Sabtu, 23/5/26 | 13:25 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • BERITA
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home Unes

Sarapan Pagi dan Langkah Awal yang Penuh Energi

Minggu, 26/11/23 | 14:11 WIB

Salman Herbowo
(Kolumnis Rubrik Renyah)

 

Dahulu saya menganggap sarapan pagi itu bukan hal penting. Kebiasaan itu terus berlanjut hingga menjadi mahasiswa. Semua itu berubah saat penyakit asam lambung mulai terasa. Penyakit ini mejadi awal untuk berubah, mengubah pola makan dan salah satunya sarapan pagi.

Saat ini, sarapan pagi bagi saya tidak hanya dianggap sebagai kebutuhan fisik, melainkan sebagai investasi untuk kesehatan. Padatnya aktivitas harian dan seringnya terburu-buru dalam mengawali pekerjaan membuat sarapan pagi sering ketinggalan. Padahal, sarapan memiliki dampak besar pada performa fisik dan mental. Tanpa sarapan pagi, akan ada saja berbagai hal yang tidak mengenakan terasa bagi tubuh. Paling tidak, dengan sarapan pagi membuat pikiran tenang dan nyaman mengawali aktivitas.

BACAJUGA

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB
Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Bagi saya, salah satu alasan utama pentingnya sarapan adalah sebagai nutrisi tubuh. Tentu saja alasan ini saya dapatkan dari berbagai artikel kesehatan dan saran dari teman-teman yang kuliah di ilmu kesehatan. Setelah berpuasa selama tidur malam, tubuh tentu membutuhkan asupan nutrisi untuk memulai aktivitas.

Sarapan memberikan energi yang diperlukan untuk menjalankan fungsi tubuh secara optimal. Sarapan yang seimbang tentu dapat menghindari kita dari rasa lemas dan lesu dalam mengawali aktivitas. Namun, sarapan pagi bagi saya bukan soal nutris saja melainkan juga dengan kesiapan mental.

Dalam beberapa artikel kesehatan disebutkan saat sarapan, otak mendapat pasokan glukosa yang diperlukan untuk meningkatkan konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan berpikir. Sebuah pikiran yang terjaga dengan baik di pagi hari dapat meningkatkan produktivitas dan kreativitas.

Hal lain yang menarik dari sarapan adalah tentang hubungan sosial. Misalnya, sarapan pagi bersama keluarga atau teman bisa menjadi waktu berkualitas. Ini adalah saat di mana kita bisa saling berbagi rencana hari atau sekadar menyapa dengan hangat sebelum bergegas untuk rutinitas pekerjaan.

Sarapan pagi adalah ritual yang sederhana namun dapat menciptakan perbedaan besar dalam kualitas hidup kita. Jangan anggap remeh momen ini. Alih-alih memandangnya sebagai keharusan, lihatlah sarapan pagi sebagai kesempatan untuk memberikan diri kita sendiri dorongan energi, kejelasan pikiran, dan fondasi kesehatan yang kokoh.

Sarapan pagi bukan hanya rutinitas, melainkan kisah transformasi kesehatan dan kehidupan. Awalnya saya menganggap remeh sarapan, tapi sekarang memandangnya sebagai investasi penting. Dalam setiap suapannya, sarapan membawa energi, kesehatan, dan kehangatan hubungan sosial. Sebuah ritual sederhana yang menciptakan perbedaan luar biasa. Sarapan pagi bukan hal yang memberatkan, melainkan hal ringan yang menjadi kunci keajaiban kehidupan yang lebih sehat dan penuh semangat.

Tags: #Salman Herbowo
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Cerpen “Cinta Tergadai di Ujung Sumatera” karya Wirda dan Ulasannya oleh Azwar

Berita Sesudah

Smart Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Berita Terkait

Lagu yang Tak Selesai-selesai

Tiga Belas Persen Lagi!

Minggu, 17/5/26 | 19:57 WIB

  Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Ada banyak benda kecil yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengisi daya, atau...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Coretan di Pinggir Halaman

Minggu, 10/5/26 | 20:05 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Perkembangan teknologi informasi membuat banyak aktivitas akademik menjadi lebih praktis. Laptop, tablet, dan berbagai...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Dari Niat ke Langkah Pagi

Minggu, 03/5/26 | 18:17 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Pagi bagi saya bukan ajakan yang mudah untuk segera bergerak, tetapi selalu memberi kesempatan...

Menemukan Waktu dalam Langkah

Menemukan Waktu dalam Langkah

Minggu, 19/4/26 | 20:43 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah) Dahulu, berjalan kaki bukanlah kebiasaan yang saya jalani secara utuh. Ia hanya menjadi cara berpindah...

Alasan Sederhana yang Tidak Pernah Sederhana

Minggu, 12/4/26 | 18:45 WIB

Salman Herbowo (Kolumnis Rubrik Renyah)   Potong rambut kerap dipandang sebagai kegiatan sederhana yang dilakukan sekadar untuk menjaga kerapian. Namun...

Suatu Hari di Sekolah

Memahami yang Tersisa, Merawat yang Bertahan

Minggu, 05/4/26 | 19:25 WIB

  Lastry Monika (Dosen Prodi Sastra Minangkabau FIB Unand/Kolumis Rubrik Renyah)   Tulisan sebelumnya mungkin berhenti pada satu kesan: bahwa...

Berita Sesudah

Smart Museum Sonobudoyo Yogyakarta

Discussion about this post

POPULER

  • Padati One Day With BTPN Syariah, Ratusan Pencaker di Padang Antusias Jadi Pemberdaya

    Padati One Day With BTPN Syariah, Ratusan Pencaker di Padang Antusias Jadi Pemberdaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kata Penghubung dan, serta, dan Tanda Baca Koma (,)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apakah Kata “bapak” dan “ibu” Harus Ditulis dalam Huruf Kapital ?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Se Indonesia, seIndonesia, atau se-Indonesia?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hubungan Sinonim Kata “Mempunyai” dan “Memiliki”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Aikoku Koushinkyoku”, Lagu Jepang Bersejarah di Sumatera Barat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Kata Ganti Orang Ketiga “Beliau”, “Dia”, dan “Ia” dalam Bahasa Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • BERITA
    • UTAMA
    • DAERAH
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
    • HUKUM
    • DESTINASI
    • HIBURAN
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2026