Sabtu, 01/8/26 | 23:30 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Memaknai Ulang Istilah ‘Kampung Halaman’ dalam Novel Apfelkuchen und Baklava

Minggu, 28/4/24 | 10:49 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa
(Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)

 

Kampung halaman dalam KBBI VI diartikan sebagai daerah atau desa tempat kelahiran. Istilah kampung halaman kerap diidentikkan dengan tempat atau daerah asal-usul seseorang. Namun, bagaimana jadinya jika seseorang terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya? Inilah yang terjadi pada tokoh Leila dan Getrud dalam novel sastra anak Jerman, Apfelkuchen und Baklava (2016) karya Kathrin Rohmann.

BACAJUGA

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB
Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Narasi novel Apfelkuchen und Baklava dituturkan melalui sudut pandang dua tokoh utama, Max dan Leila; dan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Max adalah anak laki-laki Jerman berusia sebelas tahun. Ia berteman Leila, gadis asal Suriah yang merupakan murid baru di sekolahnya. Leila menyimpan sebuah biji kenari yang ia petik dari kebun neneknya. Ia selalu membawa biji itu kemanapun ia pergi. Benda itu mengingatkannya akan neneknya yang masih berada di Suriah. Suatu hari, ia kehilangan benda berharganya itu.

Novel Apfelkuchen und Baklava tergolong dalam karya sastra anak Jerman yang mengangkat kehidupan tokoh migran. Dalam kesusasteraan Jerman dikenal istilah sastra migran atau Migrationliteratur. Sastra migran ialah karya yang ditulis oleh tokoh yang memiliki latar belakang seorang migran, serta menceritakan kehidupan tokoh yang melakukan imigrasi. Sastra migran juga mengisahkan berbagai permasalahan yang dihadapi tokoh sebagai imigran, mulai dari kesulitan beradaptasi, kerinduan terhadap kampung halaman, stereotipe, rasisme, hingga bagaimana akhirnya tokoh dapat berintegrasi dengan negara baru hingga menemukan solusi dari permasalahannya.

Mengkaji sastra migran tidak dapat dilepaskan dari hal-hal yang mempengaruhi proses kreatif penulisan sebuah karya, di antaranya latar pengarang dan penyebab mengapa tokoh melakukan imigrasi. Novel Apfelkuchen und Baklava ditulis penulis bernama Kathrin Rohmann. Rohmann lahir dan besar di sebuah kota kecil di provinsi Hanover.  Kota ini dijadikannya latar tempat utama dari novel sastra anak pertamanya itu. Masa kecil Rohmann dihabiskannya dengan beternak hewan menjadi inspirasi dari latar belakang tokoh Getrud, nenek Max, yang juga digambarkan memiliki beberapa hewan ternak. Selain itu, diketahui pula bahwa kakek nenek Rohmann berasal dari Suriah.

Selanjutnya, penggambaran mengapa tokoh melakukan migrasi. Migrasi adalah perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari perlindungan. Selain migration, dalam bahasa Jerman dikenal pula istilah Flucht (pelarian diri). Flucht artinya meninggalkan negara secara tidak atau sukarela dari situasi kehidupan yang dianggap tidak menyenangkan atau berbahaya. Orang yang melakukan Flucht disebut Fluchtlinge atau pengungsi. Para pengungsi terpaksa harus meninggalkan kampung halaman mereka dan mencari negara suaka, misalnya karena situasi berbahaya seperti perang. Seperti itulah yang terjadi pada tokoh Leila dan Getrud, perang menyebabkan mereka harus melarikan diri dari kampung halaman mereka dan bermigrasi ke Jerman. Mengapa Jerman? Karena Jerman adalah salah satu negara Eropa yang ramah terhadap para pencari suaka. Dengan kemajuan teknologi dan kestabilan ekonomi, Jerman menawarkan kenyamanan, keamanan, dan perlindungan bagi para pengungsi.

Halaman 1 dari 3
123Next
Tags: #Andina Meutia Hawa
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Perbedaan Awalan ber- dan me-

Berita Sesudah

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Berita Terkait

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Jorong Mapun: Ruang Bertemunya Bahasa Mandailing Budaya dan Adat Minangkabau

Minggu, 26/7/26 | 22:02 WIB

Oleh: Tomi Pratama (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Pada saat ini, zaman semakin maju. Orang tua yang...

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Kapitalisme dan Kontradiksi Kemajuan dalam Sastra Indonesia

Minggu, 26/7/26 | 18:47 WIB

Oleh: Maharani Syifa Ramadhan (Alumni Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Praktik-praktik kapitalis seperti penguasaan lahan, pembangunan infrastruktur, dan ekspansi...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Menguji Sila Kemanusiaan: Representasi Pancasila dalam Polemik Pride Month SUMA UI

Minggu, 19/7/26 | 22:26 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti  (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas) Pada awal Juni 2026, jagat media sosial Indonesia bergolak akibat...

Batu dan Zaman

Mencari Kehangatan di Era AI Melalui Boyfriend on Demand dan Esok Tanpa Ibu

Minggu, 19/7/26 | 21:31 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen Prodi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Beberapa tahun ke belakang, kemunculan kecerdasan buatan (Artificial...

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Teknologi Digital Mengubah Cara Berbelanja

Senin, 13/7/26 | 07:52 WIB

Oleh: Minas Salihin Iskandar (Mahasiswa Prodi Manajemen FEB Universitas Andalas) Bayangkan toko kelontong kecil di sudut jalan. Dulu, toko itu...

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Dominasi Penggunaan Frasa Berdasarkan Tujuan Berbahasa

Senin, 13/7/26 | 07:38 WIB

Oleh : Hazizah Jafitra (Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   Penggunaan bahasa bukan hanya sebatas berfungsi...

Berita Sesudah
Sebagian Tidak Suka Orang yang Banyak Cerita

Obrolan Perempuan Tidak Selalu Merumpi

Discussion about this post

POPULER

  • Bupati Solok Dampingi KKP Salurkan 120 Ribu Benih Ikan untuk Pulihkan Budidaya Pascabencana di Koto Sani

    Bupati Solok Dampingi KKP Salurkan 120 Ribu Benih Ikan untuk Pulihkan Budidaya Pascabencana di Koto Sani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sumbang 12 untuk Puti Bungsu Minangkabau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Donizar Soroti Mandeknya Program Pariwisata di Sumbar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fenotipe Bombay dan Golden Blood: Dua Golongan Darah Terlangka yang Penting untuk Medis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketimpangan Sosial dalam Buku Dari Medan ke Jerman, Sebuah Analisis Wacana Kritis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harimau vs Singa, Siapa yang Lebih Kuat? Ini Fakta Sains dan Kasus Nyatanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Calon Jamaah Haji Sumbar Nomor Porsi di Bawah 94885 Berpeluang Berangkat pada 2027

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026