Selasa, 13/10/26 | 08:14 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Eksotisme dalam Wacana Pariwisata

Minggu, 30/6/24 | 07:07 WIB

Secara spesifik, eksotisme dalam wacana pariwisata Indonesia juga dapat diidentifikasi dalam promosi Taman Nasional. Sebagai contoh, eksotisme diasosiasikan dengan flora dan fauna langka atau endemik di Indonesia: exotic fish and sea life, exotic animals. Eksotisme yang dilekatkan pada fauna tersebut merupakan dikotomi manusia dan spesies nonmanusia. Manusia menganggap fauna sebagai entitas yang eksotis, berbeda dari diri mereka. Hal ini mereproduksi eksotisme dalam ranah ekologi.

Eksotisme dan kelindan terhadap kolonialisme Barat juga tampak dalam promosi pariwisata di Eropa. Stepins (2022) mencatat bahwa pariwisata di Inggris juga melabeli aktivitas eksplorasi dan petualangan pada alam tropis sebagai aktivitas yang eksotis. Hal tersebut menggarisbawahi bahwa kolonialisme dalam promosi pariwisata masih ditemukan dalam berbagai konteks. Yang patut dipertanyakan adalah dalam promosi pariwisata Indonesia, kolonialisme tersebut justru ditonjolkan untuk menarik wisatawan Barat.

Jika direlasikan dengan konteks sosial dan politik, tentu penggunaan strategi linguistik yang melanggengkan cara pandang kolonialisme dalam wacana pariwisata Indonesia tersebut dipengaruhi oleh konteks di sekelilingnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah secara eksplisit menyebut sektor pariwisata sebagai penyokong pertumbuhan ekonomi negara. Oleh karena itu, promosi pariwisata diharapkan dapat menjaring perhatian dan kedatangan wisatawan global. Maka dapat dipahami bahwa pilihan linguistik yang digunakan justru berangkat dari perspektif Barat yang lekat dengan aktivitas eksplorasi dan eksotisme.

Dalam lensa analisis wacana kritis, repetisi eksotisme dalam wacana pariwisata justru akan menempatkan kita sebagai pihak yang melanggengkan kolonialisme. Mungkin yang terjadi bukanlah kolonialisme untuk merebut wilayah pariwisata, namun kolonialisme baru yang menjajah pola pikir, tanggung jawab, dan peran kita terhadap lingkungan alam. Kolonialisme baru tersebut dianggap tidak terlalu mengancam secara ekonomi karena bisa jadi kita diuntungkan dengan kedatangan turis global.

BACAJUGA

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Tulisan ini memberikan sedikit gambaran bahwa wacana pariwisata dipengaruhi oleh wacana promosi dan konteks sosial-politik di sekelilingnya. Sebagai bagian dari ekosistem, hendaknya kita lebih dapat menyaring aktivitas yang kita lakukan pada lokasi pariwisata, terutama yang menawarkan keindahan alam. Kita hendaknya menyadari bahwa manusia merupakan entitas yang bergantung pada alam. Hal ini berarti bahwa jika alam rusak, kehidupan manusia dan makhluk lain juga akan terdampak. Oleh karena itu, di tengan-tengah eksotisme yang selalu ditawarkan dalam pariwisata, kita dapat menggunakan bahasa untuk mengampanyekan perspektif lokal atau Timur yang luhur dan menghargai lingkungan alam.

Halaman 2 dari 2
Prev12
Tags: #eksotimse#wacana pariwisataArina Isti'anah
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Angkasa” Karya Bramstya Argadewa Bima Ryandie dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Berita Terkait

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Regulasi Saja Tidak Cukup: Menangkal Gangguan Informasi di Ruang Digital

Senin, 12/10/26 | 14:55 WIB

Ilustrasi: Hukum dan regulasi hanyalah pagar luar, namun kesadaran dan etika digital masyarakat adalah benteng utama yang sesungguhnya dalam menangkal...

Puisi-puisi M. Subarkah

Bahasa, Miskomunikasi, dan Konflik Rumah Ibadah

Senin, 12/10/26 | 06:40 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa S2 Linguistik FIB Universitas Andalas) Bahasa memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman, hubungan sosial, dan sikap...

Penentu Arah Perubahan Zaman

Penentu Arah Perubahan Zaman

Minggu, 11/10/26 | 20:39 WIB

Oleh: Arza Kailla Chaerani (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Dunia terus berubah, begitu pula cara manusia memahami identitas,...

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Bias Pengetahuan Bahasa AI tentang Perempuan dan Krisis Iklim

Minggu, 11/10/26 | 20:02 WIB

Oleh: Arina Isti’anah (Dosen Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma)   Dalam ranah sosio-kognitif, bahasa merupakan piranti yang menjembatani memori dan...

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Membaca Novel Siti Nurbaya dalam Pandangan Sejarah

Minggu, 04/10/26 | 22:27 WIB

Oleh: Irfan Pandesta Putra, S.Hum (Sejarawan & Alumni S1 Ilmu Sejarah FIB Universitas Andalas)   Novel Siti Nurbaya: Kasih Tak...

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Representasi Perempuan dalam Film “Agensi Rumah Tangga”: Kajian Feminisme Hélène Cixous

Minggu, 04/10/26 | 12:42 WIB

Oleh: Tri Sutrisman (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Apa yang terjadi ketika perempuan kehilangan pekerjaan, tetapi tetap...

Berita Sesudah
Petinju dan Peninju; Manakah yang Benar?

Istilah “Magrib” dan “Orang Gila Mana” di Media Sosial

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerpen “Hutan Larangan” Karya Uda Agus dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026