Oleh: Anggi Oktavia
(Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
Perjalanan Sastra di Indonesia terbungkus dalam setiap periode-periode sehingga menciptakan parameter yang harus dipenuhi untuk disebut sastra pada sebuah periode. Patokan periode-periode itu disebut angkatan. Balai Pustaka adalah angkatan sekaligus penerbitan yang menjadi pembatas antara sastra tradisional dengan sastra modern. Balai Pustaka menerapkan standar untuk karya sastra yang diterbitkan pada angkatan tersebut. Karya yang di terbitkan harus bisa membangun moral dan budi pekerti anak bangsa dan tidak boleh memprovokasi pemerintah, serta politik.
Penerbit Balai Pustaka merupakan politik etis atau politik balas budi kepada tanah jajahan Hindia Belanda oleh Pemerintah Kolonial Belanda dalam bidang pendidikan, berupa mendirikan sekolah, percetakan, perpustakaan untuk generasi jajahan Hindia Belanda. Karya-karya yang di muat hanya mengenai kehidupan sehari-hari, seperti kawin paksa, perjodohan, adat istiadat. Setiap angkatan punya benang merah tersendiri tentang hal apa yang dibahas. Hakikatnya karya sastra adalah ungkapan perasaan dari pengarang yang bersumber dari fenomena sosial yang ada di masyarakat. Kemudian, melalui proses kreatif penulis, fenomena tersebut dituangkan dalam media bahasa yang estetik atau indah.
Novel Belenggu karya Armijn Pane pernah dkirimkan pada tahun 1938 ke Balai Pustaka, tetapi ditolak karena dianggap tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan Balai Pustaka. Novel Belenggu dianggap tidak memberikan ajaran moral yang baik, sebab tampil dengan kemodernan. Hal-hal yang diangkat dalam novel tersebut memuat percintaan, perselingkuhan, portitusi, bahkan sampai ke pemerkosaan. Armijn Pane menuangkan hal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan berangkat dari fenomen sosial yang ada di masyarakat. Setelah ditolak oleh Balai Pustaka, Pada tahun 1940, Belenggu diterbitkan oleh Majalah Poedjangga Baru berupa serial dari bulan Juni sampai bulan April secara berturut-turut.
Novel Belenggu menjadi karya sastra yang lahir pada angkatan Pujangga Baru. Artinya, Novel Belenggu tidak seburuk penilaian Balai Pustaka. Novel itu tidak terima di angkatan Balai Pustaka, karena perjalanan sastra di Indonesia pada saat angkatan Balai Pustaka belumlah sampai pada tahap mengangkat fenomena yang sensitif, bahkan Belenggu dianggap sebagai novel porno semata. Jauh dibalik semua stigma buruk itu, sebenarnya Belenggu mencoba menggarap masalah sosial yang nyata. Hal itu terbukti dengan diterbitkannya Belenggu di angkatan Pujangga Baru dan di terima oleh masyarakat luas sebagai Novel yang menggambarkan kritik terhadap keadaan sosial.
Novel Belenggu adalah novel psikologis pertama di Indonesia. Armijn Pane terpengaruh oleh teori Sigmund Freud yang mengungkapkan teori psikoanalisis. Psikoanalisis digunakan untuk membaca karya sastra dan menganggap karya sastra sebagai sesuatu yang figuratif. Sigmund Freud menganggap tingkah laku manusia didominasi oleh alam bawah sadar. Teori psikoanalisis Freud tergambar dalam novel Belenggu. Setiap tokoh memiliki belenggu dengan masa lalu yang menyangkut keadaan jiwa dalam hal percintaan. Hal ini berkaitan dengan realitas sosial tentang seberapa penting mendapatkan kehangatan dan kebahagiaan dalam cinta dan kehidupan rumah tangga. Tokoh Tono digambarkan sebagai dokter yang ternyata tidak mencintai istrinya Tini. Tono sibuk dengan pasien, sedangkan Tini pun juga sibuk dengan kegiatan sosialnya. Tono merasa Tini menjauh. Begitupun Tini, dirinya merasa diabaikan oleh sang suami. Ego yang semakin besar membuat hubungan keduanya renggang. Tono menginginkan istri tradisional yang sibuk mengurus rumah dan tidak bekerja. Tini tidak bisa melakukan itu, karena dia adalah wanita karier dan modern.
Setelahnya, Tono bertemu perempuan bernama Nyonya Eni, yang ternyata adalah sahabat lamanya yang berprofesi seagai pelacur. Mereka pun menjalin hubungan yang sangat dekat, lama kelamaan Tono berselingkuh dengan Eni atau Yah. Dibalik ketidaktahuan Tini tentang perselingkuhan suaminya, Tini bertemu dengan mantan pacarnya, Hartono. Terkuaklah bahwa sebelumnya Tini sudah pernah berhubungan suami istri sebelum menikah dengan mantan pacarnya itu saat mereka kuliah. Tini mengetahui suaminya berselingkuh. Tini merasa sangat di khianati suaminya. Tono ingin berubah dan memulai semuanya dengan Tini. Tini menemui Yah, tetapi akhirnya Tini mengerti dan luluh dengan Yah karena kelembutan tutur kata dan sikap Yah. Akhirnya, dia merelakan dan mengiklaskan Tono jika memang ingin bersama Yah. Tini kemudian pindah ke Surabaya dan tidak menerima Tono lagi. Begitupun dengan Yah, memilih pergi dari Tono sehingga tinggal Tono sepi sendiri.
Konflik-konflik tersebut bersentuhan dengan masalah jiwa tokoh, seperti Tono yang merasa asing dengan Tini, istrinya sendiri. Tini yang tidak ingin lagi mencintai laki-laki dan mencoba menaikkan standar harga dirinya untuk didapatkan lelaki karena ditinggalkan Hartono setelah melakukan hubungan seks. Yah yang merasa tidak cocok dengan suaminya yang tua sehingga memilih menjadi pelacur. Masalah-masalah itu mendekatkan pembaca untuk betul-betul merasakan emosi setiap tokoh.
Berbeda dengan Novel-novel sebelumnya yang tidak membahas secara jelas gejolak batin dari setiap tokoh. Tindakan tokoh yang berasal dari kondisi jiwanya menyatakan bahwa novel ini adalah novel psikologis. Tini tidak cocok dengan Tono karena dia tidak lagi menyukai laki-laki setelah yang dirasakannya, setelah dihianati mantan kekasihnya di masa lalu. Tono memilih selingkuh dengan Yah karena tidak menemukan kecocokan dengan isterinya. Begitupun Yah yang memilih menjadi pelacur karena menginginkan kepuasaan biologisnya.
Penulis novel mencoba menyampaikan fakta sosial bahwa menikah bukan hal sepele yang bisa dilakukan dengan siapa saja, melainkan harus benar-benar dengan orang yang tepat. Kegagalan rumah tangga Tono dan Tini menyadarkan kita bahwa sebuah kenyamanan bisa dibentuk dengan orang yang memang satu pemahaman. Orang yang menikah adalah orang yang sudah siap dalam hal memahami satu sama lain. Menyatukan dua pikiran dan perasaan manusia bukanlah hal yang mudah. Kemudian, prostitusi yang dilakukan Yah adalah sebagai kritik terhadap perilaku yang rela menghalalkan segala cara demi uang, demi hidup yang glamor, dan demi kepuasan. Hartini juga menggambarkan remaja yang tidak menjaga diri dengan baik karena diam-diam sudah berzina dengan mantan pacarnya sebelum menikah. Tema yang diangkat sangat dekat dengan keadaan sosial dan gejolak batin tokoh-tokoh yang membuat Belenggu menjadi novel yang membawa perubahan dalam perkembangan sastra di Indonesia saat itu.
Belenggu mendapat tanggapan negatif dan positif dari masyarakat serta kritikus sastra. Pendapat negatif akan beranggapan bahwa novel ini hanya mengangkat cerita selangkangan berupa porno, karena unsur perselingkuhan, portitusi, dan seks bebas yang di tonjolkan, sedangkan pendapat positif mengatakan bahwa novel ini membawa perubahan baru dalam sastra, baik dalam tema, cara penyampaian yang menggambarkan konflik batin yang dihadapi cendikiawan di Indonesia. Seorang penulis bernama Muhammad Balfas mengatakan bahwa “Belenggu adalah novel Indonesia terbaik sebelum perang kemerdekaan”. Belenggu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing.
Setiap karya sastra hidup dalam angkatan atau periode tertentu. Ketika ada wajah baru dalam penulisan, gaya penceritaan, tema yang di angkat, serta dengan alur yang bereda, belum tentu karya itu buruk atau salah sebab berbeda adalah ciri dari sebuah perubahan. Penerimaan masyarakat terhadap karya juga sangat diperlukan. Diterima atau tidaknya karya oleh penerbit, menentukan apakah karya sastra tersebut cocok dengan periode tersebut dan layak di baca masyarakat luas. Belenggu menjadi novel terbaik sebelum perang kemerdekaan dan menjadi novel yang menggambarkan psikoanalisis pertama di Indonesia. Belenggu telah membuat kebaruan pada masanya dalam perjalanan sastra di Indonesia, yaitu pada masa angkatan Pujangga Baru. Masa ini karya sastra lebih dekat dengan kondisi jiwa pengarang, mengangkat tema yang lebih dekat dengan kenyataan yang ada ddi masyarakat dengan tema yang berani, tajam, sensitive, dan kritik terhadap realitas sosial.
Discussion about this post