Senin, 31/8/26 | 02:12 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Perfect Days: Standar Bahagia dan Syukur yang Sederhana

Minggu, 12/5/24 | 16:37 WIB

Lastry Monika
(Kolumnis Rubrik Renyah)

Hirayama melihat dunia dengan hatinya. Ia melihat detil-detil kecil sebagai sesuatu yang luar biasa. Darinya kita belajar bahwa perlu untuk meluangkan waktu dan mensyukuri detil kecil yang selintas terlihat tidak penting. Detil kecil itu baginya mewujudkan kegembiraan yang menenangkan.

Selama dua jam, Perfect Days yang disutradarai oleh Wim Wenders ini menyajikan penonton ritme yang lambat dan tenang. Film tahun 2023 produksi Jerman-Jepang yang diperankan Koji Yakusho (sebagai Hirayama) ini menunjukkan sebuah alternatif untuk menikmati kehidupan. Kesempurnaan dalam hidup tidak melulu harus dikejar berdasarkan yang dilakukan kebanyakan orang. Tidak perlu untuk selalu haus akan sensasi dan validasi yang mendorong sebagian orang untuk selalu terburu-buru, memaksa diri menapaki tangga yang tinggi, dan berlari tanpa henti karena takut ketinggalan.

Hirayama menikmati kesehariannya tanpa teknologi digital. Ia tidak memiliki televisi dan smartphone. Kesehariannya sepulang bekerja sebagai pembersih toilet umum ia habiskan dengan membaca buku yang dibelinya di toko buku bekas. Secara cukup rutin ia berkeliling kota menggunakan sepeda mengunjungi pemandian umum, kedai makanan, toko pencetak foto, penatu, dan sebuah bar kecil yang sering dikunjungi orang-orang paruh baya seperti dirinya.

BACAJUGA

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB
Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

Sebuah kamera analog dan beberapa kaset jadul berisikan folk Jepang dan rock Inggris hingga Amerika tahun 70-an menemani hari-harinya. Dua benda yang tampak menenteramkan bagi Hirayama. Saat pergi bekerja ia akan memutar kaset tersebut sembari sesekali tersenyum menikmati alunan musik. Saat istirahat siang, ia akan mendaki mengunjungi kuil dan menikmati makan siangnya dari atas bukit tersebut. Dalam ketenteraman menikmati makan siang, ia akan memerhatikan celah-celah cahaya matahari melalui daun-daun pohon mapel yang rindang. Sebuah pemandangan yang bagi Hirayama menarik dan menyenangkan hingga diabadikan lewat tangkapan kemera analognya.

Interaksi Hirayama dengan pohon mapel Jepang seolah memiliki arti tersendiri. Ia akan memerhatikan sekiranya ada bibit mapel di sekitaran pohon. Kemudian ia akan memungut dan merawatnya di apartemennya. Sepanjang Perfect Days yang minim dialog ini, nyaris tak diperlihatkan konflik yang menguras energi penonton. Salah satu yang menjadi sorotan hanyalah perjumpaan Hirayama dengan keponakan perempuan dan saudara perempuannya. Sekilas tampak ada konflik di masa lalu antara Hirayama dengan keluarganya, tetapi sedikitpun tak dijelaskan, baik melalui kilas balik maupun dialog antara karakter. Pertemuan yang canggung itu berakhir dengan pelukan hangat antara dua kakak beradik yang tampak telah lama tak berinteraksi.

Begitu pula perjumpaan Hirayama dengan mantan suami pemilik bar yang sering ia kunjungi. Dialog keduanya justru diakhiri permainan menginjak bayangan seperti dua bocah laki-laki yang saling menghibur diri. Sepanjang film hanya didominasi keharmonian yang ditampilkan lewat ekspresi Hirayama dan sejumlah cuplikan yang menggambarkan ketenangan. .

Hirayama bahagia dan bersyukur karena hal-hal kecil di sekitarnya. Setiap kali membuka pintu apartemen sebelum berangkat kerja, ia akan memerhatikan langit dan tersenyum bila hari itu cerah. Ia tampak bersyukur bila ada pengunjung toilet yang menekan tombol siram bila toilet selesai digunakan. Ia tampak senang menyaksikan kilauan cahaya di sela-sela pohon mapel. Ia begitu menikmati buku dan musik jadul untuk mengisi waktu sebelum tidur dan perjalanan menuju tempat kerja. Perfect Days memang beralur lambat, tenang, dan minim dialog. Namun lewat cara ini pulalah kisah yang ditampilkan tampak hendak mengemukakan cara pandang baru dalam menjalani kehidupan.

Tags: #Lastry Monica
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Hal Tidak Mengenakkan Ketika Berkunjung ke Yogyakarta

Berita Sesudah

Asal-Usul Kata “Kepo” dan “Julid” di Media Sosial

Berita Terkait

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Buku Baru untuk Pembaca Kecil

Minggu, 30/8/26 | 18:49 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Beberapa hari belakangan, saya membeli beberapa buku cerita bergambar...

Mengapa Perempuan Penyihir Dibunuh?

Satu Detik, Sebuah Cerita

Minggu, 16/8/26 | 20:50 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah) Belajar sesuatu yang baru ternyata bukan hanya soal seberapa...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Belajar Lagi dari Tombol Undo

Minggu, 02/8/26 | 18:43 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Beberapa minggu terakhir ini, ada satu kegiatan baru yang...

Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Banyak Mendengar, Banyak Belajar

Minggu, 19/7/26 | 19:50 WIB

Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumnis Rubrik Renyah)   Suatu waktu, saya dan tim melakukan penelitian lapangan di...

Senyuman Kecil dan Mendengar: Hal Kecil yang Berdampak Besar

Makan Dulu, Baca Kemudian

Minggu, 12/7/26 | 20:03 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Setelah beberapa kali memperhatikan slogan-slogan di rumah makan, saya mulai menyadari bahwa tulisan-tulisan itu...

Tentang Kipas Angin dan Perbedaan yang Sederhana

Minggu, 28/6/26 | 20:08 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Tinggal bersama orang lain dalam satu ruang yang sama sering kali memperlihatkan hal-hal...

Berita Sesudah
Peran Diksi dalam Kegiatan Tulis-Menulis

Asal-Usul Kata “Kepo” dan “Julid” di Media Sosial

Discussion about this post

POPULER

  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ibu Kota Nusantara (IKN)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026