Senin, 21/9/26 | 08:45 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Metafora di dalam Puisi “Layang-Layang” karya Sapardi

Minggu, 23/6/24 | 10:41 WIB

Oleh: Leori Nelda Yanti
(Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Teeuw dalam Fananie (2000:25) mendefinisikan stilistika sebagai sarana yang dipakai pengarang untuk mencapai suatu tujuan, karena stilistika merupakan cara untuk mengungkapkan pikiran, jiwa dan kepribadian pengarang dengan cara khasnya sendiri. Menurut Sudjiman (1993: 13), pengertian stilistika yaitu style, yang digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana. Dengan demikian style dapat diterjemahkan sebagai gaya bahasa. Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa dengan tujuan dapat memahami makna atau fungsi tersirat dalam sebuah karya sastra.

BACAJUGA

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB
Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Gaya bahasa ini juga memiliki pengertian dari beberapa ahli. Salah satunya Albertine (2005: 51) yang mendefinisikan gaya bahasa sebagai cara berbicara yang berasal dari bahasa sehari-hari yang digunakan secara konvensional dan literal untuk menggambarkan individu atau objek. Dengan menggunakan gaya bahasa yang khas, penyampaian yang penuh imajinasi menjadi lebih menyegarkan dan memberi kesan yang mendalam. Gaya bahasa meliputi: makna kata, gambaran, perbandingan, serta lambang dan kiasan. Makna kata meliputi berbagai hal, seperti: makna denotatif dan konotatif, sindiran, parodi dan sejenisnya. Sementara itu, perumpamaan melibatkan perbandingan (simile), metafora, dan personifikasi. Yang akan penulis bahas yaitu metafora dalam sebuah puisi.

Keraf (1981: 124) menyatakan bahwa metafora merupakan majas yang berisi perumpamaan tersirat yang menyamakan dua hal. Metafora ini tidak mengungkapkan perumpamaan secara langsung atau terang-terangan, melainkan hanya memberikan petunjuk tentang adanya perbandingan atau perumpamaan. Metafora merupakan salah satu gaya bahasa yang umum digunakan dalam sastra dan komunikasi. Secara sederhana, metafora dapat di artikan sebagai penggunaan kata-kata atau ungkapan yang memiliki arti kiasan untuk menggambarkan suatu konsep atau objek dengan cara yang menarik dan imajinatif. Dalam sastra, metafora sering digunakan untuk meningkatkan keindahan dan intensitas karya tulis, membantu pembaca untuk membayangkan atau merasakan pengalaman secara lebih mendalam dalam suatu karya tulis. Misalnya, dalam puisi, penggunaan metafora ini dapat memberikan dimensi yang lebih dalam pada makna dan gambaran yang disampaikan pengarang.

Dalam puisi “Layang-Layang” karya Sapardi Djoko Damono terdapat metafora di setiap baitnya. Penulis akan menjelaskan metafora yang ada dalam bait pertama dan juga dalam keseluruhan bait puisinya. Metafora dalam bait pertama dapat dilihat pada uraian berikut.

Layang-Layang

Layang-layang barulah layang-layang jika ada angin

memainkannya. Sementara terikat pada benang panjang,

ia tak boleh diam, menggeleng ke kiri ke kanan, menukik,

menyambar, atau menghindar dari layang-layang lain.

Metafora dalam bait pertama ini menggambarkan perjalanan hidup manusia. Layang-layang dalam puisi ini menjadi simbol manusia yang baru menemukan dirinya sendiri ketika dihadapkan pada tantangan atau perubahan dalam hidupnya. Pergerakan layang-layang yang terikat pada benang panjang itu menggambarkan perjalanan manusia yang tidak boleh diam, melainkan harus bisa merespons setiap perubahan dan tantangan yang datang, sama dengan pergerakan layang-layang yang tergerak oleh angin dalam puisi.

Secara keseluruhan dalam puisi ini penyair menyoroti hubungan manusia dengan alam, dengan menggambarkan keindahan melalui layang-layang sebagai simbol diri manusia. Pesan tentang pentingnya menjaga hubungan baik dengan alam serta menghargai proses pertumbuhan dan perubahan dalam hidup sangat kental dalam puisi ini. Selain itu, puisi ini juga mengajarkan pembaca tentang keteguhan dan ketenangan di tengah-tengah tantangan hidup. Layang-layang yang tetap terbang meskipun tidak memiliki kontrol penuh terhadap arah angin menjadi simbol keberanian dan keyakinan di dalam diri sendiri.

Dalam puisi ini pengarang juga menekankan kecantikan dalam kesederhanaan serta menunjukkan bahwa kebahagiaan dan keindahan seringkali dapat ditemukan dalam momen-momen kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang kehidupan, alam, dan hubungan manusia dengan keduanya. Itu memicu refleksi tentang bagaimana kita menjalani kehidupan, bagaimana kita berinteraksi dengan alam, serta bagaimana kita menemukan kebahagiaan dan keindahan dalam kesederhanaan.

Metafora dalam bait puisi ini memperbandingkan layang-layang dengan perjalanan hidup manusia serta hubungannya dengan alam, khususnya angin. Layang-layang di sini dijadikan metafora untuk menggambarkan manusia. Seperti layang-layang yang baru menjadi layang-layang ketika ada angin yang memainkan, manusia juga baru menemukan esensi sejati hidupnya ketika dihadapkan pada tantangan atau perubahan. Layang-layang yang terikat pada benang panjang menggambarkan keterikatan manusia pada jalur hidupnya, di mana mereka harus terus bergerak dan merespons setiap arah perubahan, sama seperti layang-layang yang harus bergerak mengikuti hembusan angin.

Kemudian, hubungan antara layang-layang dan angin menggambarkan hubungan manusia dengan alam. Anak-anak yang berjanji untuk memanggil angin barat menunjukkan bagaimana manusia berusaha memahami dan berinteraksi dengan alam. Ketertarikan dan pengaguman terhadap angin oleh layang-layang mencerminkan hubungan yang dalam antara manusia dan alam, di mana manusia merasakan keindahan alam dan memperhatikan interaksi kompleksnya. Dengan demikian, metafora ini mengajukan gagasan bahwa manusia sejati adalah mereka yang mampu mengikuti arus kehidupan dengan keberanian dan keteguhan, serta mampu menghargai dan berinteraksi dengan alam secara harmonis.

Dari paparan di atas, kesimpulan metafora dari puisi Layang-Layang ini bahwa layang-layang menjadi simbol perjalanan hidup manusia dan hubungannya dengan alam. Hal yang menonjol dari puisi ini adalah keterikatan manusia pada jalur hidupnya yang diibaratkan dengan benang panjang yang mengikat layang-layang, serta kemampuan manusia untuk merespons setiap perubahan dan tantangan yang datang, mirip dengan pergerakan layang-layang yang digerakkan oleh angin.

Pada tingkat yang lebih dalam, metafora dalam puisi ini juga menggambarkan keberanian dan keteguhan di dalam diri manusia yang diperlukan untuk terus menghadapi hidup dengan segala perubahan yang ada. Layang-layang yang terbang meskipun tidak memiliki kendali penuh atas arah angin menjadi simbol akan keberanian dan keyakinan di dalam diri manusia untuk tetap maju meskipun terkadang dalam keadaan yang tidak menguntungkan.

Selain itu, hubungan antara layang-layang dan angin mencerminkan hubungan yang dalam antara manusia dan alam. Manusia dipahatkan oleh kekuatan alam dan harus belajar beradaptasi serta menghargai kompleksitas alam. Ini menggambarkan bahwa kebahagiaan dan keindahan seringkali dapat ditemukan dalam momen-momen kecil dan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui perbandingan di atas, puisi Layang-Layang karya Sapardi Djoko Damono mengandung pesan tentang keberanian, keteguhan, dan kemampuan untuk merespons perubahan dalam hidup, serta pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam.  Puisi tersebut mengajak pembaca untuk merenung tentang bagaimana kita menjalani hidup dan bagaimana kita berinteraksi dengan alam, serta menemukan kebahagiaan dan keindahan dalam kesederhanaan. Demikianlah penjelasan penulis tentang metafora yang ada di dalam Puisi “Layang-Layang” karya Sapardi Djoko Damono. Semoga bisa bermanfaat.

Tags: #Leori Nelda Yanti
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Penggunaan Preposisi “di” di dalam Kalimat

Berita Sesudah

Tradisi Hoyak Tabuik di Kota Pariaman

Berita Terkait

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

Minggu, 20/9/26 | 15:43 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pernahkah Anda mendengar kalimat "kepala sekolah itu sedang memegang kepalanya...

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Berita Sesudah
Tradisi Hoyak Tabuik di Kota Pariaman

Tradisi Hoyak Tabuik di Kota Pariaman

Discussion about this post

POPULER

  • Lele Raksasa (Foto: Ist)

    Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Polisemi dan Homonimi dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026