Minggu, 06/9/26 | 03:22 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Minggu, 28/4/24 | 10:49 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Kampung halaman dalam KBBI VI diartikan sebagai daerah atau desa tempat kelahiran. Istilah kampung halaman kerap diidentikkan dengan tempat atau daerah asal-usul seseorang. Namun, bagaimana jadinya jika seseorang terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya? Inilah yang terjadi pada tokoh Leila dan Getrud dalam novel sastra anak Jerman, Apfelkuchen und Baklava (2016) karya Kathrin Rohmann.

BACAJUGA

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB
Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Narasi novel Apfelkuchen und Baklava dituturkan melalui sudut pandang dua tokoh utama, Max dan Leila; dan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Max adalah anak laki-laki Jerman berusia sebelas tahun. Ia berteman Leila, gadis asal Suriah yang merupakan murid baru di sekolahnya. Leila menyimpan sebuah biji kenari yang ia petik dari kebun neneknya. Ia selalu membawa biji itu kemanapun ia pergi. Benda itu mengingatkannya akan neneknya yang masih berada di Suriah. Suatu hari, ia kehilangan benda berharganya itu.

Novel Apfelkuchen und Baklava tergolong dalam karya sastra anak Jerman yang mengangkat kehidupan tokoh migran. Dalam kesusasteraan Jerman dikenal istilah sastra migran atau Migrationliteratur. Sastra migran ialah karya yang ditulis oleh tokoh yang memiliki latar belakang seorang migran, serta menceritakan kehidupan tokoh yang melakukan imigrasi. Sastra migran juga mengisahkan berbagai permasalahan yang dihadapi tokoh sebagai imigran, mulai dari kesulitan beradaptasi, kerinduan terhadap kampung halaman, stereotipe, rasisme, hingga bagaimana akhirnya tokoh dapat berintegrasi dengan negara baru hingga menemukan solusi dari permasalahannya.

Mengkaji sastra migran tidak dapat dilepaskan dari hal-hal yang mempengaruhi proses kreatif penulisan sebuah karya, di antaranya latar pengarang dan penyebab mengapa tokoh melakukan imigrasi. Novel Apfelkuchen und Baklava ditulis penulis bernama Kathrin Rohmann. Rohmann lahir dan besar di sebuah kota kecil di provinsi Hanover.  Kota ini dijadikannya latar tempat utama dari novel sastra anak pertamanya itu. Masa kecil Rohmann dihabiskannya dengan beternak hewan menjadi inspirasi dari latar belakang tokoh Getrud, nenek Max, yang juga digambarkan memiliki beberapa hewan ternak. Selain itu, diketahui pula bahwa kakek nenek Rohmann berasal dari Suriah.

Selanjutnya, penggambaran mengapa tokoh melakukan migrasi. Migrasi adalah perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari perlindungan. Selain migration, dalam bahasa Jerman dikenal pula istilah Flucht (pelarian diri). Flucht artinya meninggalkan negara secara tidak atau sukarela dari situasi kehidupan yang dianggap tidak menyenangkan atau berbahaya. Orang yang melakukan Flucht disebut Fluchtlinge atau pengungsi. Para pengungsi terpaksa harus meninggalkan kampung halaman mereka dan mencari negara suaka, misalnya karena situasi berbahaya seperti perang. Seperti itulah yang terjadi pada tokoh Leila dan Getrud, perang menyebabkan mereka harus melarikan diri dari kampung halaman mereka dan bermigrasi ke Jerman. Mengapa Jerman? Karena Jerman adalah salah satu negara Eropa yang ramah terhadap para pencari suaka. Dengan kemajuan teknologi dan kestabilan ekonomi, Jerman menawarkan kenyamanan, keamanan, dan perlindungan bagi para pengungsi.

Halaman 1 dari 3
123Next
Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Awalan ber- dan me-

Berita Sesudah

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Berita Terkait

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Puisi-puisi M. Subarkah

Eksistensi Bahasa Melayu Riau di Tengah Dominasi Bahasa Indonesia di Era Digital

Selasa, 25/8/26 | 22:59 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Prodi S2 Linguistik FIB Universitas Andalas)    Bahasa Melayu Riau tidak sekadar kumpulan kata yang digunakan...

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Makna Pulih dalam Lagu “Seperti Tulang” Karya Nadin Amizah

Minggu, 23/8/26 | 22:08 WIB

Oleh: Indri Rahmadani (Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Di tengah padatnya aktivitas dan tekanan yang dihadapi anak...

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Sintaksis: Sulit, tetapi Diam-Diam Menyenangkan

Minggu, 16/8/26 | 23:09 WIB

Oleh: Bunga Amelia (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Bagi sebagian orang, mendengar kata sintaksis mungkin terasa menakutkan. Mata...

Rendang Lokan, Makanan Khas Pesisir Selatan

Batagak Gala Mudo dalam Adat Minangkabau

Minggu, 16/8/26 | 22:50 WIB

Oleh: Yori Leo Saputra, S.Hum., Gr. (Guru SMAN 1 Ranah Pesisir)   Batagak gala mudo menjadi salah satu tradisi penting...

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Modal Sosial Kunci Utama Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis

Senin, 10/8/26 | 16:12 WIB

Oleh: Devi Analia (Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Andalas)   Akses pembiayaan kerap menjadi hambatan utama bagi petani kecil...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Discussion about this post

POPULER

  • Afrina Hanum

    Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala Biro PBJ Akui Ada dalam Rekaman Video Mesra dan Mundur dari Jabatan, Sekda : Tetap Diperiksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sosialisasi Mitigasi Bencana Hidrometeorologi di SMAN 9 Padang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Walikota Padang Apresiasi Pembukaan Konferensi Kerja Provinsi (Konkerprov) I Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Tahun 2026.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penggunaan Kata Ganti Engkau, Kau, Dia, dan Ia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemko Padang Dukung Program Pertamina Goes to Campus 2026.

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026