada fauna tersebut merupakan dikotomi manusia dan spesies nonmanusia. Manusia menganggap fauna sebagai entitas yang eksotis, berbeda dari diri mereka. Hal ini mereproduksi eksotisme dalam ranah ekologi.

Eksotisme dan kelindan terhadap kolonialisme Barat juga tampak dalam promosi pariwisata di Eropa. Stepins (2022) mencatat bahwa pariwisata di Inggris juga melabeli aktivitas eksplorasi dan petualangan pada alam tropis sebagai aktivitas yang eksotis. Hal tersebut menggarisbawahi bahwa kolonialisme dalam promosi pariwisata masih ditemukan dalam berbagai konteks. Yang patut dipertanyakan adalah dalam promosi pariwisata Indonesia, kolonialisme tersebut justru ditonjolkan untuk menarik wisatawan Barat.

Jika direlasikan dengan konteks sosial dan politik, tentu penggunaan strategi linguistik yang melanggengkan cara pandang kolonialisme dalam wacana pariwisata Indonesia tersebut dipengaruhi oleh konteks di sekelilingnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah secara eksplisit menyebut sektor pariwisata sebagai penyokong pertumbuhan ekonomi negara. Oleh karena itu, promosi pariwisata diharapkan dapat menjaring perhatian dan kedatangan wisatawan global. Maka dapat dipahami bahwa pilihan linguistik yang digunakan justru berangkat dari perspektif Barat yang lekat dengan aktivitas eksplorasi dan eksotisme.

Dalam lensa analisis wacana kritis, repetisi eksotisme dalam wacana pariwisata justru akan menempatkan kita sebagai pihak yang melanggengkan kolonialisme. Mungkin yang terjadi bukanlah kolonialisme untuk merebut wilayah pariwisata, namun kolonialisme baru yang menjajah pola pikir, tanggung jawab, dan peran kita terhadap lingkungan alam. Kolonialisme baru tersebut dianggap tidak terlalu mengancam secara ekonomi karena bisa jadi kita diuntungkan dengan kedatangan turis global.

BACAJUGA

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB
Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Tulisan ini memberikan sedikit gambaran bahwa wacana pariwisata dipengaruhi oleh wacana promosi dan konteks sosial-politik di sekelilingnya. Sebagai bagian dari ekosistem, hendaknya kita lebih dapat menyaring aktivitas yang kita lakukan pada lokasi pariwisata, terutama yang menawarkan keindahan alam. Kita hendaknya menyadari bahwa manusia merupakan entitas yang bergantung pada alam. Hal ini berarti bahwa jika alam rusak, kehidupan manusia dan makhluk lain juga akan terdampak. Oleh karena itu, di tengan-tengah eksotisme yang selalu ditawarkan dalam pariwisata, kita dapat menggunakan bahasa untuk mengampanyekan perspektif lokal atau Timur yang luhur dan menghargai lingkungan alam.

Halaman 2 dari 2
Prev12
Tags: #eksotimse#wacana pariwisataArina Isti'anah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Angkasa” Karya Bramstya Argadewa Bima Ryandie dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Berita Terkait

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan yang dihadapi anak...

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Batagak Gala Mudo dalam Adat Minangkabau

Minggu, 16/8/26 | 22:50 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)   Batagak gala mudo menjadi salah satu tradisi penting...

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Senin, 10/8/26 | 16:12 WIB

Oleh: Devi Analia (Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Akses pembiayaan kerap menjadi hambatan utama bagi petani kecil...

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Sintaksis Gen Z di X & Threads: Keren atau Malah Berantakan?

Senin, 10/8/26 | 10:24 WIB

Oleh: Kevin Amnur Jonata (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Buka X sekarang dan hampir dapat dipastikan ada...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Hakikat Merantau dalam Tradisi Minangkabau

Senin, 10/8/26 | 08:36 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)   Minangkabau merupakan sebuah suku bangsa di Sumatera Barat...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Discussion about this post

POPULER

  • Sekdaprov Sumbar, Arry Yuswandi. [foto:ist]

    Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga ASN Pemprov Sumbar Lakukan Perbuatan Asusila di Kantor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kecelakaan Kerja Maut di Pabrik CPO Dharmasraya, Karyawan Tewas Digulung Konveyor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Reses di Aie Dingin, Warga Minta ASD Kawal Pemekaran dan Pembangunan Nagari Sungai Gando

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026