Minggu, 20/9/26 | 07:02 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Minggu, 28/4/24 | 10:49 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Kampung halaman dalam KBBI VI diartikan sebagai daerah atau desa tempat kelahiran. Istilah kampung halaman kerap diidentikkan dengan tempat atau daerah asal-usul seseorang. Namun, bagaimana jadinya jika seseorang terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya? Inilah yang terjadi pada tokoh Leila dan Getrud dalam novel sastra anak Jerman, Apfelkuchen und Baklava (2016) karya Kathrin Rohmann.

BACAJUGA

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB
Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Narasi novel Apfelkuchen und Baklava dituturkan melalui sudut pandang dua tokoh utama, Max dan Leila; dan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Max adalah anak laki-laki Jerman berusia sebelas tahun. Ia berteman Leila, gadis asal Suriah yang merupakan murid baru di sekolahnya. Leila menyimpan sebuah biji kenari yang ia petik dari kebun neneknya. Ia selalu membawa biji itu kemanapun ia pergi. Benda itu mengingatkannya akan neneknya yang masih berada di Suriah. Suatu hari, ia kehilangan benda berharganya itu.

Novel Apfelkuchen und Baklava tergolong dalam karya sastra anak Jerman yang mengangkat kehidupan tokoh migran. Dalam kesusasteraan Jerman dikenal istilah sastra migran atau Migrationliteratur. Sastra migran ialah karya yang ditulis oleh tokoh yang memiliki latar belakang seorang migran, serta menceritakan kehidupan tokoh yang melakukan imigrasi. Sastra migran juga mengisahkan berbagai permasalahan yang dihadapi tokoh sebagai imigran, mulai dari kesulitan beradaptasi, kerinduan terhadap kampung halaman, stereotipe, rasisme, hingga bagaimana akhirnya tokoh dapat berintegrasi dengan negara baru hingga menemukan solusi dari permasalahannya.

Mengkaji sastra migran tidak dapat dilepaskan dari hal-hal yang mempengaruhi proses kreatif penulisan sebuah karya, di antaranya latar pengarang dan penyebab mengapa tokoh melakukan imigrasi. Novel Apfelkuchen und Baklava ditulis penulis bernama Kathrin Rohmann. Rohmann lahir dan besar di sebuah kota kecil di provinsi Hanover.  Kota ini dijadikannya latar tempat utama dari novel sastra anak pertamanya itu. Masa kecil Rohmann dihabiskannya dengan beternak hewan menjadi inspirasi dari latar belakang tokoh Getrud, nenek Max, yang juga digambarkan memiliki beberapa hewan ternak. Selain itu, diketahui pula bahwa kakek nenek Rohmann berasal dari Suriah.

Selanjutnya, penggambaran mengapa tokoh melakukan migrasi. Migrasi adalah perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari perlindungan. Selain migration, dalam bahasa Jerman dikenal pula istilah Flucht (pelarian diri). Flucht artinya meninggalkan negara secara tidak atau sukarela dari situasi kehidupan yang dianggap tidak menyenangkan atau berbahaya. Orang yang melakukan Flucht disebut Fluchtlinge atau pengungsi. Para pengungsi terpaksa harus meninggalkan kampung halaman mereka dan mencari negara suaka, misalnya karena situasi berbahaya seperti perang. Seperti itulah yang terjadi pada tokoh Leila dan Getrud, perang menyebabkan mereka harus melarikan diri dari kampung halaman mereka dan bermigrasi ke Jerman. Mengapa Jerman? Karena Jerman adalah salah satu negara Eropa yang ramah terhadap para pencari suaka. Dengan kemajuan teknologi dan kestabilan ekonomi, Jerman menawarkan kenyamanan, keamanan, dan perlindungan bagi para pengungsi.

Halaman 1 dari 3
123Next
Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Awalan ber- dan me-

Berita Sesudah

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Berita Terkait

Representasi Perempuan dalam Novel “Perempuan di Titik Nol dan Entrok: Kajian Feminisme”

Menyusuri Luka Kanak-kanak dalam Kumpulan Puisi “Belajar Menanggalkan Bulan”

Minggu, 13/9/26 | 22:05 WIB

Oleh: Rosidatul Arifah (Alumni S1 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas)  Awal September 2026 ini memberikan angin ceria pada...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Modernisme dan Dunia yang Dinamis dalam Karya Sastra

Minggu, 13/9/26 | 09:35 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas dan Mahasiswa Program Magister Sastra Kontemporer, Universitas Padjajaran)   Modernisme...

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Benarkah Onomatope Arbitrer?

Minggu, 13/9/26 | 08:48 WIB

Oleh: Ahmad Hamidi dan Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)    Seekor anjing sedang menggonggong di...

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Semantik-Pragmatik Ketika Pulang Tidak Selalu Berarti Kembali

Minggu, 06/9/26 | 11:00 WIB

Oleh: Hasbi Witir (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Kata pulang merupakan kata yang sangat dekat dengan kehidupan...

Puisi-puisi M. Subarkah

Jangan Tunggu Hutan Habis untuk Sadar

Minggu, 06/9/26 | 10:37 WIB

Oleh: M. Subarkah (Mahasiswa Magister Linguistik FIB Universitas Andalas) Kita sering baru mengingat hutan ketika bencana datang. Ketika hujan turun...

Puisi-puisi Wulan Darma Putri

Bianglala: Menelusuri Makna, Sejarah, dan Jejak Kebudayaan dalam Sebuah Kata

Minggu, 30/8/26 | 16:29 WIB

Oleh: Noor Alifah (Mahasiswa Sastra Indonesia dan Anggota Labor Penulisan Kreatif FIB Universitas Andalas)   Ketika melihat lengkungan warna-warni yang...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Discussion about this post

POPULER

  • Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    Puisi-puisi Arza Kailla Chaerani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Dharma Purnama Putra

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Child Grooming sebagai Bentuk Frasa “Manipulasi Anak”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria ini Taklukan Lele Raksasa Ukurannya Nyaris Tiga Meter

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Awalan ber- dan me-

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya dari Surau Tuo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fraksi PKB Setujui Penundaan Porprov Sumbar, Soroti Risiko Anggaran dan Kesiapan 11 Ribu Atlet

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026