Rabu, 17/6/26 | 23:03 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Tradisi Hoyak Tabuik di Kota Pariaman

Minggu, 23/6/24 | 11:55 WIB

Oleh: Zulfan Adi Putra
(Mahasiswa Manajemen Pemasaran, Fakultas Ekonomi & Bisnis dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)

 

Kota Pariaman adalah Kota kecil yang terletak di Provinsi Sumatera Barat, indonesia. Kota itu terletak di tepi pantai yang dikelilingi oleh Kabupaten Padang Pariaman dan memiliki segenap keindahan alam. Selain keindahan, Pantai kota Pariaman juga memiliki budaya yang tak kalah indah. Masyarakat Kota Pariaman memiliki budaya dan tradisi yang masih dilaksanakan setiap tahunnya. Budaya tersebut adalah Hoyak Tabuik Piaman. Tabuik merupakan salah satu tradisi unik yang dilaksanakan secara tahunan di Kota Pariaman. Ritual ini bukan hanya sebagai peringatan semata oleh masyarakat di sana, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh agama islam, terutama peristiwa kematian atau syahidnya para tokoh.

BACAJUGA

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB
Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Tabuik memiliki akar sejarah dalam kebudayaan Minangkabau. Tradisi tabuik bermula dari peristiwa syahidnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, yang terbunuh dalam Pertempuran Karbala pada tahun 680 M. Tradisi tabuik di Pariaman sendiri dimulai pada abad ke-19 dan dibawa oleh pendatang Hadhramaut, Yaman.

Setiap tahunnya masyarakat Kota Pariaman mengadakan dan mempersiapkan acara perayaan dengan sangat meriah, masyarakat disana menyebutnya dengan “Festival Hoyak Tabuik Piaman”. Hoyak Tabuik Piaman digelar pada bulan Muharram, tepatnya dalam hari ke-10, yang juga dikenal sebagai Hari Asyura. Dengan pembuatan replika bangunan dan tumpukan tabuik oleh masyarakat setempat yang merupakan lambang dari tiang-tiang di Masjidil Haram di Mekkah.

Awalnya tabuik hanya ada satu yang diberi nama Tabuik Pasa, sekitar tahun 1915 atas permintaan masyarakat disana, dibuat tabuik yang lain dan atas kesepakatan para tetua nagari disana. Tabuik kedua ini diberi nama Tabuik Subarang karna tabuik subarang dibuat di daerah seberang sungai yang ada di Kota Pariaman.

Prosesi tabuik Piaman memakan waktu berhari-hari yang juga membutuhkan dana yang besar dari pemerintah kota Pariaman, Daffa (20) mengatakan ada 7 tahap prosesi tabuik Piaman, yaitu pertama mengambil tanah yang dilaksanakan pada 1 Muharram. Kedua menebang batang pisang dilaksanakan pada hari ke-5 Muharram. Ketiga yaitu Mataam pada hari ke-7. Keempat dilanjutkan dengan mengarak jari-jari pada malam harinya. Kelima pada keesokan harinya dilangsungkan ritual mengarak saroban. Pada tahap keenam di hari puncak dilakukan tahap yang disebut Tabuik Naiak Pangkek pagi hari sebelum matahari terbit. Dan yang terakhir tahap ketujuh dilanjutkan dengan Hoyak Tabuik pada hari yang sama.

Hoyak Tabuik Piaman biasannya dilakukan sore hari setelah Tabuik diangkat ketempat acara puncak di Pantai Gandoriah. Disana nanti Tabuik diletakkan berdampingan dengan diiringi oleh tarian adat dari anak-anak sanggar di Kota Pariaman. Bukan hanya itu saja pemberian kata sambutan dari Wali kota Pariaman,  bahkan Wakil Gubernur Sumatera Barat serta jajaran anggota DPR, turut diundang untuk memeriahkan sekaligus untuk memperkenalkan Budaya Hoyak Tabuik Piaman di kancah nasional dan internasional.

Sebagai ritual penutup Tabuik diangkat Bersama-sama oleh masyarakat, Tabuik diadu dan dihoyak ketika mau mendekati laut  semua orang bersorak bahagia melihat salah satu kebudayaan indah yang masih terjaga. Kota Pariaman seperti dipenuhi oleh lautan manusia, Banyak orang dari berbagai daerah di luar Sumatera maupun diluar pulau Sumatera ingin melihat Budaya Tabuik Piaman.

Salah satu masyarakat di sana mengatakan setelah Tabuik terbuang dan hancur pun. Masih banyak orang ingin mengambil bagian-bagian dari tubuh Tabuik tersebut. Sebagian masyarakat di sana mempercayai bahwa bagian dari Tabuik tersebut bisa dijadikan pelaris dan ada pula yang menjadikannya sebagai hiasan untuk kedai supaya terlihat lebih menarik. Keadaan lalu lintas di Kota Pariaman biasanya akan macet sampai tengah malam usai Tabuik dibuang ke laut karena banyaknya orang yang ingin melihat festival Hoyak Tabuik Piaman.

Sampai sekarang tradisi Hoyak Tabuik Piaman masih dilaksanakan, bahkan sudah menjadi objek wisata yang khas di Kota Pariaman. Masyarakat setempat mulai dari yang kecil hingga dewasa ikut turut memeriahkan dan melestarikan budaya Hoyak Tabuik Piaman. Itulah kenapa Budaya Tabuik Piaman tidak pernah terlupakan di Kota Pariaman  karena masyarakat setempat sudah menjadikan budaya tersebut sebagai event tahunan yang harus di buat dan dimeriahkan setiap tahunnya.

Secara keseluruhan Tabuik di Kota Pariaman adalah sebuah tradisi yang kaya akan makna dan memiliki nilai historis yang sangat penting bagi masyarakat di Minangkabau terkhususnya masyarakat di Kota Pariaman. Budaya dan cara masyarakat setempat melestarikannya yang patut dicontoh supaya budaya yang ada di berbagai daerah di Indonesia tidak akan hilang ditelan oleh zaman.

Tags: #Zulfan Adi Putra
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Metafora di dalam Puisi “Layang-Layang” karya Sapardi

Berita Sesudah

Lebih dari Kafein: Cerita dari Kopi Pergaulan

Berita Terkait

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Gus Hery dan Transisi NU di Abad Kedua

Minggu, 14/6/26 | 22:37 WIB

Oleh: Satria Efendi Tuanku Kuniang (Ulama dan Tokoh Nahdlatul Ulama Sumatera Barat)   Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah...

Nilai-Nilai Religius pada Karya Andreas Gryphius

Membaca Sapardi dan Seni Berdamai dengan Kefanaan

Minggu, 14/6/26 | 22:24 WIB

Oleh: Hilda Septriani (Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)   Pada masa ini, ada puisi yang justru berbahaya karena tampak...

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Ketika Rupa Menjadi Stigma Sosial: Labeling dalam Novel “Dawuk”

Minggu, 14/6/26 | 22:16 WIB

Oleh: Nayla Aprilia (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang)   Di tengah masyarakat, penampilan fisik sering kali menjadi dasar...

Batu dan Zaman

Memakanai Ulang Kata “Kecubung” dalam Dongeng

Minggu, 14/6/26 | 21:59 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kecubung (Datura metel) merupakan sejenis tumbuhan dengan bunga...

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Jastip Peluang Bisnis Anak Muda di Tengah Tren Konsumtif

Minggu, 31/5/26 | 23:50 WIB

Oleh: Najwa Maliha Zharfa (Mahasiswa Prodi S1 Akuntansi dan Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia Universitas Andalas)   Siapa yang tidak mengenal...

Gaya Bahasa dalam Lagu, Teater, dan Cerpen Kajian Stilistika

Kue Asida: Makanan Para Raja Riau yang Hampir Punah

Minggu, 31/5/26 | 23:45 WIB

Oleh: Muhammad Zakwan Rizaldi (Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas dan Anggota UKMF Labor Penulisan Kreatif)...

Berita Sesudah
Satu Tikungan Lagi

Lebih dari Kafein: Cerita dari Kopi Pergaulan

Discussion about this post

POPULER

  • PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    PKB Umumkan Susunan KSB DPC se-Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Minta SPPG se Kota Padang Persiapkan Diri Hadapi Sistem Penilaian atau Grading dari Badan Gizi Nasional (BGN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Istilah-istilah Khusus dalam Mazhab Syafi’i

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026