Rabu, 17/12/25 | 12:51 WIB
  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
Scientia Indonesia
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS
No Result
View All Result
Scientia Indonesia
No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
  • RENYAH
  • TIPS
Home LITERASI ARTIKEL

Problem Penyelenggaraan Wisuda pada Semua Jenjang Pendidikan

Minggu, 16/7/23 | 07:00 WIB

Oleh: Roma Kyo Kae Saniro
(Dosen Sastra Indonesia Universitas Andalas)

 

Beberapa waktu belakangan, akun Instagram Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Nadim Makarim, diserbu oleh masyarakat yang didominasi oleh para orang tua terkait penolakan budaya pelaksanaan wisuda pada semua jenjang Pendidikan, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. Perlu ditekankan bahwa yang menjadi masalah di sini adalah jenjang SD sampai dengan SMA yang dianggap tidak perlu adanya wisuda.

BACAJUGA

Penggambaran Perempuan Muda dalam Serial Hello, My Twenties! Season 1

The Day Before the Wedding (2023): Simbol Integral Kemerdekaan Perempuan

Minggu, 19/11/23 | 07:35 WIB
Penggambaran Perempuan Muda dalam Serial Hello, My Twenties! Season 1

Perempuan dan Kisah Tak Sampai pada “Gadis Kretek”

Minggu, 12/11/23 | 07:40 WIB

Wisuda adalah sebuah acara formal yang diadakan oleh institusi pendidikan, seperti universitas atau sekolah tinggi, untuk memperingati dan menghormati para siswa yang telah menyelesaikan pendidikan dan berhasil meraih gelar akademik. Acara ini biasanya dihadiri oleh lulusan, keluarga, dosen, dan staf pengajar.

Latar belakang tradisi wisuda dapat ditelusuri hingga zaman kuno. Pada zaman Romawi kuno, wisuda digunakan untuk memperingati pahlawan perang yang kembali dari medan pertempuran dengan mengenakan jubah khusus atau toga. Pada awalnya, toga belum berbentuk jubah. Dulu, toga hanya berbentuk 6 meter dengan cara penggunaan yang dililitkan di tubuh.

Jika dirujuk lebih jauh, kata toga berasal dari tego dalam bahasa Latin yang bermakna `penutup`. Toga ini pun yang dijadikan sebagai perlambangan makna kelulusan di seluruh dunia. Lalu, pada akhirnya, tradisi ini berkembang menjadi pengakuan formal terhadap prestasi akademik. Begitu pun pada wisuda modern memiliki beberapa tujuan utama. Pertama, wisuda memberikan pengakuan dan penghargaan formal kepada para lulusan atas upaya dan kerja keras yang telah mereka lakukan selama masa studi mereka. Ini adalah momen penting dalam kehidupan akademik mereka dan merupakan pencapaian yang patut dirayakan. Selain itu, wisuda juga memberikan kesempatan bagi lulusan untuk merayakan pencapaian mereka bersama keluarga, teman, dan anggota masyarakat lainnya yang terlibat dalam perjalanan pendidikan mereka. Ini adalah momen yang penuh emosi dan kebanggaan, di mana lulusan dapat berbagi kebahagiaan dan kesuksesan dengan orang-orang yang peduli dan mendukung mereka.

Wisuda juga memiliki nilai simbolis yang kuat. Melalui seremoni pengambilan ijazah, para lulusan secara resmi diakui sebagai bagian dari komunitas akademik dan menjadi bagian dari jaringan alumni yang lebih besar. Ini memberi mereka rasa identitas dan afiliasi dengan institusi pendidikan, serta menghubungkan mereka dengan alumni lain yang dapat membantu dalam jaringan karier dan peluang kerja di masa depan.

Dalam beberapa dekade terakhir, wisuda juga telah menjadi fenomena budaya yang lebih luas. Banyak keluarga dan teman-teman lulusan menganggap wisuda sebagai momen yang penting dalam kehidupan keluarga mereka, dan acara ini sering kali diperlakukan sebagai perayaan besar dengan dekorasi, foto, dan pesta.

Namun, hadirnya komentar yang menghiasi kolom komentar Nadiem Makarim membuat kita berpikir kembali terkait pentingkah wisuda dilaksanakan? Pertanyaan ini memunculkan pro dan kontra terkait dengan wisuda. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, wisuda adalah sebuah perayaan atas hal yang diusahakan dalam proses pendidikan. Hal tersebut memberikan kesempatan  bagi para lulusan, keluarga, dan teman-teman untuk merayakan pencapaian akademik yang telah diraih dengan cara yang formal dan spesial. Lalu, wisuda dapat dimaknai sebagai bentuk pengakuan dan apresiasi dari institusi pendidikan terhadap kesuksesan akademik mahasiswa. Wisuda memberikan rasa bangga dan kepuasan kepada lulusan atas usaha dan kerja keras yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Tidak hanya itu, wisuda pun dapat memberikan peluang untuk dapat berkenalan dan memulai jejaring untuk berkolaborasi di masa depan.

Namun, kontra terkait wisuda adalah biaya yang semestinya dapat digunakan untuk hal prioritas lainnya. Selain itu, wisuda dan atributnya pun kadang menggunakan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan. Penyelenggaraan wisuda akan membuat macet dan padat jalan tempat wisuda. Hal yang paling ditekankan oleh orang tua adalah biaya wisuda dan rangkaian acara yang mengikutinya, seperti tour, tempat di hotel, dan perlengkapan wisuda lain yang menghabiskan banyak biaya.

Beberapa masyarakat berpendapat bahwa wisuda TK sampai dengan SMA tidak perlu dilakukan karena hal tersebut tidak terlalu besar pencapaiannya seperti wisuda perguruan tinggi. Kita pun akan berpikir jika semua jenjang pendidikan wajib wisuda, apakah semua orang tua sudah sepakat dan berkenan membayar rincian biaya yang lumayan banyak. Terlebih lagi, jika wisuda dilaksanakan di gedung mewah.

Hal ini semestinya kembali pada kesepakatan orang tua dan pihak sekolah. Kedua pihak harus menemukan kesepakatan bersama karena beda sekolah akan berbeda kesepakatan. Hal yang disalahkan apabila sekolah memaksakan wisuda kepada semua siswa dengan berbagai rincian dana yang tidak semua orang tua sanggup membayar. Oleh sebab itu, wisuda adalah pilihan dan tidak harus dilaksanakan di hotel, di gedung mewah, atau menggunakan atribut dan hal lainnya yang memungkinkan adanya ketimpangan sosial antarsiswa di sekolah.

Tags: #Roma Kyo Kae Saniro
ShareTweetShareSend
Berita Sebelum

Manfaat Buku bagi Anak di Bawah Usia Tiga Tahun

Berita Sesudah

Frasa “Perubahan Iklim” pada Media Massa Daring

Berita Terkait

Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

Senin, 15/12/25 | 07:14 WIB

Oleh: Ridho Athallah (Mahasiswa MKWK Bahasa Indonesia dan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Andalas)     Perkembangan teknologi digital telah mengakibatkan transformasi...

Kebohongan dan Manipulasi Tanda dalam Film Keadilan (The Verdict): Analisis Semiotika Forensik

Kebohongan dan Manipulasi Tanda dalam Film Keadilan (The Verdict): Analisis Semiotika Forensik

Senin, 15/12/25 | 06:29 WIB

Oleh: Reno Novita Sari, Ike Revita, Fajri Usman, dan Sawirman (Mahasiswa dan Dosen Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya,...

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Perubahan Makna Cerita Rakyat di Era Digital

Senin, 15/12/25 | 06:15 WIB

Oleh: Andina Meutia Hawa (Dosen di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)   “Wah, ternyata dia nyata,...

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Kritik Feminis dan Gender dalam Cerpen “Maria” Karya A.A Navis

Minggu, 07/12/25 | 16:20 WIB

Oleh: Nikicha Myomi Chairanti (Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas)   Cerpen "Maria" (1999) karya A.A. Navis menghadirkan dialog dan...

Keterlibatan TNI dalam Program MBG: Kebijakan Tepat atau Alasan Politik?

Keterlibatan TNI dalam Program MBG: Kebijakan Tepat atau Alasan Politik?

Minggu, 07/12/25 | 16:00 WIB

  Oleh: Derry Sanjaya (Mahasiswa Departemen Adminsitrasi Publik Universitas Andalas) Badan Gizi Nasional (BGN) dibentuk untuk menjadi lembaga pusat yang...

Hari Guru dan Tantangan Mendidik Generasi Alpha

Hari Guru dan Tantangan Mendidik Generasi Alpha

Kamis, 04/12/25 | 14:27 WIB

Hari Guru dan Tantangan Mendidik Generasi Alpha Oleh : Fatma Hayati, M.Pd November menjadi bulan yang istimewa bagi hampir seluruh...

Berita Sesudah
Metafora “Paradise” dalam Wacana Pariwisata

Frasa “Perubahan Iklim” pada Media Massa Daring

Discussion about this post

POPULER

  • Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    Dampak Kecerdasan Buatan (AI) bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indikasi Kelalaian Ditemukan di Limbah PT DL, Masyarakat Desak Pihak Berwenang Tuntaskan Kasus dan Tak “Main Mata”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Abdurrachman Syafiq dan Detik-detik yang Menguji Nyawa di Banjir Bandang Palembayan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Warga Amankan Sampel Limbah Diduga Bocor dari PT Dharmasraya Lestarindo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dugaan Perilaku Asusila Oknum Guru ASN, Donizar Desak Kadisdik Sumbar Lakukan Pemberhentikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puisi-puisi Muhammad Ari Wibowo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mahasiswa Seni Rupa UNP Gelar Pameran “Ilia Mudiak”, Hadirkan Dialog Hulu-Hilir Seni Rupa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Scientia Indonesia

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024

Navigate Site

  • Dapur Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

No Result
View All Result
  • TERAS
  • EKONOMI
  • HUKUM
  • POLITIK
  • DAERAH
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • LITERASI
    • ARTIKEL
    • CERPEN
    • KLINIK BAHASA
    • KREATIKA
    • PUISI
  • RENYAH
  • TIPS

PT. SCIENTIA INSAN CITA INDONESIA 2024